Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama

Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama

Dalam membahas soal perantauan atau mungkin berada jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama, saya sebenernya punya cukup banyak yang cerita… Saya pernah ikut perkemahan khusus remaja selama 1 minggu, ke Turki selama 1 bulan, ikut pelatihan leadership khusus perempuan selama 2 minggu di Bali, hingga volunteering di Raja Ampat selama 2 bulan. Semuanya begitu berkesan dan nggak bisa saya lupakan begitu saja. Di postingan blog ini, secara khusus saya akan menceritakan bagaimana saya pertama kalinya berada jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama.

Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Gölcük, Kocaeli, Turki. Januari 2011.

Turki adalah negara pertama yang capnya mengisi buku paspor pertama saya. Ketika kebanyakan orang Indonesia memilih Malaysia dan/atau Singapura sebagai negara pertama yang mereka kunjungi ketika memiliki paspor, saya malah pergi ke Turki. Bisa dibilang, perjalanan ke Turki tersebut adalah sebuah ketidaksengajaan tapi juga takdir.

Saya sendiri sudah pernah membahas soal tinggal di Turki di beberapa postingan blog:

  1. https://thejournale.com/pergi-sendiri-pertama-kali/
  2. https://thejournale.com/cerita-indomie-dan-mengisi-perut-di-rumah-turki/
  3. https://thejournale.com/antara-saya-turki-dan-indonesia-2/ (di mana postingan ini memenangkan lomba blog Wego :”D)

Sayangnya, foto-foto yang ada di ketiga postingan blog tersebut crash atau corrupted, jadi nggak bisa terlihat jelas. Dan jika kamu belum pernah membaca postingan blog lama saya, kamu pasti bisa deh menemukan perbedaan gaya bahasa yang jelas di ketiga postingan blog tersebut dibandingkan gaya bahasa saya yang sekarang. Hehehe…

Di tahun pertama kuliah di UI, saya iseng mendaftar AIESEC di mana menurut Wikipedia, AIESEC adalah organisasi internasional untuk para pemuda yang membantu mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. Di AIESEC, kita bisa aktif mengikuti kegiatan organisasi dan/atau mengikuti program exchange student yang diadakan. Sebagai mahasiswi yang punya rasa keingintahuan yang tinggi dan selalu penasaran dengan program pertukaran pelajaran apapun, saya pun memutuskan mengikuti kegiatan yang kedua.

Singkat cerita, saya membuat paspor pertama pada Desember 2010 dan berangkat ke Turki pada Januari 2011 untuk mengikuti homestay di sana selama kurang lebih 1 bulan. Program AIESEC ini biasanya berlangsung minimal 6 minggu, tapi karena paspor saya selesainya mepet banget, jadi saya hanya bisa mengikuti programnya selama 1 bulan supaya nggak perlu repot-repot izin di hari-hari pertama semester baru kuliah. Program yang saya ikuti di sana juga cukup inspiratif, saya membantu menemani dan mengajar para siswa-siswi penyandang disabilitas di Turki, tepatnya di kota Kocaeli.

Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Ketika mengajar dan bermain bersama adik-adik penyandang disabilitas di Kocaeli, Turki, pada Januari 2011

Sebagai seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdarah Tionghoa dan beragama non-muslim, keluarga yang menerima saya homestay atau yang biasa disebut host family, cukup terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Indonesia bukanlah sebuah negara Islam. Yang mereka tahu selama ini, Indonesia adalah sebuah negara Islam. Terlebih karena host family saya adalah keluarga muslim yang sangat religius di mana host dad atau yang saya panggil Baba (berarti Ayah dalam Bahasa Turki) bekerja sebagai Imam atau pemimpin agama. Anne (ibu), beserta kakak-beradik host family saya semuanya menggunakan jilbab. Mereka terkejut sekaligus senang. Host family saya menerima saya dengan tangan terbuka. Mereka adalah keluarga Doğan yang tinggal di kota kecil bernama Gölcük di Kocaeli, Turki. 🙂

Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Paman, Baba, dan kakak perempuan dari keluarga Doğan. 🙂
Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Adik perempuan dari host family saya yang bernama Sümeyye Doğan. Karena ia mendaftar program untuk menjadi host family lah kami bisa bertemu. 🙂
Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Bersama Anne dan Baba. 🙂

Berada di Turki selama 1 bulan dan tinggal bersama sebuah keluarga Islam yang amat religius membuka mata dan pikiran saya. Sebagai seorang non-muslim yang nggak tahu banyak soal agama Islam, saya sedikit banyak belajar menghargai dan memahami perbedaan–soal toleransi dan solidaritas. Mereka memperlakukan saya seperti keluarga kandung dan saya amat menyayangi mereka semua. Saya nggak bisa lupa betapa sedihnya saya waktu harus pulang ke Indonesia. Pertama kalinya berada jauh dari rumah dalam waktu lama cukup membuat saya gugup, tapi ternyata saya mendapatkan banyak sekali pengalaman serta pengalaman hidup terbaik.

Sekali-kalinya saya berada 1 bulan jauh dari rumah ya di Turki ini dan kenyataan bahwa Turki adalah negara pertama yang saya kunjungi ketika baru punya paspor… masih nggak percaya sebenernya sampai sekarang. Pengalaman yang benar-benar nggak bisa saya lupakan dan nggak ternilai harganya. Sampai sekarang pun, saya bersyukur karena kami nggak putus kontak sekalipun kami belum bertemu lagi. Untung banget ada media sosial seperti Instagram.

Pertama Kali Jauh dari Rumah dalam Waktu Lama
Istanbul, Januari 2011.

Turki akan selalu menjadi negara yang saya anggap rumah hingga saat ini, terutama karena saya memiliki host family yang begitu baik di sana. Saya rindu sekali dengan keluarga Doğan dan nggak terasa banget sudah 9,5 tahun berlalu sejak saya ke sana. Semoga nasib baik bisa mempertemukan kami kembali. 🙂

nb. Saya ingin sekali menuliskan lebih banyak cerita soal Turki, semoga bisa segera. 😀

Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TheJournale