Antara Saya, Turki, dan Indonesia

Ketika berbicara tentang nasionalisme, saya sering mempertanyakan ke-Indonesia-an saya. Sebagai seorang anak perempuan yang lahir di Jakarta dari keluarga Indonesia keturunan Tionghoa, saya sering bingung ketika ditanya orang mana. Pertanyaan “Kamu orang mana?” sudah terlalu sering saya dengar. Dengan wajah oriental yang saya miliki, saya lebih sering menjawab bahwa saya orang Palembang, terlebih karena Mama lahir dan besar di Palembang. Sementara itu, nggak banyak yang tahu bahwa Papa saya keturunan Medan dan Aceh, meskipun salah satu nenek Papa berasal dari Jawa. Beberapa kali ‘pulang kampung’ ke Palembang, saya diam-diam ingin sekali pergi ke Aceh dan Medan, mengetahui lebih banyak tentang diri saya sendiri dan keluarga. Akan tetapi, sebelum saya ke sana, Turki telah lebih dulu ‘membantu’ saya memahami nasionalisme serta ke-Indonesia-an saya.

Blue Mosque, Turki.
Blue Mosque, Turki.

Mungkin kamu sudah terlalu sering mendengar nama Blue Mosque di Kota Istanbul, Turki, yang begitu tersohor. Empat tahun yang lalu, ketika saya menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan di Turki, tepatnya di Kota Kocaeli yang sering saya samakan sebagai kota satelit, seperti Kota Tangerang, saya hanya sempat mengunjungi Blue Mosque sebanyak satu kali, dan karena baterai kamera saya waktu itu telah habis, waktu itu saya hanya bisa memotretnya dengan ponsel Blackberry yang kini sudah rusak. Blue Mosque sendiri hanyalah satu di antara banyak tempat wisata terkenal yang ada di Turki.

Saya ingat betul bagaimana saya nggak tahu apa-apa tentang Turki sebelum berangkat ke sana. Walaupun saya telah membeli buku panduan Lonely Planet yang berjudul “Turkey” sebelum berangkat, saya nggak membacanya sama sekali dan akhirnya sedikit menyesal karena saya kurang menghargai perjalanan saya selama di sana. Meski demikian, ternyata ‘kurangnya jalan-jalan’ selama di Turki akhirnya membuat saya lebih memaknai nasionalisme dan ke-Indonesia-an saya sendiri.

Saya dan keluarga angkat kedua di Turki.
Saya dan keluarga angkat kedua di Turki.

Waktu pertama saya tiba di rumah Doğan, keluarga yang bersedia menjadi keluarga angkat saya selama berada di Kocaeli, saya ingat bagaimana saya disambut dengan begitu antusias. Awalnya keluarga Doğan bingung karena saya ternyata berwajah oriental dan muncul tanpa hijab. Berprofesi sebagai imam di masjid dekat rumah, ayah angkat saya, istri, serta anak-anaknya selama ini memahami Indonesia sebagai sebuah negara Islam. Yang mereka tahu, Indonesia adalah sebuah negara yang penduduknya beragama Islam, berbeda sekali dengan mereka yang tinggal di sebuah negara sekuler. Sambil tersenyum, akhirnya saya menjelaskan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki 6 agama yang diakui, salah satunya agama Islam. Saya pun juga menjelaskan, bagaimana saya merupakan orang Indonesia keturunan Tionghoa yang bukan beragama Islam, melainkan beragama Katolik. Keheranan keluarga Doğan yang simpel pada akhirnya membuat saya menyadari bagaimana pandangan orang-orang di negara lain terhadap Indonesia begitu beragam. Apalagi, saat saya ke Turki, itulah kali pertama saya pergi ke luar negeri, dan saya menghabiskan waktu yang cukup lama di sana. Dan untuk pertama kali, saya merasa menjadi ‘duta negara Indonesia’ yang harus selalu berusaha menjawab rasa ingin tahu orang-orang yang belum begitu memahami Indonesia.

Saya dan adik angkat saya, Sümeyye.
Saya dan adik angkat saya, Sümeyye.

Tinggal di Indonesia, negara yang penuh keragaman, akhirnya membuat saya merasa beruntung menjadi orang Indonesia. Kita bebas memilih kepercayaan kita sendiri, mengungkapkan identitas kita sendiri, meski terkadang tetap saja ada bentrokan yang nggak bisa dihindari. Seenggaknya, di Indonesia, para siswi yang menggunakan hijab nggak harus melepas hijabnya ketika pergi ke sekolah, seperti yang dirasakan oleh adik angkat saya di Kocaeli, yaitu Sümeyye. Beberapa kali ikut Sümeyye ke sekolah, saya nggak akan pernah bisa lupa ekspresi kekesalannya karena harus melepas hijab setelah turun dari bus sekolah.

Merayakan Imlek bersama mahasiswa-mahasiswi Cina dan Taiwan di Kocaeli, Turki.
Merayakan Imlek bersama mahasiswa-mahasiswi Cina dan Taiwan di Kocaeli, Turki.

Masalah kebebasan memilih agama dan kepercayaan hanyalah sebagian kecil pengalaman di Turki yang akhirnya membuat saya menyadari bahwa saya nggak akan bisa melepaskan ke-Indonesia-an saya ke manapun saya pergi. Bertemu dengan beberapa mahasiswa dari Cina dan Taiwan serta sempat merayakan Imlek bersama-sama dengan mereka, saya sadar bagaimana saya rindu merayakan Imlek di Indonesia, terutama dengan makan rendang di rumah nenek. Juga dekorasi-dekorasi mal di Jakarta yang selalu berubah, mengikuti hari raya yang akan tiba. Semua itu hanya ada di Indonesia.

Saya saat acara budaya di Istanbul, Turki.
Saya saat acara budaya di Istanbul, Turki.

Pada akhirnya, pergi ke Turki membuat saya menyadari betapa beruntungnya saya menjadi orang Indonesia. Sesimpel mensyukuri panasnya Indonesia karena nggak punya musim dingin, sehingga saya nggak akan pernah meler dan flu selama berhari-hari. Di Indonesia, saya bisa sesuka hati memilih waktu untuk mencoklatkan kulit juga memilih tempat menyelam atau berlibur.

Saya sungguh beruntung menjadi orang Indonesia.

~

Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia

Written by
Sefin
TheJournale