Melihat Bokong Bekantan yang Seksi di Pulau Kaget

Siapa yang sudah pernah ke Dufan? Ayo ngacung! Jika kamu sudah pernah main ke Dufan, Ancol, tentu kamu sudah nggak asing lagi dengan maskotnya, yaitu bekantan. Seringkali disebut sebagai ‘monyet Belanda’ karena hidungnya yang besar dan panjang, bekantan merupakan jenis monyet asli Kalimantan. Umumnya tinggal hutan bakau, rawa, dan hutan pantai, perjalanan #Terios7Wonders pun dilanjutkan dengan menuju ke Wonder 2, yaitu Pulau Kaget, untuk mengunjungi monyet ‘mancung’ ini. Bagi saya yang belum pernah melihat bekantan asli (yang bukan badut) secara langsung, perjalanan menuju Wonder 2 cukup bikin girang dan riang bukan kepalang.

Untuk bisa ke Pulau Kaget, kami pun transit terlebih dahulu di Desa Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Perjalanan ini pun melanjutkan perjalanan kami yang sebelumnya, yaitu setelah kami puas melihat orangutan di Taman Nasional Sebangau dan makan Lontong Orari khas Banjarmasin yang begitu lezat. Di Desa Aluh-Aluh inilah, rombongan #Terios7Wonders kemudian naik kapal motor yang biasa disebut “klotok” untuk bisa tiba di Pulau Kaget demi melihat langsung bekantan yang ‘mancung’ lewat Sungai Barito.

Perkampungan di sekitar dermaga menuju ke Pulau Kaget.
Perkampungan di sekitar dermaga menuju ke Pulau Kaget.
Aktivitas di sekitar dermaga menuju ke Pulau Kaget.
Aktivitas di sekitar dermaga menuju ke Pulau Kaget.

Setelah naik klotok selama kurang lebih 20 menit, kami pun akhirnya bisa melihat sisi terluar dari Pulau Kaget. Perlu diketahui, Pulau Kaget sendiri merupakan sebuah cagar alam yang terbentuk dari endapan lumpur muara Sungai Barito. Dengan berbagai pepohonan lebat yang dimilikinya, ada cukup banyak tanaman bakau yang tumbuh di Pulau Kaget.

Saat kami melihat Pulau Kaget dari luar, kami pun bisa melihat dengan jelas ada banyak monyet yang berkeliaran. Sebagai seseorang yang ber-shio monyet, saya pun sedikit tergerak untuk melakukan interaksi dengan saudara-saudara saya itu. Hehehe… Meskipun ada banyak sekali monyet, ternyata melihat seekor bekantan pun sama sekali nggak mudah… hingga akhirnya… kami melihat bokong seekor bekantan yang begitu seksi!!! Dengan heboh, kami berteriak-teriak kegirangan setelah berhasil melihat seekor bekantan dengan bokongnya yang seksi. Sayangnya, karena suara berisik kami, si bekantan-bokong-seksi itu kemudian kabur dan nggak muncul-muncul lagi. Kemunculan si bekantan-bokong-seksi yang begitu tiba-tiba pun akhirnya membuat saya terkejut alias kaget. Saya pun akhirnya sama sekali nggak merasa heran mengapa pulau kecil yang nggak dihuni manusia tersebut dinamai Pulau Kaget. 😛

Tim ekspedisi #Terios7Wonders (ceileh) dalam perjalanan ke Pulau Kaget.
Tim ekspedisi #Terios7Wonders (ceileh) dalam perjalanan ke Pulau Kaget.
Ini dia, Pulau Kaget-nya!
Ini dia, Pulau Kaget-nya!
Ternyata melihat bekantan langsung nggak mudah, jadinya kebagian lihat bokongnya saja, deh. - Foto: Wira Nurmansyah.
Ternyata melihat bekantan langsung nggak mudah, jadinya kebagian lihat bokongnya saja, deh. – Foto: Wira Nurmansyah.
Monyet-monyet lucu di Pulau Kaget.
Monyet-monyet lucu di Pulau Kaget.

Sesudah melihat bekantan-bokong-seksi, beberapa di antara kami pun memutuskan turun dari klotok demi melihat bekantan-bekantan lain lebih dekat, termasuk saya. Untuk bisa masuk ke area Pulau Kaget ternyata nggak mudah sama sekali karena kami harus melewati genangan lumpur pekat yang membuat sekujur tubuh kami belepotan. Setelah kaki saya biru-biru karena jatuh terjerembab beberapa kali di Taman Nasional Sebangau, di Pulau Kaget pun saya harus merelakan kaki saya dipenuhi lumpur yang cukup bau dan sempat bikin kaki beberapa teman gatal-gatal (untungnya saya nggak).

Nge-lumpur demi lihat bekantan.
Nge-lumpur demi lihat bekantan.
Foto kaki biru-biru saya yang kini penuh lumpur.
Foto kaki biru-biru saya yang kini penuh lumpur.

Sedihnya, meskipun kami sudah turun dan belepotan lumpur, kami masih nggak berhasil melihat bekantan-bekantan lain. Yang penting, akhirnya saya berhasil melihat bekantan-bokong-seksi untuk pertama kalinya, deh! Oh iya, menurut orang lokal, jika kamu ingin melihat bekantan, waktu idealnya adalah di pagi hari (sekitar pukul 7 pagi) atau di sore hari (sekitar pukul 4 sore). Waktu itu sih, kami agak kesiangan karena baru tiba sekitar pukul 9. Jadi, ya wajar saja kami agak sulit menemukan bekantan.

Walaupun nggak berhasil lihat bekantan, yang penting berhasil foto-foto. :P
Walaupun nggak berhasil lihat bekantan, yang penting berhasil foto-foto. 😛

Dan jika kamu bertanya-tanya bagaimana Pulau Kaget dirawat dan dijaga, menurut Pak Kursani, Ketua RT 04 Desa Aluh-Aluh, ternyata ada Polisi Hutan dari Kementerian Kehutanan yang rajin patroli di sekitar pulau, lho. Jadi, kita nggak perlu khawatir lagi akan pelestarian bekantan dan monyet yang menghuni Pulau Kaget. Pak Kursani pun sempat menambahkan bahwa sayangnya masih sedikit sekali orang yang berkunjung ke Pulau Kaget karena banyak yang belum tahu bahwa di pulau kecil tersebut ada bekantan serta monyet yang dilindungi. Beliau berharap semoga ke depannya akan ada lebih banyak pengunjung yang datang ke Pulau Kaget. Semoga saja ya, Pak! ^^

Foto bersama dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Postingan ini merupakan catatan perjalanan #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure”. Totalnya ada 14 postingan yang bisa kamu baca. Berikut urutannya (dari awal hingga akhir perjalanan):

  1. Mimpi yang Menjadi Kenyataan: Menjelajah Kalimantan
  2. Road Trip untuk Menjelajah Kalimantan Resmi Dimulai!
  3. Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan
  4. Menggoyang Lidah dengan Lontong Orari yang Nikmat
  5. Melihat Bokong Bekantan yang Seksi di Pulau Kaget -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  6. Kecantikan Anggrek Kalimantan di Tengah Petang
  7. Menerobos Kabut Asap Demi Melihat Kerbau Rawa yang Montok
  8. Udang Rasa Susu? Hanya di Rumah Makan Paliat!
  9. Mampir ke Sarangnya Buaya Kalimantan di Teritip
  10. Berbagi di Desa Loa Janan Timur
  11. Mengenal Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang
  12. Berpelukan dengan Pohon Ulin Raksasa di Taman Nasional Kutai
  13. Mengakhiri Perjalanan Menjelajah Kalimantan di Kepulauan Derawan
  14. Mengenang Perjalanan Menjelajah Kalimantan (tulisan dan video)
Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

8 comments
The Journale