My Happiness Project: 3. Uang

My Happiness Project: 3. Uang

Untuk banyak orang, uang merupakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Saat duduk di bangku sekolah, kita hanya diberitahu untuk rajin menabung–“Hemat pangkal kaya”, katanya. Bahwa kita nggak boleh boros dan mencari uang itu sulit. Sedikit banyak saya setuju, tapi ada beberapa pandangan pribadi saya tentang uang yang ingin saya ceritakan di tulisan ke-3 “My Happiness Project” ini.

Pada tulisan sebelumnya, saya pernah bercerita tentang bagaimana pertama kalinya saya kehilangan uang. Sejak kejadian tersebut, saya takut sekali kehilangan uang. Tapi ya… hidup kan nggak bisa diprediksi, kita mungkin bisa kerja keras bagai kuda untuk mencari uang, tapi uang bisa hilang dalam sekejap mata–bahkan dalam satu tarikan napas. Uang kita bisa hilang karena kita kalap belanja, dicuri, ditipu orang atau bahkan jatuh di tengah jalan. Nggak ada yang pernah tahu.

Sejak Papa sakit di tahun 2007 lalu berhenti kerja di tahun 2009, hidup keluarga saya yang sebelumnya serba berkecukupan perlahan berubah. Ternyata uang bisa hilang karena munculnya penyakit. Saya pun memutuskan untuk kuliah di universitas negeri karena saya tahu biayanya lebih murah–sementara teman-teman saya memilih universitas swasta dekat rumah yang biaya kuliah per semesternya mulai dari belasan hingga puluhan juta. Saya beruntung karena saya bisa diterima untuk menjadi mahasiswa di UI karena nasib bisa saja menentukan saya untuk nggak kuliah.

Saya ingat betul, dulu Papa dan Mama begitu was-was ketika saya memutuskan untuk nggak mendaftar di universitas swasta manapun sebagai kampus cadangan. Mereka takut saya nggak bisa kuliah jika hanya mengandalkan universitas negeri sebagai pilihan. Sejujurnya saya juga sangat takut saat itu, tapi saya dengan gampangnya bilang ke Papa Mama bahwa jika memang nggak diterima, saya bisa bekerja atau magang dulu dan mencoba ikut tes masuk lagi di tahun berikutnya.

Kira-kira waktu saya duduk di bangku kelas 4 SD, untuk pertama kalinya saya belajar mencatat pengeluaran bulanan dari Mama. Berbekal sebuah buku tulis Doraemon, saya belajar cara membuat tabel pengeluaran tiap bulan dimana saya mencatat semua transaksi yang saya lakukan; mulai dari membeli nasi kuning seharga Rp 1.500,- di sekolah hingga membeli alat tulis.

Saat kelas 5 SD, saya sempat berjualan gantungan kunci berbentuk bola kepada teman-teman sekelas. Saya belajar mencari uang. Saya agak lupa motivasinya apa, tapi saya belajar bahwa mencari uang memang nggak mudah. Di tahun berikutnya, tahun 2004, untuk pertama kalinya saya memperoleh honor tulisan. Cerpen anak pertama saya dimuat di Kompas Anak dan kalo nggak salah saya mendapatkan Rp 200.000,- via weselpos.

Dalam beberapa tahun sejak , saya belajar mencari uang dengan dengan menulis cerita fiksi. Honornya kira-kira 200-300ribu rupiah. Beberapa kali saya memperlihatkan cerpen-cerpen saya yang dimuat di majalah KawanKu, Hai, dsb… Teman-teman sekolah mungkin ada yang iri, melihat saya bisa memperoleh uang sendiri di usia belasan tahun, tapi mereka nggak tahu betapa banyaknya tulisan fiksi yang nggak dimuat daripada yang dimuat. 🙂

Sedari kecil, Mama sudah terbiasa mengajarkan saya bahwa nggak ada yang bisa diperoleh dengan mudah atau bisa dibilang: “Semua hal butuh usaha”. Ketika saya ingin membeli hp Nokia 3200 di bangku SMP, saya ingat bagaimana saya diajari untuk mencicil hp tersebut dengan uang jajan yang diberikan Papa Mama setiap bulan. Dulu saya sempat sebal juga karena dengan uang yang nggak seberapa, saya harus nyicil hp sendiri sementara teman-teman saya bisa gonta-ganti hp dengan minta ke orang tua mereka dengan mudah. Hehehe… Tapi pada akhirnya, saya mendapatkan kepuasan tersendiri dengan mencicil hp tersebut.

Tinggal di rumah yang cukup besar, keluarga kami seringkali dicap sebagai keluarga yang kaya dan punya banyak uang. Tapi yang jelas, sejak tahun 2009, kami hidup bergantung pada tabungan. Papa sakit dan nggak punya asuransi. Kami beruntung sekali ada BPJS yang sangat membantu sejak BPJS pertama kali hadir. Entah sudah berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan–atau mungkin kami sudah nggak punya rumah karena harus membayar biaya pengobatan Papa jika nggak ada BPJS.

Pengalaman Papa sakit selama kurang lebih 12 tahun menjadi tamparan yang cukup kuat bagi keluarga. Kami kehilangan sosok ayah sekaligus tulang punggung keluarga. Mama yang telah menjadi ibu rumah tangga sejak saya berada di dalam kandungan harus menanggung beban sebagai kepala keluarga dan merawat keluarga. Uang menjadi salah satu isu utama yang begitu sensitif.

Jujur saja, dulu saya nggak terlalu mengerti masalah uang yang ada di keluarga kami. Karena saat saya kuliah, Mama masih memberikan uang saku untuk biaya hidup sebagai anak kost di Depok. Pada awal kuliah, saya sempat ngekost dengan biaya sekitar 600ribu rupiah per bulan, hingga akhirnya saya pindah ke sebuah asrama Katolik dengan biaya 400ribu rupiah per bulan. Waktu awal-awal ngekost, saya sempat berhemat banget… saya hanya makan nasi putih dengan gorengan tahu-tempe plus sambal: Rp 5.000,- lalu Mama menasehati saya bahwa saya nggak boleh hemat-hemat banget karena saya harus tetap menjaga kesehatan.

Saya nggak akan cerita terlalu banyak soal kehidupan saya semasa kuliah dan kerja di sini, tapi selama beberapa tahun belakangan, saya makin menyadari bahwa mencari uang memang nggak mudah. Mungkin hal ini agak bertentangan dengan “Abundance Mindset” yang saya pelajari beberapa waktu lalu–bagaimana ada keberlimpahan yang nggak terbatas di semesta ini, yang bisa kita dapatkan jika kita cukup yakin dan percaya.

Akan tetapi, dari sakitnya Papa selama 12 tahun, saya belajar bahwa ternyata waktu dan kesehatan lebih berharga daripada uang. Dulu Papa bekerja keras pagi-siang-malam untuk membangun bisnis a, b, c, dsb, tapi akhirnya Papa ‘dikalahkan’ oleh sakitnya yang kemungkinan besar berasal dari stres. Anggota-anggota keluarga kami (termasuk saya) yang nggak pernah benar-benar dekat dengan satu sama lain, cenderung tertutup dan nggak terbiasa bercerita, pelan-pelan jadi mulai terbuka karena kami nggak mau seperti Papa. Mungkin benar kata orang, itulah gunanya keluarga: untuk menjadi tempat kita berpegang satu sama lain. Untuk saling menguatkan.

Saya dan adik-adik juga belajar dari pengalaman Papa Mama dan mungkin orang-orang yang kami kenal, bagaimana uang bisa menghancurkan hubungan apapun… sehingga buat saya sekarang, uang nggak bisa dijadikan ukuran untuk kebahagiaan. Bahagia bagi saya adalah ketika kami bisa makan bersama sambil mengobrol–apapun makanannya. Momen-momen kebersamaan dengan keluarga benar-benar nggak bisa tergantikan. Dan sejak Papa meninggal dunia, yang saya ingat bukan berapa jumlah uang yang Papa hasilkan selama hidupnya atau semahal apa hadiah-hadiah yang pernah Beliau belikan, melainkan momen-momen kebersamaan keluarga kami.

Saya pun melihat ke sekeliling, bagaimana saya memiliki banyak teman yang hidup berkelimpahan–bahkan penghasilan mereka bisa mencapai ratusan juta per bulan, tapi mereka bilang mereka nggak bahagia. Dengan pikiran sempit, saya bisa bilang bahwa mereka yang berpenghasilan besar nggak bisa bahagia karena mereka nggak bisa mengatur keuangan mereka… tapi menurut saya, pendapat ini nggak pas sama sekali. Pada akhirnya, di masa pandemi Covid-19 ini, ketika penghasilan berkurang banyak, saya menyadari bahwa saya bisa merasa bahagia ketika saya merasa cukup.

Selama ini, saya sering menghabiskan uang untuk berbelanja karena saya nggak pernah merasa cukup. Sesimpel membeli baju, seringkali orang bilang bahwa perempuan selalu merasa nggak punya baju, padahal baju yang dimilikinya ada satu lemari penuh. Saya pikir, ini benar juga, tapi nggak bisa distereotipkan pada perempuan saja, karena siapapun bisa mengalaminya… saat mengoleksi tas, sepatu, mainan, dsb.

Ketika memikirkan konsep kecukupan ini, saya akhirnya menyadari bahwa sekaya apapun saya kelak, betapapun banyak uang yang saya miliki nantinya, jika saya nggak pernah merasa cukup, saya nggak akan pernah bahagia. Saya lega sekali karena saya bisa mengalami aha moment ini dan saya benar-benar bisa mulai berhenti berbelanja secara impulsif. 🙂 Mungkin kedengarannya sepele, tapi saya sudah mulai merasa cukup dengan segala sesuatu yang saya miliki. Saya bersyukur.

Written by
Sefin
TheJournale