My Happiness Project: 2. Kehilangan dan Kematian

My Happiness Project: 2. Kehilangan dan Kematian

Pada tulisan ke-2 “My Happiness Project”, saya akan bercerita tentang dua hal yang sudah lama sekali saya ingin tuliskan; persoalan kehilangan dan kematian. Bagaimana selama hidup 28 tahun 1 bulan 16 hari di dunia ini, saya telah banyak sekali bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan keduanya dan masih sulit memahami.

Saya adalah orang yang memiliki kemelekatan tinggi pada apapun, mungkin karena saya egois dan egosentris. Banyak sekali hal atau bahkan pribadi yang saya anggap sebagai ‘milik’ saya.

Pengalaman kehilangan pertama yang saya ingat terjadi ketika saya kira-kira kelas 3 SD, saya memiliki sebuah jam tangan Hello Kitty asli Sanrio yang saat itu sangat mahal; kalo nggak salah pemberian teman Papa. Jam tangan itu selalu saya bawa ke manapun hingga akhirnya ia hilang entah ke mana. Saya ingat betul, bagaimana saya sering bermimpi tentang jam tangan itu—mungkin hingga saya SMA. Pengalaman yang cukup sepele tapi memberikan trauma bagi saya. Sampai sekarang, saya sering bertanya-tanya… apakah kejadian ini benar terjadi ataukah hanya ada di mimpi saya?

Kejadian lainnya terjadi saat saya menonton film “Chicken Run” di bioskop bersama keluarga. Waktu itu, saya yang kira-kira berusia 8/9 tahun ngotot mau membawa tas slempang kecil berbahan denim dengan bordiran bunga. Tas tersebut saya gunakan saat Imlek dimana saya menyimpan angpao-angpao pemberian orang tua, sanak saudara, juga teman-teman Papa Mama—jumlahnya kira-kira 200/300ribu rupiah. Banyak sekali saat itu.

Sebelum film dimulai, saya diajak Papa membeli hotdog. Cerobohnya, saya meninggalkan tas itu di bangku begitu saja, tanpa pikiran bahwa tas kecil saya itu bisa diambil orang. Dan benar saja, selesai membeli hotdog, tas kecil saya telah lenyap. Saya syok berat. Bagaimana nggak, sebagai seorang anak SD, untuk pertama kalinya saya kehilangan banyak uang. Saya pun nggak bisa menonton film dengan fokus. Pulang dari bioskop, sesampainya kami di rumah, saya langsung muntah-muntah. Saya ingat bagaimana Papa membalurkan minyak kayu putih di tubuh saya, supaya saya bisa tidur nyenyak setelah muntah-muntah dan menangis.

Lalu di tahun 2004, saya mengalami kehilangan dalam bentuk kematian pertama. Nenek saya meninggal—ibu dari Mama. Kami sekeluarga terbang ke Palembang untuk upacara pemakaman. Sampai sekarang, memori akan Ama; begitu saya memanggilnya, masih teringat jelas. Ama senang mengenakan daster batik di rumah. Saat pergi keluar rumah, Ama senang mengenakan setelan (atasan lengan pendek dan celana panjang). Khas sekali. Ama gemar tertawa. Dulu saya senang sekali memainkan gelambir pada lengannya yang sudah kendur karena usia—aneh memang, tapi hal itu selalu bisa membuatnya tertawa geli. Kematian Ama membuat saya histeris dan menangis nggak berhenti. Saya ingat, suatu hari saya nggak mau ikut Mama pergi, jadilah saya dan Ama berada di rumah berdua saja. Saat itu saya lagi sangat suka main “The Sims” di komputer dan sore itu saya minta pendapat Ama dalam membangun rumah virtual saya—rumah memanjang ke belakang yang agak menyerupai penggaris.

Kematian Ama pada akhirnya membuat saya takut, saya semakin takut kehilangan hal-hal dan orang-orang yang saya sukai dan cintai. Hingga saya terus-menerus berhadapan dengan kematian-kematian yang memang nggak pernah diduga.

Saat kelas 3 SMP, salah satu sahabat saya kehilangan Papanya. Kalo nggak salah ingat, Beliau meninggal dalam sekejap mata akibat serangan jantung, ketika tengah makan siang bersama teman-teman kantornya. Saya cukup terkejut mendengar kabar tersebut–saya nggak bisa membayangkan diri saya berada di posisinya.

Tahun demi tahun berlalu, pada pertengahan tahun 2010 saya magang di sebuah majalah remaja sambil menunggu hasil-hasil ujian masuk perguruan tinggi. Ada seorang graphic designer yang kemudian saya anggap seperti kakak saya sendiri–kami akrab dengan begitu mudahnya. Namanya Kak Anggi. Tubuhnya mungil dan kurus, dialah orang pertama yang menyebut saya mirip dengan Dian Sastro. Hehehe… Bulan Juli 2010 adalah bulan terakhir saya magang dan pada Agustus 2010 saya sudah harus mengikuti orientasi di kampus sebagai mahasiswa baru.

Hingga pada akhir periode semester 1, tepatnya Desember 2010, saya mendengar sebuah kabar dari telepon. Saya ingat betul, saya tengah berada di kelas saat tiba-tiba ada telepon masuk. Saya buru-buru izin ke toilet dan mengangkat panggilan tersebut. Kak Anggi meninggal dunia. Saya langsung menangis. Kerongkongan saya tercekat. Saya nggak menyangka semuanya terjadi dengan begitu cepat. Saat itu saya tahu bahwa Kak Anggi memang sakit, tapi saya nggak tahu bahwa sakitnya separah itu dan ternyata Tuhan memang punya rencana lain untuknya.  Hingga saat ini, suara dan caranya bicaranya pun masih terdengar jelas di telinga saya dan saya nggak bisa lupa.

Setelahnya, saya nggak terlalu ingat lagi bagaimana saya berusaha memahami makna dari kehilangan dan kematian. Kehilangan barang saja saya sudah sedih bukan main, bagaimana kehilangan orang yang saya kenal–atau bahkan orang terdekat?

Pada bulan Juni 2016, saya mendengar kabar kepergian salah seorang teman sekolah yang bernama Karis. Dulu Karis sempat satu angkatan dengan saya, tapi karena nggak naik kelas, ia pun menjadi junior saya. Bertubuh tinggi, Karis dulu aktif di tim basket sekolah dan terkenal ramah. Saya kaget bukan main. Kepergian orang-orang yang saya kenal seperti menjadi tamparan jelas akan singkatnya hidup ini.

Di bulan November 2016, salah seorang teman kuliah saya meninggal dunia, namanya Enjy. Saya nggak punya banyak teman dekat, tapi saya ingat bahwa kami cukup sering menghabiskan waktu bersama saat kuliah. Seorang perempuan yang sangat lucu dan selalu terlihat bersemangat. Gaya-gayanya agak mirip Syahrini menurut saya, agak lebay tapi lucu. Kepergiannya juga terasa begitu cepat. Mungkin memang seperti itu karakter kematian: sama sekali nggak bisa diduga.

Lalu pada bulan Desember 2016, ada seorang beauty blogger yang meninggal dunia. Saya nggak kenal sama sekali, tapi banyak teman-teman beauty blogger yang kenal dekat dengannya. Sejak Enjy meninggal, hampir setiap tahunnya saya mendengar kabar kepergian orang-orang yang saya kenal. Saya takut sekali. Perasaan itu nggak bisa dijelaskan.

Bulan Maret 2017 datang. Tepat 1 Maret 2017, seorang senior di sekolah meninggal dunia. Saya memanggilnya Ci Ncus dan kami sempat tergabung di grup paduan suara yang sama saat di SMA. Ketakutan kembali datang dan saya syok. 6 Maret 2017, salah seorang sahabat travel blogger: Kak Cumi, meninggal dunia. Saya begitu histeris akan kepergian Kak Cumi karena pada bulan sebelumnya, kami sempat berada di event yang sama tapi nggak sempat bertemu karena saya terlambat mengecek hp.

Awal-awal menjadi travel blogger, saya cukup beruntung bisa mengenalnya karena Kak Cumi sudah sangat berpengalaman di dunia travel blogging dan sering membagikan tips serta pengalamannya kepada saya. Nggak pelit ilmu sama sekali. Momen-momen traveling keliling Kalimantan bersamanya selama 2 minggu dalam sebuah acara menjadi momen-momen yang begitu berharga. Suara dan canda tawanya masih terekam jelas di memori. Setelah mendengar kabar meninggalnya Kak Cumi, keesokan harinya saya dan beberapa teman blogger terbang ke Surabaya dan menyewa mobil ke Gresik untuk melayat dan ke makamnya–mengantar Kak Cumi untuk terakhir kalinya. Dada saya masih terasa sesak bila mengingatnya.

Dua bulan kemudian, Mei 2017, teman-teman di dunia travel kehilangan sahabatnya lagi: Kak Vindhya atau yang sering dikenal sebagai Ibu Penyu. Pribadinya yang ceria dan ramah selalu bisa membuat siapapun tersenyum. Hanya dalam periode 3 bulan, saya sudah kehilangan 3 teman yang saya kenal. Saya pun sempat bertanya-tanya, “Kenapa semua ini bisa terjadi?” Saat itu, di usia 25 tahun, saya merasa bahwa kematian terasa begitu dekat dan terlalu tiba-tiba. Saya takut. Merasa kehilangan selalu terasa menakutkan.

Tahun berikutnya tiba. Pada minggu terakhir bulan November 2018, ada kabar bahwa salah satu senior saya di sekolah: Reren, membutuhkan donasi untuk biaya pengobatan sakitnya. Reren sakit leukimia. Saya syok karena saat SMA, kami pernah sangat dekat. Saya menganggapnya seperti kakak sekaligus sahabat, meski saat kuliah dan kerja kami sudah nggak pernah bertemu lagi dan hanya mengobrol sesekali di Instagram. Beberapa hari kemudian, saya mendengar kabar bahwa Reren telah tiada. Saya begitu terkejut karena ternyata Reren sudah sakit selama beberapa bulan. Saya sedih karena kami belum sempat bertemu lagi saat kuliah dan kerja.

2019 bisa dibilang menjadi tahun terberat. 24 Oktober 2019, keluarga kami kehilangan Papa untuk selama-lamanya. Setelah sakit stroke selama kurang lebih 12 tahun, dementia selama 5,5 tahun, dan terbaring sakit di tempat tidur selama kurang lebih 2,5 tahun, akhirnya Papa bisa terbebas dari rasa sakit. Hari itu menjadi hari yang masih terasa sangat surreal hingga saat ini. Pada 15 bulan sebelumnya, Papa pernah mengalami masa yang lebih kritis, dimana kami sekeluarga bahkan sudah lebih siap untuk melepasnya dibandingkan pada hari saat Papa benar-benar pergi.

Kami masih sempat bersiap-siap untuk menginap di rumah sakit, menunggu di ruang tunggu, gantian berjaga… Hingga tiba-tiba kami diminta keluar dari ruangan IGD dan para dokter serta perawat melakukan CPR. Mama dan adik saya: Joan diberitahu terlebih dahulu, hingga kemudian saya diberitahu bahwa Papa telah tiada. Saya syok. Beberapa jam sebelumnya saya masih duduk di samping Beliau dan mengelus-elus tangannya. Kematian memang benar-benar nggak bisa diprediksi. Kejadian-kejadian berikutnya pun terjadi begitu cepat–saya memberi kabar pada teman-teman dan kerabat bahwa Papa telah meninggal dunia. Tentunya saya menelepon adik bungsu: Chika, terlebih dahulu. Ia kuliah di Solo dan langsung menangis histeris di telepon.

Kabar-kabar kehilangan dan kematian berikutnya jadi terasa aneh setelah kepergian Papa. Dua bulan lalu, sepupu suami saya meninggal dunia di usia yang sangat muda: 21 tahun. Kematian jadi terasa semakin dekat. Waktu, yang selama ini selalu membuat saya cemas karena berjalan begitu cepat dan nggak bisa dihentikan, sepertinya memang hilang dalam sekejap mata. Begitu saja.

Pada akhirnya, proses kehilangan dan kematian adalah sesuatu yang surreal, seenggaknya bagi saya. Saya lalu teringat kata-kata Mas Adjie Santosoputro di salah satu sharing-nya di Instagram, bahwa kita merasa kehilangan karena kita merasa memiliki. Kehilangan barang terasa berat dan masuk akal, karena kita memilih, membeli atau mendapatkan barang itu sendiri. Kehilangan seseorang dalam kematian ternyata menjadi sangat berat karena kita merasa memiliki orang tersebut–atau seenggaknya orang tersebut pernah dan telah menjadi bagian dari diri kita… dan saat orang tersebut tiada, rasanya seperti ada bagian dari tubuh kita yang hilang. Ada sedikit kemiripan dengan patah hati, tapi tentu berbeda. Intinya sama-sama kehilangan.

Mungkin ini salah satu blog terpanjang saya setelah sekian lama… Sampai saat ini, saya belum benar-benar mengerti bagaimana cara memproses kehilangan dan kematian. Sebagai orang yang selalu memperhatikan hal-hal secara mendetil, kehilangan dan kematian selalu berat karena memori saya bisa merekam dengan jelas memori-memori yang ada serta proses kehilangan tersebut. Akan tetapi pada akhirnya, kehilangan dan kematian mengajarkan saya untuk bisa benar-benar hidup di masa sekarang: to be present. Karena setiap momen, orang, dan barang yang kita miliki bisa hilang kapanpun. Hidup dengan segala misterinya seperti terus berusaha mengingatkan saya supaya nggak terus mengingat-ingat masa lalu dan mencemaskan masa yang akan datang. Untuk menyadari kehadiran saya pada saat ini, di momen ini.

Dan untuk bisa memahami kehilangan dan kematian dalam “My Happiness Project” saya tiba pada kesimpulan bahwa apapun yang meninggalkan saya, pergi untuk alasan terbaik dan bahagia dengan cara mereka sendiri. Seperti dalam kematian Papa, saya tahu bahwa Papa sekarang sudah bahagia dan terbebas dari sakitnya. Kesedihan mungkin masih terasa hingga saat ini, tapi seenggaknya, memori-memori penuh kebahagiaan akan selalu ada dalam hidup saya. 🙂

Written by
Sefin
TheJournale