Udang Rasa Susu? Hanya di Rumah Makan Paliat!

Nggak ada yang lebih membahagiakan daripada perut yang kenyang karena diisi oleh makanan yang lezat. Dan itulah yang saya rasakan begitu kami keluar dari Rumah Makan Paliat khas Tabalong Hj. Mariam Jainudin. Wajah saya begitu berseri-seri. Apalagi, destinasi wisata kuliner #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure” sebenarnya hanya ‘mengincar’ Lontong Orari sebagai salah satu wonder perjalanan, tapi ternyata kami masih bisa mencicipi salah satu kuliner khas Kalimantan, khususnya di Tabalong, yaitu Paliat. Hmm… Nama yang unik, bukan?

RM. Paliat khas Tabalong Hj. Mariam Jainudin.
RM. Paliat khas Tabalong Hj. Mariam Jainudin.

Kata “paliat” sendiri berasal dari dua kata, yaitu “kelapa” dan “liat” yang berarti santan kental. Dari pengalaman saya, sih, hampir semua makanan yang dimasak santan rasanya begitu lezat, mulai dari berbagai jenis masakan Padang, opor ayam, dan sebagainya. Nggak hanya girang bukan main karena akan mencoba kuliner baru, masuk ke RM. Paliat rasanya seperti berada di surga (saya nggak bohong), terlebih, hampir seluruh anggota rombongan kami begitu kelaparan di tengah panasnya siang bolong Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Di bagian terdepan rumah makan, kamu pun dapat menjumpai sebuah etalase surga, etalase rangkap tiga yang begitu sibuk. Di sana, kamu akan melihat beberapa karyawan rumah makan tengah menyiapkan hidangan yang dipesan oleh para tamu. Pesanan yang nggak pernah habis-habis–kecuali bila jumlah hidangan benar-benar sudah habis. Karena penasaran, saya dan beberapa teman pun langsung menghampiri etalase surga tersebut sambil menyiapkan kamera untuk mengabadikan hidangan-hidangan yang tampak nggak biasa, tapi amat menggoda.

Di etalase inilah, akhirnya saya melihat lalapan beserta sambal yang sebenarnya sudah cukup biasa. Kemudian, saya melihat mandai, cempedak (atau nangka) fermentasi goreng yang biasa disajikan bersama hidangan paliat. Selanjutnya, ada ikan patin yang dimasak paliat. Dagingnya terlihat begitu tebal dan berisi. Ya, bisa dibilang montok. Karena Mama saya orang Palembang dan cukup sering masak Pindang Patin, sebenarnya agak sulit bagi saya untuk menentukan apakah saya mau makan ikan patin atau sajian yang lain….. Namun akhirnya saya memilih udang galah masak paliat.

Setelah rombongan kami memesan pilihan masing-masing dan semua pesanan tersaji, kami pun melakukan ritual wajib bersama-sama, yaitu berfoto. Meskipun wajah saya nggak terlihat karena fokusnya adalah tangan mungil saya yang menjadi model foto makanan flatlay, yang penting tangan saya tetap eksis dan tangangenik, deh. :”)

Etalase surga RM. Paliat.
Etalase surga RM. Paliat.
Siapa suka lalapan? Ngacung! - Foto: Wira Nurmansyah
Siapa suka lalapan? Ngacung! – Foto: Wira Nurmansyah
Mandai, nangka muda goreng nikmat khas Tabalong. - Foto: Wira Nurmansyah
Mandai, nangka muda goreng nikmat khas Tabalong. – Foto: Wira Nurmansyah
Ikan patin, salah satu menu andalan RM. Paliat. - Foto: Wiira Nurmansyah
Ikan patin, salah satu menu andalan RM. Paliat. – Foto: Wiira Nurmansyah
Tangan saya yang tangangenik di foto ala kuliner instagram. - Foto: Wira Nurmansyah
Tangan saya yang tangangenik di foto ala kuliner instagram. – Foto: Wira Nurmansyah

Jujur saja, waktu saya melihat udang galah masak paliat yang begitu besar, saya bingung karena nggak tahu harus bagaimana memakannya. Niatnya, sih, waktu itu saya akan makan dengan anggun seperti tuan puteri, tapi saya gagal. Tanpa jaim, saya makan dengan begitu lahap. Kuah paliat yang tampak seperti susu ternyata benar-benar terasa seperti susu! Untuk pertama kalinya, saya bisa makan udang rasa susu! Begitu segar, gurih, dan manis, kuah paliat meresap hingga ke daging dan kepala udang. Puas banget, deh! 😀

Wajah sumringah saya saat hendak makan di RM. Paliat. - Foto: Wira Nurmansyah
Wajah sumringah-setengah-mengantuk saya saat hendak makan di RM. Paliat. – Foto: Wira Nurmansyah
Kak Cumi terkesima dengan udang galah masak paliat yang begitu besar. - Foto: Wira Nurmansyah
Kak Cumi terkesima dengan udang galah masak paliat yang begitu besar. – Foto: Wira Nurmansyah

Dan meskipun di meja kami semua orang tampak begitu girang saat makan, ternyata meja sebelah, yang ada Kak Fahmi, Uda Yudi, Mas Harris, dan Kokoh Barry, terlalu serius saat makan. Oh iya, di RM. Paliat, saya pun berkenalan dengan Uda Yudi yang ternyata sudah janjian dengan beberapa teman rombongan kami. Kebetulan, Uda Yudi tinggal dan bekerja di Tabalong. Senang, deh, bisa ketemu teman baru! ^^

Uda Yudi, Kak Fahmi, Mas Harris, dan Kokoh Barry tengah duduk satu meja dan makan dengan serius.
Uda Yudi, Kak Fahmi, Mas Harris, dan Kokoh Barry tengah duduk satu meja dan makan dengan serius.

Usai makan, dengan perasaan bahagia dan perut kenyang, kami pun kembali ke mobil masing-masing untuk melanjutkan perjalanan ke Balikpapan. Saya, Kak Vira, dan Kak Cumi pun masuk ke Terios 6. Lucunya, nggak selang beberapa menit setelah mobil berjalan, Kak Cumi langsung tertidur pulas–sekalipun jalannya begitu berbatu dan berkelok-kelok. Tampaknya, Kak Cumi kekenyangan setelah makan di RM. Paliat. Hehehe…

Kak Cumi tertidur pulas di mobil setelah makan di RM. Paliat.
Kak Cumi tertidur pulas di mobil setelah makan di RM. Paliat.

Dan di tengah perjalanan menuju ke Balikpapan, kami sempat berhenti dan melihat pepohonan yang sudah dan tengah hangus terbakar. Sedih sekali. 🙁 Selama ini Kalimantan begitu terkenal akan hutannya, tapi lama-kelamaan hutan ini pasti akan habis dan gundul. Huhuhu…

Di perjalanan, kami melihat pepohonan yang tengah terbakar dan sudah hangus terbakar. Sedih banget! :(
Di perjalanan, kami melihat pepohonan yang tengah terbakar dan sudah hangus terbakar. Sedih banget! 🙁

Sambil merenungi nasib hutan-hutan Kalimantan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Dalam road trip ini, semua sopir begitu berhati-hati, apalagi kami harus konvoi 7 mobil. Nggak mudah, sih, tapi itulah tantangan #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure”.

Salah satu tantangan road trip konvoi, nyetir harus ekstra sabar dan selalu hati-hati.
Salah satu tantangan road trip konvoi, nyetir harus ekstra sabar dan selalu hati-hati.

Selanjutnya, kami pergi ke mana, ya? Tunggu postingan saya berikutnya tentang #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure”, ya. 😀

Postingan ini merupakan catatan perjalanan #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure”. Totalnya ada 14 postingan yang bisa kamu baca. Berikut urutannya (dari awal hingga akhir perjalanan):

  1. Mimpi yang Menjadi Kenyataan: Menjelajah Kalimantan
  2. Road Trip untuk Menjelajah Kalimantan Resmi Dimulai!
  3. Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan
  4. Menggoyang Lidah dengan Lontong Orari yang Nikmat
  5. Melihat Bokong Bekantan yang Seksi di Pulau Kaget
  6. Kecantikan Anggrek Kalimantan di Tengah Petang
  7. Menerobos Kabut Asap Demi Melihat Kerbau Rawa yang Montok
  8. Udang Rasa Susu? Hanya di Rumah Makan Paliat! -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  9. Mampir ke Sarangnya Buaya Kalimantan di Teritip
  10. Berbagi di Desa Loa Janan Timur
  11. Mengenal Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang
  12. Berpelukan dengan Pohon Ulin Raksasa di Taman Nasional Kutai
  13. Mengakhiri Perjalanan Menjelajah Kalimantan di Kepulauan Derawan
  14. Mengenang Perjalanan Menjelajah Kalimantan (tulisan dan video)
Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

22 comments
The Journale