Rokok di Indonesia

Rokok di Indonesia

Sebagai seorang non perokok, dari dulu saya sering merasa bahwa merokok adalah sesuatu yang sia-sia. Saya nggak pernah paham mengapa seseorang rela menghabiskan puluhan bahkan mungkin ratusan ribu rupiah dalam sebulan hanya untuk membeli rokok. Pada Rabu, 26 Agustus 2020, akhirnya saya diajak belajar untuk memahami tentang perokok dan kebiasaan merokok lewat talkshow Ruang Publik KBR yang diadakan oleh Kantor Berita Radio (KBR). Dalam talkshow bertajuk “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok”, saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru yang akan saya bagikan di postingan blog ini.

Satu jam terasa begitu singkat saat membahas isu rokok di masa pandemi COVID-19. Dipandu host Don Brady bersama dua narasumber, yaitu Nurul Nadia Luntungan: peneliti CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives) dan M. Nur Kasim: Ketua RT001/003 dari Kampung Bebas Asap Rokok dan COVID-19 di Cililitan, Jakarta Timur, para pendengar talkshow diajak untuk memahami bagaimana rokok melawan kebutuhan pokok. Di awal talkshow, saya amat terkejut saat mengetahui fakta yang dipaparkan Mbak Nurul bahwa 7 dari 10 laki-laki di Indonesia adalah perokok. Dengan kata lain, laki-laki non perokok bisa dibilang sebagai minoritas, terutama di lingkungan pergaulan sesama laki-laki.

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/free-vector/smoking-design-concept-set-with-harm-danger-flat-icons_2873557.htm#page=1&query=smoking&position=35

Rokok Dianggap Normal dan Biasa di Indonesia

Fakta yang dipaparkan Mbak Nurul di atas kemudian membuat saya merasa begitu beruntung karena saya tumbuh di lingkungan dan keluarga yang bebas dari asap rokok, begitu pula suami saya. Baik almarhum Papa maupun ayah mertua saya nggak ada yang merokok. Suami saya juga bukan seorang perokok. Ketika banyak teman-teman di sekitar saya yang bertumbuh bersama asap rokok karena anggota keluarganya merupakan perokok, saya tumbuh dengan udara yang cukup baik. Saya ingat betul, bahkan sebelum mengikuti talkshow ini, salah seorang teman bercerita bagaimana ia mengidap sakit asma karena ayahnya terbiasa merokok di dalam rumah sejak ia kecil. Sungguh miris.

Menurut Mbak Nurul, fungsi dari pengendalian aturan atau kebijakan terkait rokok di Indonesia belum optimal, sehingga masyarakat masih menganggap rokok sebagai perilaku normal dan bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti halnya kebutuhan makan, kesehatan, dan pendidikan. Anggapan tersebut harus diubah karena sesungguhnya rokok bukanlah barang yang normal dan harus dikendalikan meskipun legal.

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/premium-vector/young-man-smoking-cigarette_3915242.htm#page=1&query=smoking&position=36

Apakah Kita Benar-benar Bisa Bebas dari Asap Rokok dalam Kehidupan Sehari-hari?

Meski saya tumbuh di lingkungan dan rumah yang bebas asap rokok, saya pun baru sadar bahwa selama ini saya nggak pernah benar-benar bisa bebas dari asap rokok. Ketika kuliah, merokok di kantin dan ruang terbuka kampus menjadi hal yang sangat lumrah. Saya ingat bagaimana salah seorang teman satu fakultas bercerita bahwa salah seorang dosennya meminta seorang mahasiswa untuk membuka jendela saat kelas karena dosen tersebut ingin merokok sambil mengajar. Saya beruntung nggak berada di kelas tersebut saat itu.

Memori akan asap rokok yang mengepul nggak pernah bisa saya lupakan. Saya juga pernah punya beberapa mantan pacar perokok yang membuat saya harus terbiasa dengan bau asap rokok yang menempel di baju, tas, juga rambut saya. Sekarang saya baru sadar betapa beruntungnya saya karena memiliki seorang suami non perokok, meski saya juga jadi was-was karena teman-teman suami banyak sekali yang perokok dan suami kerap menjadi seorang perokok pasif.

Nggak hanya saat kuliah atau punya pacar perokok saja yang bikin saya nggak bisa lupa dengan asap rokok, tapi setiap kali pergi keluar rumah, melihat orang merokok adalah sesuatu yang amat biasa. Di banyak restoran dan kafe disediakan ruangan khusus perokok atau smoking room. Di hotel-hotel juga disediakan kamar untuk perokok di mana tamu boleh merokok di dalam kamar–saya ingat bagaimana saya pernah mendapatkan beberapa kamar hotel yang masih bau asap rokok menyengat karena kamar bebas asap rokoknya sudah penuh. Talkshow KBR kemarin akhirnya membuat saya sadar bahwa rokok benar-benar dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan biasa saja di Indonesia, padahal rokok adalah sesuatu yang amat berbahaya.

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/premium-photo/signpost-smoking-area-public-places_4722188.htm#page=2&query=smoking+area&position=12

Merokok di Indonesia Sangat Mudah dan Murah

“Kenapa rokok bisa dianggap normal? Semua ini terbentuk dari lingkungan, dan merokok di Indonesia sangatah mudah–bahkan anak kecil pun bisa membeli rokok dengan mudahnya,” lanjut Mbak Nurul. Nggak hanya mudah didapat, harga rokok di Indonesia juga sangat murah. Kita bisa membeli rokok secara ketengan atau batangan, di mana harganya sebanding dengan satu buah air minum gelas. Menurut Mbak Nurul, harga rokok yang murah pada akhirnya membingungkan masyarakat karena dianggap memiliki bahaya atau risiko yang sama dengan air minum gelas tersebut, dan dengan kata lain, rokok pun dianggal nggak sebahaya itu. Air minum yang menjadi kebutuhan pokok, memiliki harga yang sama dengan sebatang rokok. Di sinilah rokok melawan kebutuhan pokok.

Nggak hanya karena harganya yang murah dan aksesnya yang begitu mudah, Mbak Nurul kemudian menambahkan bahwa rokok selalu hadir di sekitar kita, bahkan sejak kecil kita sudah terbiasa melihat iklan-iklan rokok di televisi dengan slogan yang begitu keren dan melekat di ingatan. Walaupun dulu ada larangan bahwa iklan rokok hanya boleh tayang di atas jam 10 malam, tapi setiap anak kecil di Indonesia pada kenyataannya pasti sudah pernah melihat iklan rokok semasa kecil. Perusahaan-perusahaan rokok yang begitu besar pun banyak mensponsori berbagai acara dengan logonya yang terpampang nyata dan jelas, bahkan upacara bendera istana juga diselingi iklan rokok yang bagus dan amat melekat. Dari pemaparan Mbak Nurul di atas, saya semakin sadar betapa dekatnya rokok dengan masyarakat Indonesia, bahkan mungkin sudah menjadi salah satu kebiasaan orang Indonesia.

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/free-vector/pack-cigarettes-gas-lighter-ashtray_6822974.htm#page=1&query=cigarette&position=29

Kampung Bebas Asap Rokok dan COVID-19

Saat talkshow, Pak Nur dari Kampung Bebas Asap Rokok dan COVID-19 di Cililitan, Jakarta Timur turut berbagi cerita tentang rokok dari desanya yang memiliki sebutan lain, yaitu Kampung Warna-warni. Kebetulan, pada 18 Juli 2020 lalu, perkampungan Pak Nur baru saja diresmikan dengan acara seremonial daring sebagai Kampung Bebas Asap Rokok dan COVID-19 di mana acara tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, ketua LSM FAKTA (Forum Warga Kota Jakarta), dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Saya sendiri cukup terkejut mengetahui bahwa ternyata ada kampung bebas asap rokok di Jakarta, bahkan di Indonesia. Saya kaget sekaligus bangga karena ternyata masih ada harapan bagi Indonesia untuk bisa bebas dari asap rokok. :”)

Sebelum menjadi kampung yang bebas asap rokok, sebagian area perkampungan tempat Pak Nur tinggal terlihat kumuh dan nggak tertata–kebersihannya kurang terjaga dan juga kelihatan kusam. Dibantu oleh LSM FAKTA, perkampungan Pak Nur pelan-pelan bisa berubah menjadi lebih indah dan tertata hingga akhirnya bisa menjadi perkampungan yang bebas asap rokok, bahkan bebas COVID-19. Sebagai seorang ayah dengan 3 orang anak laki-laki, saya sendiri sungguh kagum dengan Pak Nur karena beliau dan ketiga anaknya merupakan non perokok. Menurut Pak Nur, sangatlah penting untuk memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatan dengan memilih untuk nggak merokok.

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/premium-vector/risk-smoking-infographics-illustration_7058698.htm#page=3&query=smoking&position=0

Di kampung bebas asap rokok, masyarakat nggak diperbolehkan untuk merokok di dalam rumah dan hanya boleh merokok di ruang terbuka khusus merokok yang telah disediakan. Spanduk-spanduk tentang bahaya merokok pun dipasang di berbagai sudut kampung untuk membantu mengingatkan warganya agar sadar akan bahaya rokok yang sesungguhnya, terutama untuk kesehatan mereka dan para anggota keluarga perokok yang selama ini menjadi perokok pasif.

Kendati baru berjalan selama kurang lebih 1 bulan, dampak positif dari kampung bebas rokok ternyata sudah mulai dirasakan oleh para warganya. Kata Pak Nur, para perokok sudah mulai mengurangi kebiasaan merokoknya secara bertahap–yang biasa merokok sekitar 2-3 bungkus kini merokok 1 bungkus per hari, yang merokok 1 bungkus menjadi setengah bungkus per hari, dan yang merokok setengah bungkus menjadi hanya beberapa batang saja dalam sehari. Buat saya sih, dampak positif ini luar biasa banget karena saya tahu dari para perokok yang saya kenal bahwa berhenti merokok itu sangatlah sulit, apalagi jika mereka sudah merokok selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Nggak hanya bisa mengurangi kebiasaan merokok saja, dengan hadirnya kampung bebas asap rokok, dampak ekonomi yang membaik juga turut dirasakan oleh warganya. Pak Nur bercerita bahwa uang yang biasa digunakan untuk membeli rokok kemudian dialihkan ke uang saku anak-anak para perokok dan uang belanja para istri perokok, sehingga keluarga bisa merasakan manfaat yang semakin berarti. Bahkan beberapa keluarga bisa membeli barang elektronik baru karena kepala keluarganya bisa mengalokasikan uang rokok untuk kebutuhan keluarga. Dan nggak hanya bebas asap rokok saja, kampung Pak Nur pun bisa bebas dari COVID-19 karena warganya yang sudah mulai sadar akan bahaya rokok dan menjaga kesehatan mereka. Kebiasaan merokok yang berkurang turut meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sehingga risiko terpapar virus korona juga mengecil. Salut banget deh sama Pak Nur dan warga kampungnya… keren banget!!!

Rokok di Indonesia
Ilustrasi kebutuhan pokok.
Source: https://www.freepik.com/premium-photo/colorful-food-groceries-white-countertop_4609382.htm#page=1&query=groceries&position=14

Mungkinkah Melepaskan Diri dari Kecanduan Rokok?

Bagi saya yang nggak pernah mencoba rokok satu kali pun seumur hidup, mungkin mudah untuk bilang: “Ya, berhenti mah berhenti aja. Tergantung niat.” Tapi menurut Mbak Nurul, melepaskan diri dari kecanduan rokok nggak semudah itu. Faktanya, kecanduan zat nikotin merupakan kecanduan terbesar di dunia dibandingkan zat-zat berbahaya lainnya yang merupakan narkoba, dan jumlah perokok di dunia lebih banyak daripada jumlah pemakai narkoba. Supaya bisa turut membantu para perokok lepas dari kecanduan rokok, Mbak Nurul pun menambahkan akan pentingnya berempati pada perokok karena mereka nggak pernah berniat untuk membunuh diri mereka sendiri maupun keluarganya ketika baru mulai merokok.

Mbak Nurul kemudian menganalogikan kecanduan rokok dengan perjuangan seseorang dalam berdiet. Sebagai perempuan yang sudah mencoba berbagai macam diet sejak remaja, saya akhirnya bisa mulai memahami tentang kecanduan rokok. Dari pengalaman membantu perokok berat lepas dari candu rokok, Mbak Nurul menekankan bahwa di tahap awal, para perokok harus memahami dengan baik kenapa mereka harus berhenti merokok, apa yang akan dirasakan ketika berhenti merokok, serta bagaimana cara mereka untuk bisa melewati kesulitan saat berhenti merokok.

Rokok di Indonesia
Ilustrasi kebiasaan buruk dan kecanduan. Source: https://www.freepik.com/premium-vector/people-with-addiction-bad-habits-set-cartoon-characters-white-illustration_7891288.htm#page=1&query=smoking%20shopping&position=1

Biasanya, dalam beberapa hari setelah berhenti merokok, akan muncul gejala lepas dari substansi nikotin, seperti melamun, tertawa terus-menerus, dan mengantuk. Penjelasan Mbak Nurul ini mungkin mirip dengan kesulitan saya saat diet dan berusaha untuk berhenti dari ketagihan nyemil makanan yang nggak sehat–di mana saya harus paham betul motivasi awal diet, beratnya menahan diri untuk nggak nyemil, hingga badan lemas karena jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh berkurang jauh.

Menjadi perokok yang ingin lepas dari kecanduan rokok di Indonesia pada kenyataannya sangatlah berat. Apalagi, di lingkungan sekitarnya banyak sekali perokok. Kata Mbak Nurul, situasinya bisa dibilang serupa dengan berdiet di hari lebaran saat ada banyak makanan menggoda dengan kalori tinggi. Faktor lingkungan sangat menentukan kesuksesan seorang perokok dalam melepaskan diri dari candu rokok.

Jika memang benar-benar ingin berhenti merokok, perokok harus bisa mengurangi tingkat berkumpul bersama perokok lainnya, terutama dalam 2 minggu hingga 3 bulan pertama. Selain itu, perokok juga harus paham betul akan risiko relapse atau kambuh–di mana perokok akan tergoda untuk merokok lagi. Kekambuhan ini menurut saya ‘ngena’ banget sih dan saya tahu susahnya menahan diri untuk nggak makan kalap setelah sukses berdiet. Meski demikian, melepaskan diri dari kecanduan diet bukanlah hal yang mustahil. Saya percaya banget akan hal ini karena saya sendiri akhirnya kini bisa berhasil diet setelah belasan tahun gagal. Dari pengalaman saya, penting banget untuk terus berusaha, nggak berhenti mencoba, dan jangan menyerah. Semangat ya untuk teman-teman perokok yang ingin berhenti merokok!!! Pasti bisa!

Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah Supaya Indonesia Bisa Bebas dari Rokok?

Sebelum talkshow selesai, Mbak Nurul pun sempat menambahkan upaya yang bisa dilakukan pemerintah dalam misi membebaskan Indonesia dari rokok. Menurutnya, pemerintah bisa menaikkan cukai rokok yang mana akan secara otomatis menaikkan harga rokok itu sendiri. Dan menurut survei dari organisasi Prakarsa, kenaikan harga adalah kebijakan paling sensitif yang dapat membuat para perokok mengurangi konsumsi rokoknya, terlebih bila harganya naik 50-100%. Di banyak negara, kebijakan menaikkan cukai rokok telah berhasil mengurangi konsumsi rokok pada warga negaranya.

Ketika penerimaan cukai negara bertambah dari cukai rokok yang dinaikkan, penerimaan tersebut bisa dialokasikan menjadi program-program sosial berupa subsidi dan bantuan sosial, terutama untuk masyarakat kelompok miskin yang memang merupakan kelompok perokok terbesar. Saya sendiri amat setuju dengan pendapat dari Mbak Nurul dan sangat berharap pemerintah bisa mengambil tindakan tegas dan membuat kebijakan untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia. Semoga bisa beneran terwujud beneran, ya!

Rokok di Indonesia
Source: https://www.freepik.com/free-vector/colored-municipal-buildings-composition_6228990.htm#page=1&query=government&position=5

Apa yang Bisa Kita Lakukan Supaya Indonesia Bisa Bebas dari Rokok?

Saya selalu percaya bahwa jika kita ingin membuat perubahan besar, kita harus memulai perubahan dari diri kita sendiri. Sebagai seorang non perokok, saya akan berusaha mendukung kampanye anti rokok supaya Indonesia bisa menjadi negara yang lebih sehat. Bebas rokok nggak hanya bikin sehat secara jasmani, tapi juga bisa membantu kita sehat secara finansial, terutama bila selama ini uang yang dipakai membeli rokok sangat banyak.

Bila kamu adalah seorang perokok, mungkin bisa hitung berapa banyak uang yang kamu gunakan setiap bulannya untuk membeli rokok… Kebetulan, saya punya seorang teman yang dua bulan belakangan juga berdiet seperti saya. Sebelum berdiet, ia terbiasa menghabiskan uangnya untuk membeli cemilan. Setelah diet dan berhenti nyemil, ia nggak cuma dapat bonus badan yang lebih ramping dan sehat, tapi ia juga bisa menabung lebih banyak. Ini beneran, lho! Hebat banget kan temen saya ini? 😀

Mengetahui fakta bahwa merokok adalah sebuah kebiasaan buruk sekaligus candu yang berat bagi banyak orang, menurut saya penting juga untuk menyadari bahwa kita harus berempati bagi para perokok dan merangkul mereka supaya bisa lepas dari candu rokok. Dalam kasus saya, akhirnya saya juga bisa pelan-pelan lepas dari candu makanan yang nggak sehat karena saya nggak ingin sakit keras dan meninggal di usia muda seperti almarhum Papa. Saya percaya sih, asal niat kita baik, tentu akan ada jalan supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih sehat. Yuk, kita berusaha sama-sama menciptakan Indonesia yang bebas dari rokok. Semangat!

Rokok di Indonesia
Ilustrasi keluarga sehat dan bahagia.
Source: https://www.freepik.com/free-vector/illustration-happy-healthy-family_3132803.htm#page=1&query=healthy&position=25

———-

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.”

Written by
Sefin
TheJournale