Road trip pasti membosankan dan melelahkan? Siapa bilang? Sempat road trip keliling Pulau Kalimantan selama kurang lebih 11 hari, menurut saya sih, road trip selalu seru, apalagi kalau teman seperjalananmu seru dan menyenangkan. Dan beruntung, pada 6 Desember 2015 yang lalu, akhirnya saya bisa kembali road trip dan kali ini tujuannya adalah Kabupaten Aceh Singkil, Aceh! Siapa yang menyangka bahwa di bulan terakhir tahun 2015 ini saya bisa pergi ke Provinsi Aceh? 😀
Pagi-pagi sekali, saya sudah harus pergi ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk mengejar penerbangan pagi ke Bandara Internasional Kualanamu, Medan. Ngantuk? Tentu saja. Apalagi saya baru selesai packing kurang lebih pukul setengah 3 pagi karena saya bingung harus membawa pakaian apa saja untuk pergi ke Aceh. Sebagai seorang umat non-muslim, saya amat deg-degan ketika hendak pergi ke Aceh karena saya hukum syariah yang berlaku di sana. Meski demikian, rasa deg-degan tersebut nggak menghalangi saya untuk tetap semangat pergi ke Aceh untuk pertama kalinya! 😀 Berbekal selembar kain penutup kepala dan selembar kain Bali–seperti yang disarankan oleh Mas Bolang, saya bersiap menjelajah Aceh!
Kami bertujuh, yaitu saya, Satya, Mas Bolang, Kak Tika, Kak Fahmi, Kak Fiona, Mas Sendy, dan Mas Him dari Kemenpar, tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Medan, kira-kira pukul 10 pagi. Jika kamu bingung kenapa kami pergi ke Medan, itu karena kami akan pergi menjelajah Kepulauan Banyak yang ada di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Nah, kebetulan, daerah Singkil (begitu ia biasa disebut), lebih dekat bila dijangkau dari Kota Medan dibandingkan dari Kota Banda Aceh. Dari Kota Medan menuju Singkil, kamu hanya perlu menempuh waktu perjalanan selama kurang lebih 9 jam, sementara bila dari Kota Banda Aceh menuju Singkil, kamu membutuhkan waktu selama kurang lebih 14 jam. Jadi, demi menghemat waktu, kami pun pergi menuju Singkil dari Kota Medan.
Bandara Kualanamu Medan – Senja MoktikaDitemani teman-teman dari Keliling Aceh, kami pun memulai road trip Medan-Singkil. Beruntung sekali, saya bisa satu mobil dengan teman-teman super kece yang asyik dan seru. Saya satu mobil dengan Satya, Kak Tika, Mas Bolang, dan Kak Fahmi. Kebetulannya, sebelumnya saya sudah pernah jalan bareng Satya, Mas Bolang, dan Kak Fahmi dalam beberapa perjalanan yang berbeda, tapi baru kali ini saya jalan bareng Kak Tika. Cukup sering membaca blog-nya selama setahun ke belakang, saya senang banget bisa jalan bareng Kak Tika, terlebih karena dia seorang penulis idola! Ihiy! 😛
Nah, kalau kamu mengira road trip cuma tentang duduk diam di mobil… Ah, kamu salah besar! Dalam road trip Medan-Singkil yang lalu, ada dua bagian terbaik yang paling saya sukai. Bagian pertama adalah Air Terjun Lae Pandaroh yang ada di Sidikalang, Sumatera Utara. Kami tiba di sana kurang lebih pukul setengah 4 sore. Air terjunnya begitu deras dan dikelilingi oleh pepohonan yang hijau dan lebat. Sekilas, memang nggak ada yang terlalu istimewa dari Lae Pandaroh ini, tapi kami tetap menepi dan turun dari mobil untuk menghirup udara segar sambil mendengar suara aliran air yang deras.
Jalanan lengang ketika kami mampir ke Jembatan Lae Pandaroh, Dairi, Sidikalang, Sumatera Utara. Begini penampakan Jembatan Lae Pandaroh, Dairi, Sidikalang, Sumatera Utara.Nggak sia-sia, kami pun bersenang-senang di Lae Pandaroh. Kami berfoto, tertawa, sambil menikmati alam yang masih asri di sekitar Lae Pandaroh. Siapa yang sangka kami sudah road trip selama kurang lebih lima setengah jam? Meski harus road trip selama beberapa jam lagi untuk bisa tiba di Singkil, saya masih tetap semangat karena benar-benar nggak sabar untuk menjelajah Aceh untuk pertama kalinya. Apalagi, saya baru saja bersenang-senang sejenak di Lae Pandaroh. Kalau kamu hendak menuju Singkil dari Kota Medan, jangan lupa mampir ke Lae Pandaroh dan berfoto, ya! 😀
Kak Tika @sabaiX berfoto di depan Jembatan Lae Pandaroh, Dairi, Sidikalang, Sumatera Utara. Arus deras air terjun Lae Pandaroh, Dairi, Sidikalang, Sumatera Utara. Pamer kaki di Jembatan Lae Pandaroh, Dairi, Sidikalang, Sumatera Utara. Coba tebak, kaki-kaki siapa saja ini?Lalu, apa bagian terbaik kedua dari road trip Medan-Singkil yang lalu? Tentu saja: senja. Sebagai seorang pecinta senja, saya tentu nggak bisa melewatkan senja tercantik ini. Kira-kira pukul setengah 6 sore, tepat dua setengah jam setelah kami mampir ke Lae Pandaroh, kami memasuki Kota Subulussalam, sebuah kota pemekaran dari Kabupaten Aceh Singkil. Langit sudah mulai memerah dan berubah jingga. Perasaan sendu sedikit menyelimuti saya, apalagi saya memang lagi jomblo. (eh, maaf)
Turun dari mobil dengan membawa kamera dan ponsel, masing-masing dari kami menyebar untuk mengambil posisi terbaik. Bersiap-siap mengabadikan langit jingga dan matahari yang segera tenggelam. Warnanya begitu menghipnotis. Nggak ada kata-kata yang benar-benar bisa mendeskripsikan senja kala itu.
Sambil sesekali mendengar suara klakson serta kendaraan yang lewat, kami terus memotret. Bagi saya sendiri, melihat senja yang cantik di sore pertama adalah tanda keberuntungan. Dalam beberapa kesempatan, saya percaya bahwa nggak ada yang kebetulan dalam sebuah perjalanan. Kehadiran senja yang cantik adalah sambutan terbaik dari Aceh untuk rombongan kami. Sambutan yang begitu memesona.
Matahari mulai tenggelam. (1) Matahari mulai tenggelam (2) Cantik, ya? (1) Cantik, ya? (2)Dan ketika kami selesai memotret senja, perhatian kami pun direbut oleh sebuah pelangi yang membentang tepat di seberang senja yang cantik. Sudah lama sekali saya nggak melihat pelangi. Bisa melihat senja yang cantik sekaligus pelangi yang ramping? Mungkin kamu bisa bilang kami beruntung.
Bonus dari Kota Subulussalam: pelangi di kala senja! 🙂Air terjun dan senja adalah dua bagian terbaik dari road trip Medan-Singkil versi saya. Setelah melihat cantiknya senja dan pelangi di Kota Subulussalam, kami pun tiba di Kabupaten Aceh Singkil pada pukul 8 malam. Meski ternyata kami menempuh waktu satu jam lebih lama dari yang sudah diestimasikan, yaitu 10 jam, road trip Medan-Singkil sama sekali nggak melelahkan dan membosankan. Seperti seorang anak kecil yang kegirangan ketika memasuki sebuah toko mainan atau toko permen, saya sudah cukup kegirangan karena bisa melihat air terjun, senja, serta pelangi selama road trip Medan-Singkil. Sesudahnya, saya sungguh nggak sabar untuk menjelajah Kepulauan Banyak yang ada di Kabupaten Aceh Singkil.
Banyak Islands, I’m coming! 😉

yudi setuju dengan nggak yang kebetulan dalam sebuah perjalanan kak. sesaat setelahnya, singkil banjir besar 🙂
btw, gimana kesannya masalah pakaian di aceh kak? coba baca blog yudi mengenai perlu nggaknya pake jilbab ke aceh, pasti nggak bingung #ngibasPoni hihihi
Whoaaaa. Serius? Turut sedih untuk Singkil dan kami beruntung banget ya nggak kena banjir.
Kesan pakaian di Aceh? hmm.. nanti mau ditulis sih waktu nulis soal Banda Aceh hehehe..nanti aku sekalian mampir lagi, ya ke blognyaaa 😀