Pesona Senja di Pulau Panjang, Kepulauan Banyak

Pendaran cahaya matahari tenggelam di Pulau Panjang

Ketika berbicara tentang destinasi wisata di Provinsi Aceh, kebanyakan orang akan berbicara tentang Sabang dan Pulau Weh. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa di Aceh masih ada banyak destinasi wisata yang nggak kalah cantik dan menarik?

Setelah road trip selama kurang lebih 10 jam dari Medan ke Singkil, saya dan teman-teman pun berkesempatan untuk menjelajah sebuah kepulauan yang ada di Kabupaten Aceh Singkil, yaitu Kepulauan Banyak.

Sesuai namanya, kepulauan ini memiliki banyak sekali pulau yang cantik — nggak kalah dengan Kepulauan Seribu di Provinsi DKI Jakarta serta Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat.

Dengan luas kurang lebih 27,196 hektar, Kepulauan Banyak memiliki pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Dulu, sebelum Tsunami melanda Provinsi Aceh pada Desember 2004, Kepulauan Banyak memiliki 99 gugusan pulau. Akan tetapi, setelah Tsunami 2004 tersebut, 13 pulau di Kepulauan Banyak telah tenggelam sehingga menyisakan 86 pulau.

Di antara sekian banyak pulau yang ada di Kepulauan Banyak, Pulau Panjang menjadi pulau pertama yang kami kunjungi. Dan lagi-lagi, persis seperti namanya, Pulau Panjang merupakan sebuah pulau yang bentuknya panjang.

Pulau Panjang di Kepulauan Banyak
Selamat datang di Pulau Panjang, Kepulauan Banyak

Kami tiba di Pulau Panjang kurang lebih pukul setengah 4 sore setelah mampir ke Pulau Balai sebentar untuk meletakkan bagasi dan makan siang. Oh iya, untuk bisa tiba di Kepulauan Banyak dari Singkil, kamu dapat menyeberang dengan menggunakan kapal Ferry, kapal reguler, dan kapal cepat sewaan. Bila kamu memilih menggunakan kapal Ferry atau kapal reguler, kamu akan menempuh perjalanan di laut selama kurang lebih 3 jam. Akan tetapi, bila kamu memilih menggunakan kapal cepat sewaan, kamu bisa menempuh perjalanan dengan waktu yang lebih singkat, yaitu hanya sekitar 1,5 jam saja. Dengan waktu yang lebih singkat, ongkos yang dibayarkan tentu lebih mahal.

Saat kami tiba di Pulau Panjang, kami hanya menemukan sebuah pondok kecil di tengah pulau yang masih cukup alami. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi seperti hendak menusuk awan-awan putih yang bertebaran di langit biru yang luas. Cuaca sore itu cukup bersahabat, meski kami sempat was-was karena di malam sebelumnya hujan turun cukup deras.

Lagi-lagi, kami berpencar untuk mengambil gambar. Jalan-jalan di sekitar pantai dengan bertelanjang kaki, kami benar-benar menikmati waktu di Pulau Panjang. Setelah asyik berfoto, kami pun sempat minum kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya. Segar banget!!!

Nggak hanya itu, kami juga sempat makan ikan bakar hasil pancingan ABK alias Anak Buah Kapal. Beruntung? Banget! Sudah bisa menikmati pulau yang sepi dan cantik serasa milik sendiri, ternyata kami bisa menikmati kelapa muda segar dan ikan bakar yang diambil langsung dari lautnya! Yippie!!!

Bang Hasbi dari Keliling Aceh mengajak kami makan ikan bakar hasil pancingan ABK. Mana bisa nolak?!

Bang Hasbi dari Keliling Aceh
Bang Hasbi

Usai berfoto, minum kelapa muda, dan makan ikan bakar, asyiknya lagi, kami juga sempat berenang seru dan berfoto dengan menggunakan GoPro dan dome milik Satya. Dan untuk pertama kalinya, akhirnya saya berhasil duck dive tanpa grogi! Hehehe… Sebagai seseorang yang bertubuh positif dan mudah mengambang saat berada di air, akhirnya saya bisa berfoto ala-ala free diver. Terima kasih banyak untuk Satya, ginuk cantik tersayang yang sudah mau memotret saya berkali-kali tanpa mengeluh. :’)

Bareng Satya Winnie island hopping di Kepulauan Banyak
Tawa bahagia Satya setelah asyik bermain di Pulau Panjang dan bersiap menyambut senja yang cantik!

Berfoto, minum kelapa muda, makan ikan bakar, berenang sambil menyelam lucu, lalu apalagi?

Tentunya melihat senja, dong! 😀

Menanti senja di Pulau Panjang
Menanti senja di Pulau Panjang

Saya bisa bilang, dua hari pertama di Singkil adalah dua hari yang “gila” karena saya bisa melihat dua senja yang cantiknya luar biasa. Ungkapan “Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak pada kita” mungkin terdengar klise, tapi kenyataannya, pada perjalanan ke Singkil tersebut saya meyakini bahwa ungkapan tersebut benar adanya.

Perlahan tapi pasti, matahari tenggelam seperti hendak pulang ke rumah dan beristirahat. Kami tentu nggak melewatkan kesempatan untuk berfoto, tapi juga nggak kehilangan waktu untuk benar-benar menikmati keindahan senja.

Golden Sunset Pulau Panjang yang ditunggu-tunggu
Golden Sunset
Indahnya sunset di Kepulauan Banyak
Mataharinya cantik, ya?
Pendaran cahaya matahari tenggelam di Kepulauan Banyak
Senja selalu berhasil bikin saya jatuh cinta.

Gradasi warnanya begitu memesona. Dari biru, jingga, merah muda, hingga kuning, semuanya berpadu menjadi satu. Meski kerap membuat orang tenggelam dalam kesenduannya, senja selalu berhasil membuat orang rindu. Bahkan saat menulis postingan ini, saya langsung dilanda rasa rindu pada senja, terutama pada senja di Pulau Panjang tersebut.

Matahari tenggelam Pulau Panjang
Satya dalam pesona senja Pulau Panjang.

***

Sedikit kedinginan karena pakaian yang masih basah setelah berenang dan menikmati senja di sebuah pulau yang sama, yaitu Pulau Panjang, kami kembali ke kapal untuk bersiap kembali ke Pulau Balai.

Akan tetapi, ternyata kebahagiaan kami nggak berhenti pada senja saja. Setelah dua hari mengidam mie instan karena sedang hamil besar, Mas Bolang (iya, maaf Mas *dikeplak) akhirnya kesampaian juga makan mie instan. Setelah ia merengek, akhirnya kapten dan para ABK-nya memasak mie instan yang begitu lezat untuk kami semua, lengkap dengan cabe rawit dan telur.

Enak? Buangeeet!

Malam itu kami kembali ke Pulau Balai dengan perasaan bahagia. Meski sedikit kelelahan karena melakukan banyak sekali aktivitas, terutama saat kami berenang dan menyelam lucu berkali-kali demi mendapatkan hasil foto yang bagus, semuanya terbayar sudah.

Kami bisa membawa pulang foto-foto seru dari Pulau Panjang, mulai dari foto pemandangan hingga foto senja yang begitu menawan. Kami pun pulang dengan perut kenyang yang senang karena telah diisi dengan kelapa muda segar, ikan bakar, dan mie instan yang hangat.

Pulau Panjang, sampai bertemu lagi! 😀

***
Cerita perjalanan ini merupakan rangkaian perjalanan undangan dari Dinas Budaya Pariwisata Aceh pada 2015.
#PesonaAcehSingkil #PesonaAceh #PesonaIndonesia

Written by
Sefin
TheJournale