Mengenal Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang

Tarian Kanjet Lemada Lasan oleh Pak Imang

Setelah melihat buaya-buaya Kalimantan dan berbagi di Desa Loa Janan Timur, saya beserta rombongan #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure” kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi salah satu objek wisata populer di Samarinda, yaitu Desa Budaya Pampang.

Sebagai mantan anak Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ceileh) yang amat berbudaya (ceileh lagi), mengunjungi desa ini memberi kesan tersendiri bagi saya. Terutama di tengah modernitas salah satu kota terbesar di Kalimantan, Desa Budaya Pampang tetap bertahan dengan keaslian suku dan budayanya.

Berlokasi nggak jauh dari pusat Kota Samarinda, Desa Budaya Pampang telah menjadi objek wisata resmi dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Komunikasi dan Informatika setempat. Jika kamu termasuk orang yang menyukai wisata budaya, serta tertarik untuk mengenal Suku Dayak lebih dalam lagi, khususnya Suku Dayak Kenyah, Desa Budaya Pampang adalah tempat yang tepat untuk kamu kunjungi.

***

Rumah Lamin Suku Dayak Kenyah
Rumah Lamin Suku Dayak Kenyah

Kira-kira pukul 10 WITA, kami tiba di Desa Budaya Pampang. Di desa tersebut, berjejer rapi rumah-rumah warga Suku Dayak Kenyah asli yang cukup menarik perhatian kami. Beberapa orang pun memilih untuk turun dari mobil dan berjalan kaki sambil mengabadikan momen dengan kamera masing-masing. Akan tetapi, nggak ada yang lebih menarik perhatian kami daripada Rumah Lamin besar yang sudah berdiri sejak awal tahun 90-an.

Dikenal juga sebagai Rumah Panjang, Rumah Lamin merupakan rumah adat khas Suku Dayak. Dengan gaya arsitektur yang begitu khas, rumah ini pun memiliki banyak ornamen khas Suku Dayak yang begitu indah.

Ornamen di atas Rumah Lamin
Ornamen di atas Rumah Lamin

Di Desa Budaya Pampang, kami pun disambut oleh Pak Simson Imang, salah satu tetua adat yang telah menjadi penjaga desa sejak lama. Beliau muncul dengan pakaian adat khas Suku Dayak Kenyah yang sungguh lain daripada yang lain.

Sayangnya menurut Beliau, sekarang banyak anak muda yang nggak mau memakaian pakaian adat lagi atau sekadar memakai anting berat untuk membuat telinganya menjadi lebih panjang lantaran malu. Sepertinya, modernitas sudah mulai menggeser adat dan budaya asli, ya.

Untungnya sih, masih ada orang-orang seperti Pak Simson Imang ini yang masih mau melestarikan adat dan budaya asli Suku Dayak Kenyah.

Simson Imang tetua adat Desa Budaya Pampang
Pak Simson Imang, salah satu tetua adat di Desa Budaya Pampang.

Setelah mengobrol-ngobrol dengan Pak Simson Imang, kami pun sempat mampir ke tempat penjualan souvenir. Di sana, berbagai cinderamata khas Suku Dayak yang berwarna-warni amat menarik pehatian! Saya sendiri membeli dua buah gelang batu yang cukup sederhana. Harga cinderamata di sini juga amat bervariasi, mulai dari ribuan hingga ratusan ribu rupiah.

Jadi, siap-siap bawa uang yang banyak ya kalau mau beli oleh-oleh. Hehehe…

Souvenir khas Suku Daya Kenyah
Souvenir khas Suku Daya Kenyah

Selesai membeli oleh-oleh, beberapa gadis belia cantik langsung mengalihkan perhatian para laki-laki rombongan #Terios7Wonders. Dengan pakaian adat khas Suku Dayak Kenyah yang mereka kenakan, serta senyum manis yang nggak henti-hentinya lepas dari wajah mereka, siang yang terik terasa jadi lebih berwarna.

Rata-rata berusia belasan tahun, ternyata setiap warga Suku Dayak Kenyah membeli nama Indonesia dan nama Dayak. Seperti Novi yang berada di tengah (pada foto di bawah ini), dia memiliki nama Dayak yang cukup unik, yaitu Luing. Mungkin, nama Dayak ini seperti halnya nama warga-warga Indonesia keturunan Tionghoa yang masih punya nama Cina, ya. Kalau saya sih, hanya punya nama Indonesia.

Anak-anak di Desa Budaya Pampang
Adik-adik cantik di Desa Budaya Pampang.

Usai berkenalan dengan Novi dan teman-temannya, kami langsung masuk ke dalam Rumah Lamin untuk melihat pertunjukan utama Desa Budaya Pampang, yaitu tarian. Biasanya, tarian-tarian yang kami tonton tersebut hanya ada setiap hari Minggu pada pukul 2 siang.

Ada dua tarian yang dipertunjukkan, yaitu Tarian Kanjet Lemada Lasan dan Tarian Kanjet Lasan. Tarian Kanjet Lemada Lasan merupakan tarian pembukaan atau tarian peresmian. Tarian tersebut harus dipertunjukkan oleh laki-laki dan dalam adat -budaya Dayak sendiri, tarian tersebut bermakna untuk membersihkan dari segala hal-hal yang nggak diinginkan. Kebetulan, Tarian Kanjet Lemada Lasan ini dipertunjukkan oleh Pak Simson Imang yang pertama menyambut kami di Desa Budaya Pampang.

Tarian Kanjet Lemada Lasan
Tarian Kanjet Lemada Lasan. Diiringi oleh Laing Along.
Tarian Kanjet Lemada Lasan oleh Pak Imang
Pak Simson Imang menampilkan Tarian Kanjet Lemada Lasan.

Setelah Pak Simson Imang tampil, kini gilirannya Reni, seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang menampilkan Tarian Kanjet Lasan bersama adik mungilnya. Merupakan tarian persahabatan, Tarian Kanjet Lasan merupakan tarian yang lebih ‘bebas’ dibandingkan dengan Tarian Kanjet Lemada Lasan karena yang diutamakan dalam tarian tersebut merupakan nilai keakraban serta nilai persahabatan yang bisa dibangun oleh warga Suku Dayak Kenyah dengan para tamunya.

Tarian persahabatan Kanjet Lasan
Tarian persahabatan: Kanjet Lasan, di Desa Budaya Pampang.

Baik Tarian Kanjet Lasan maupun Tarian Kanjet Lemada Lasan, keduanya diiringi oleh Laing Along, seorang warga Desa Budaya Pampang berusia 42 tahun yang memainkan alat musik tradisional khas Suku Dayak yang sekilas mirip serta gitar. Alat musik tersebut dibuatnya sendiri dari kayu bulat yang dilubangi dan diberi senar. Menurut Laing Along, kayu apapun bisa digunakan untuk membuat alat musik tersebut. Kamu mau coba bikin?

Usai melihat tarian Kanjet Lemada Lasan dan tarian Kanjet Lasan, kami nggak henti-hentinya terkesima. Kunjungan kami ke Desa Budaya Pampang pun berakhir dengan foto-foto seru bersama para tetua adat serta adik-adik Suku Dayak Kenyah yang cantik. Jika kamu hendak pergi ke Desa Budaya Pampang, ada tarif yang harus kamu bayar lho saat berfoto.

Tetua adat di Desa Budaya Pampang
Para tetua adat di Desa Budaya Pampang.

Bareng adek-adek Dayak Kenyah

Selfie bareng suku dayak

Keberadaan Desa Budaya Pampang mungkin sedikit banyak menimbulkan pertanyaan, apakah keberadaan desa tersebut membawa hal yang baik karena terkesan dikomersialisasi. Saya sendiri, sih, berusaha memaknainya dari sisi positif saja. Seenggaknya, keberadaan Desa Budaya Pampang membuat kita menjadi lebih mengenal Suku Dayak Kenyah asli. Mulai dari adat, budaya, hingga seni, semuanya bisa kamu pahami lebih dalam dengan mengunjungi Desa Budaya Pampang.

Para Suku Dayak Kenyah di Desa Pampang
Sampai jumpa lagi, Desa Budaya Pampang!

***

Cerita perjalanan ini merupakan rangkaian perjalanan Road Trip di Kalimantan bersama Terios 7 Wonders “Borneo Wild Adventure” tahun 2015.

Written by
Sefin
TheJournale