
Saya seringkali dihujani pertanyaan mengenai pantai mana yang terindah di Indonesia dan saya merasa tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan karena ada terlalu banyak dan baru sedikit yang saya datangi. Dan tidak, kali ini saya tidak akan membahas tentang Raja Ampat. Kali ini saya akan bercerita tentang Tanjung Bira di Sulawesi Selatan.
Sebagai seseorang yang tidak begitu menyukai keramaian, Pantai Tanjung Bira bisa diibaratkan seperti Pantai Kuta di Bali. Ramai dan selalu penuh pengunjung, terutama di sore hari. Meski demikian, Tanjung Bira berhasil merebut hati saya.
Saya ingat betul hari-hari saya saat berada di sana pada Agustus 2014 yang lalu. Hari-hari yang terasa seperti di surga. Paradays.
Disambut oleh sebuah gerbang yang didominasi warna merah bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Wisata Tanjung Bira”, jiwa saya saat itu tidak bisa tidak ikut bersemangat. Rasanya saya ingin sekali berteriak “Merdeka!”, apalagi hari pertama di Tanjung Bira merupakan H-4 Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 dan H-15 hari wisuda. Jujur saja, saat itu saya begitu deg-degan. Saya tidak sabar untuk mencium aroma laut yang khas di bawah barisan awan putih yang terlihat begitu empuk dan menyenangkan.

Tidak terasa, matahari sudah mau tenggelam. Hari pertama di Tanjung Bira saya habiskan dengan lebih banyak duduk di tepi pantai sambil mengamati sekeliling. Sunset menutup hari dengan begitu sempurna, warnanya jingga dengan semburat merah muda yang malu-malu. Pasir pantai tidak lagi terlihat putih, bahkan saya sudah tidak lagi melihat jari-jari kaki saya sendiri. Gelap. Hari mulai sunyi.
Hari kedua di Tanjung Bira saya dan teman-teman habiskan dengan mencelupkan diri ke air laut; snorkeling. Beberapa puluh menit dengan kapal cepat, kami menyeberang ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe. Soft corals yang bergoyang ke sana kemari di dalam laut terlihat seperti sedang menari. Ikan-ikan kecil berkeliaran. Pemandangan bawah laut Pulau Kambing 
Sepulang dari Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe, mata saya langsung tertuju pada seorang anak yang tengah berdiri memandang ke bawah. Tangannya bertumpu pada dinding beton sebuah warung. Saat itu saya tengah menuju ke hotel. Dia tengah memerhatikan ibu dan adiknya yang sedang asyik bercengkerama di atas pasir pantai. Kedua matanya tidak bisa lepas memandangi mereka. Saya seperti ikut merasakan rasa ingin tahu dan kepolosannya.
Saya tidak mengenal anak kecil itu, ibunya, ataupun adiknya, tapi entah kenapa, saya merasa akrab. Saya teringat rumah. Saya teringat bagaimana saya bercengkerama dengan ibu dan adik-adik saya waktu kecil. Akhirnya saya pun sadar, segala sesuatu yang sederhana memang begitu membahagiakan.
Hari terakhir di Tanjung Bira. Bangun dengan enggan, akhirnya saya dan teman-teman berhasil mengejar sunrise yang bangkit perlahan-lahan. Dia muncul dengan awan-awan, terlihat seperti tengah bertabur asap. Sekali lagi, Tanjung Bira berhasil mencuri hati saya.











Aaakk pengen ke sanaaaaaaa T___T
Ayo, Kak! Mesti banget ke sana. Ajak suamimu ajaaa~ kalo mau yang lebih private bisa ke Bara Beach ^^