Kuliah di UI sebagai Seorang Tionghoa dan Non-Muslim

Kuliah di UI sebagai Seorang Tionghoa dan Non-Muslim

Sudah satu bulan berlalu sejak saya mulai menuliskan postingan ini tanpa menyelesaikannya sampai tuntas. Tepatnya pada 28 Maret 2017 yang lalu. Saya berada dalam dilema dan kesedihan, apalagi belakangan ini banyak kasus dan berita soal isu intoleransi antar umat beragama di Indonesia. Namun, saya merasa perlu menuliskan pengalaman saya ini.

Sebagai seorang warga Indonesia keturunan Tionghoa dan seorang non-Muslim, saya sering banget dapet pertanyaan, “Nggak apa-apa gitu lo kuliah di UI? Nggak ada yang rasis apa?” Saya pun biasa menanggapi pertanyaan tersebut dengan sebuah senyuman simpul. Terbiasa belajar di sekolah swasta sejak playgroup hingga SMA, dimana mayoritas orang-orang di lingkungan saya adalah non-Muslim dan kebanyakan juga keturunan Tionghoa, tentu saya memiliki bahnya kekhawatiran dan keraguan sebelum akhirnya memutuskan untuk kuliah di UI.

Kekhawatiran bahwa saya akan diperlakukan dengan rasis dan nggak adil karena saya adalah seseorang dari kalangan minoritas. Dan kekhawatiran tersebut nggak dialami oleh saya sendiri. Mulai dari teman-teman dekat hingga keluarga, mereka begitu khawatir. Saya juga sempat ragu kalo nantinya saat kuliah di UI, saya akan didiskriminasi dan nggak bisa beradaptasi dengan teman-teman baru.

Saya mulai kuliah di UI pada Agustus 2010. Usia saya saat itu masih 18 tahun. Meskipun saya terbiasa berada di lingkungan sesama keturunan Tionghoa dan non-Muslim, sebelum kuliah di UI saya juga biasa berteman dengan teman-teman ‘pribumi’ dan Muslim–walau sebenarnya saya nggak pernah suka dengan istilah ‘pribumi’ karena bagi saya, setiap orang yang lahir, besar, dan tinggal di Indonesia adalah seorang pribumi. Saya ingat betul bagaimana saya sering bermain dengan anak-anak yang tinggal di kampung dekat kompleks rumah saya. Mulai dari main masak-masakkan hingga main sepak bola di lapangan dekat rumah. Dan mereka nggak pernah sekalipun memperlakukan saya secara berbeda.

Pengalaman bergaul dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pada akhirnya membuat saya berpikir lebih optimis dan positif bahwa saya pasti bisa beradaptasi dengan teman-teman baru di UI sekalipun saya mungkin ‘berbeda’. Apalagi, dari kecil saya selalu percaya pada prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang sudah ‘dicekoki’ pada semua warga negara Indonesia sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Jika ada yang belum tahu, saya dulu kuliah jurusan Sastra Inggris atau Program Studi (Prodi) Inggris di UI. Di angkatan saya, yaitu di angkatan 2010, totalnya kurang lebih ada 100 orang dengan 60 orang dari program reguler dan sekitar 40 orang dari program paralel. Dari 100 orang tersebut, saya ingat hanya ada 4 orang yang merupakan keturunan Tionghoa termasuk saya sendiri; 3 perempuan dan 1 laki-laki. Kepercayaan kami pun berbeda-beda; ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada yang Buddha, sementara saya sendiri beragama Katolik.

4:96 sama sekali bukan angka yang besar. Hanya 4% mahasiswa-mahasiswi keturunan Tionghoa yang belajar di jurusan saya. Kenapa hanya ada 4 orang? Saya tahu betul, ini bukan perkara UI yang dianggap rasis dalam menerima mahasiswa dan mahasiswinya. Hal ini terjadi karena adanya anggapan bahwa WNI keturunan Tionghoa seperti saya hampir nggak mungkin diterima menjadi mahasiswa di UI. Jadilah, banyak WNI keturunan Tionghoa yang takut untuk mencoba ‘masuk’ ke UI. Belum lagi, kami (ya, termasuk saya) takut bila kami diperlakukan secara rasis saat masuk ke UI. Dan anggapan atau pemikiran ini sebenarnya nggak hanya terjadi di UI saja, tapi juga di universitas-universitas negeri yang lain.

Awalnya, saya memilih mencoba ‘masuk’ ke UI karena saya ingin mencari suasana baru setelah sebelumnya saya sekolah di dekat rumah. Selain itu, saya juga ingin kuliah dengan biaya yang lebih murah, apalagi sejak tahun 2009 Papa (hingga sekarang) sudah nggak bekerja lagi karena sakit stroke. Alasan yang begitu simpel, bukan? Meski awalnya banyak orang-orang di sekitar saya yang takut bahwa saya akan diperlakukan secara rasis dan nggak adil sebagai seseorang yang dianggap ‘minoritas’, tapi toh nasib akhirnya membuat saya belajar di UI untuk ‘membuktikan’ apakah semua anggapan buruk tentang kuliah di UI, terutama di kalangan minoritas.

Singkat cerita, saya beradaptasi dengan amat sangat baik sekali di UI. Nggak ada tuh yang namanya perlakuan rasis hanya karena saya seseorang keturunan Tionghoa dan non-Muslim–sekalipun saya bertemu dan berkenalan dengan teman-teman Muslim yang ‘mungkin’ terlihat keras dan fanatik. Selama 4 tahun kuliah di UI, saya sempat bergabung dengan grup orkestra UI, mengikuti organisasi pertukaran mahasiswa yang membuat saya bisa mencicipi kehidupan di Turki, menjajal kemampuan bermain biola saya dengan ikut teater sebagai pemusik dan sempat jadi anggota band… Ah, intinya kuliah di UI benar-benar membuat saya mengalami hal-hal yang nggak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya. 🙂

Bahkan saya sempat menjadi model untuk kalender UI. Hehehe… Kalender itu sampai sekarang masih dipajang di rumah saya oleh Mama. 🙂

Kuliah di UI sebagai Seorang Tionghoa dan Non-Muslim
Foto oleh Mama

Sekali-kalinya saya pernah diperlakukan secara rasis selama kuliah di UI, kejadiannya pun nggak terjadi di dalam UI, melainkan di Jalan Margonda Raya saat saya sedang berjalan kaki dan ada beberapa orang yang memanggil saya “Cici… Cici mau ke mana, Ci?” Yep, catcalling. I hate it. Selain itu, saya nggak pernah sekalipun diperlakukan secara berbeda selama kuliah di UI.

Kuliah di UI membuat saya percaya bahwa saya bukanlah kaum minoritas. Karena bagi saya sendiri UI adalah salah satu miniatur Indonesia. Di UI saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang dan dari berbagai daerah–dari Sabang sampai Merauke. Dan nggak hanya di UI saja, saya percaya bahwa ada banyak tempat untuk kami yang disebut-sebut sebagai kaum minoritas di Indonesia. Bahkan kedua adik saya juga bisa beradaptasi dengan baik di dua universitas negeri lain yang berbeda dengan saya. Satu adik saya kuliah di Unpad dan satu adik saya kuliah di UNS. Kami beruntung, kami dibesarkan di keluarga yang nggak takut untuk melepaskan ketiga putri mereka untuk kuliah di universitas negeri yang berbeda meskipun mereka sering mendengar kabar miring tentang perlakuan nggak adil bagi kaum minoritas seperti kami.

Sayangnya, belakangan ini banyak isu-isu soal intoleransi antar umat beragama yang beredar. Saya sedih. Baru kali ini saya benar-benar sadar bahwa saya adalah kaum minoritas dan sepertinya nggak ada tempat untuk mereka yang dianggap non-pribumi dan non-Muslim. Ini bukan masalah Ahok-Djarot yang nggak terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur, tapi tentang betapa sempitnya pemikiran mereka yang merasa ‘berhak’ untuk memperlakukan kaum minoritas secara nggak adil. Sepertinya memang banyak yang lupa bahwa Indonesia punya prinsip Bhinneka Tunggal Ika. 

Namun ketika saya bersedih hati dan kecewa akan isu-isu tersebut, di saat itulah saya sadar bahwa saya masih punya harapan tentang toleransi antar umat beragama dan keberagaman di Indonesia dengan hadirnya teman-teman saya yang berasal dari berbagai latar belakang. Pengalaman saya kuliah di UI sebagai seorang Tionghoa dan non-Muslim mungkin nggak seberapa, tapi buat saya sendiri, pengalaman kuliah di UI selama 4 tahun benar-benar membuat pikiran saya terbuka. Saya pun terus berusaha mendorong teman-teman sesama keturunan Tionghoa dan non-Muslim yang ingin belajar di UI dan di universitas negeri lainnya untuk nggak begitu saja melepaskan mimpi mereka. Percayalah bahwa kita bisa belajar di manapun dan kita bukanlah minoritas. Kita semua adalah warga negara Indonesia tanpa terkecuali.

Dan bila selama ini para orang tua kaum minoritas seperti saya memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah swasta, saya tahu betul, bahwa selain karena kepercayaan orang tua pada kualitas sekolah tersebut, orang tua juga memiliki kekhawatirannya sendiri bila anak-anak mereka akan diperlakukan nggak adil bila disekolahkan di sekolah negeri. Kekhawatiran dan ketakutan tentu akan selalu ada, tapi saya yakin bahwa akan selalu ada harapan untuk toleransi dan solidaritas di setiap sudut Indonesia.

Saya berharap Bhinneka Tunggal Ika bukan hanyalah hafalan belaka. Saya pun sudah membuktikannya selama saya kuliah di UI. Dengan kuliah di UI, saya jadi punya harapan akan Indonesia yang memiliki jiwa solidaritas yang tinggi dalam menyambut keberagaman serta memiliki jiwa toleransi antar umat beragama. Semoga harapan saya bisa benar-benar terkabul suatu hari nanti. Semoga.

Written by
Sefin
TheJournale