Ke Ubud Sendirian? Kenapa Nggak?

The Journale Liburan ke Ubud Bali

Sejujurnya, saya masih sangat ragu dalam menulis postingan ini karena saya belum pernah solo traveling. Walaupun saya sudah pernah pergi nonton konser sendirian di Bali dan (ehem) bolos kuliah, serta pernah mengikuti sebuah workshop (yang juga di Bali) dengan orang-orang yang sama sekali asing, saya toh nggak sepenuhnya sendirian.

Meski demikian, saya selalu merasa bahwa kota Ubud, Bali, adalah salah satu kota teramah yang nggak akan pernah membuat saya merasa asing. Selalu ada sesuatu yang membuat saya rindu pada Ubud. Selalu ada sesuatu yang membuat saya ingin kembali padanya. (Ini Ubud loh, ya, bukan yang lain. Hehe…)

Ubud, yang terletak hanya beberapa jam saja dari Denpasar, menurut saya sangat ramah untuk orang-orang yang ingin solo traveling. Salah satu alasannya adalah karena kita bisa pergi berjalan kaki sendirian keliling Ubud, tanpa harus merasa takut. Tentunya, jarak tempat-tempat di Ubud bukan hanya “selompatan kaki” saja, karena jarak sifatnya begitu relatif. Untuk saya sendiri, berjalan kaki keliling Ubud bisa menjadi alternatif seru solo traveling sambil sedikit berolahraga, terutama saat kita menjumpai jalanan Ubud yang terkadang menanjak. Dan kalau kamu bisa mengendarai sepeda motor dan malas ngos-ngosan serta banjir keringat setelah berjalan kaki, kamu juga bisa menyewa sepeda motor dengan harga sekitar 50 ribu rupiah per hari.

Berjalan kaki dan bersepeda motor keliling Ubud. – Sumber: intelligenttravel.nationalgeographic.com

Selain asyiknya jalan-jalan sendirian berkeliling kota, Ubud juga cocok untuk solo traveling karena cukup terjangkau dan nyaman, terutama untuk perempuan manja seperti saya. Di Ubud, kamu bisa menginap di sebuah guesthouse yang cukup nyaman dengan biaya sekitar 150 ribu rupiah per malam, dan bila kamu punya budget lebih, kamu bisa menginap di penginapan yang super nyaman dengan biaya sekitar 400 hingga 500 ribu rupiah per malam.

Dan sebelum saya memberikan alasan-alasan lain kenapa kamu bisa mencoba solo traveling di Ubud, nggak ada salahnya kamu coba lihat-lihat hotel di Ubud lewat situs Travelio.com, seperti yang telah saya lakukan. Menurut saya, booking hotel di Travelio.com jauuuh lebih menguntungkan buat para budget traveler karena kita bisa menawar harga per malam untuk penginapan yang kita inginkan. Jadi, nggak cuma belanja di pasar tradisional saja kita bisa menawar harga, di Travelio.com juga bisa!

Nah, untuk langkah awal booking hotel di Travelio.com, kamu tentunya perlu menentukan tanggal dan kota yang ingin kamu datangi untuk solo traveling. Di bawah ini, saya memilih akhir pekan libur lebaran mendatang untuk berlibur ke Ubud. Selain itu, saya juga menyaring harga untuk penginapan yang ingin saya booking dengan memilih rentang harga 590 ribu rupiah hingga 950 ribu rupiah.

Daftar penginapan di Ubud yang sesuai budget saya.

Dan setelah saya melihat-lihat, saya jatuh cinta pada Villa Kemuning Ubud yang terletak di samping sawah.

Villa Kemuning Ubud yang memikat hati saya!

Saya pun langsung mencoba menawar harga dengan klik “tawar sekarang” supaya bisa menginap di Villa Kemuning Ubud. Dari harga 844.933 rupiah, saya berhasil memperoleh harga 554.000 per malam yang langsung bikin Lio, singa di Travelio.com kegirangan. Yaaay! Lumayan banget, saya dapat diskon hampir 300 ribu rupiah!

Harga yang saya tawar sambil melihat-lihat jarum meter keberhasilan di Travelio.
Harga yang saya tawar sambil melihat-lihat jarum meter keberhasilan di Travelio.
Lio yang kegirangan karena tawaran saya berhasil.
Lio yang kegirangan karena tawaran saya berhasil.

Asyiknya booking hotel lewat Travelio.com, kamu bisa dapat harga yang sesuai dengan kantongmu asal kamu nawarnya nggak sadis-sadis banget. Dalam booking Villa Kemuning Ubud ini sih saya termasuk beruntung karena dapat diskon yang lumayan besar. Supaya kamu bisa dapat harga yang juga lumayan di Travelio, sebaiknya kamu mengukur tawaranmu dengan jam meter keberhasilan yang ada di sana.

Booking hotel lebih awal menurut saya adalah langkah yang tepat sebelum kamu merencanakan solo traveling, supaya kamu nggak perlu pusing selama berlibur nanti.

Oke, setelah menemukan penginapan yang pas di Ubud, saatnya merencanakan kegiatan-kegiatan seru yang bisa kamu lakukan selama solo traveling di sana.

Untuk tipe orang yang menyukai seni dan budaya seperti saya (ceileh), saya merasa harus melihat sisi lain dari pariwisata Bali yang selama ini terkenal dengan klub malam dan tempat belanja untuk anak muda. Di Ubud, kamu bisa belajar seni dan budaya Bali, seperti belajar memainkan Gamelan Bali, belajar tari Bali, belajar memahat, juga belajar membuat sajenan atau sesajen Bali. Keempat kegiatan ini sudah pernah saya lakukan saat berkunjung ke Ubud dan belum banyak anak muda Indonesia yang tahu bahwa kita bisa melakukan semuanya di Ubud. Supaya kamu bisa melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, kamu bisa tanya-tanya ke warga yang tinggal di sekitar penginapanmu mengenai lokasi Bale Banjar terdekat. Sekadar informasi, Bale Banjar adalah pusat kegiatan masyarakat di Bali yang setingkat dengan Rukun Warga atau RW. Di Bale Banjar inilah, kamu bisa menanyakan jadwal belajar seni dan budaya Bali yang biasanya rutin diadakan untuk turis atau jika memang belum ada, kamu bisa bertanya apakah di Bale Banjar tersebut kamu bisa belajar seni dan budaya Bali.

Contoh Bale Banjar di Ubud. – Sumber: balisurfadvisor.com
Belajar memainkan Gamelan Bali di Ubud.
Belajar memainkan Gamelan Bali di salah satu Bale Banjar di Ubud. – Foto: Maggie Allen
Belajar tari Bali di salah satu Bale Banjar di Ubud.
Belajar tari Bali di salah satu Bale Banjar di Ubud. – Foto: Maggie Allen
Belajar memahat dengan warga setempat di salah satu Bale Banjar di Ubud.
Belajar memahat dengan warga setempat di salah satu Bale Banjar di Ubud.
Belajar membuat sajenan Bali di salah satu Bale Banjar di Ubud.
Belajar membuat sajenan Bali di salah satu Bale Banjar di Ubud.

Setelah belajar seni dan budaya Bali yang sedikit menguras energi dan pikiran, tentu kamu juga harus memikirkan perutmu! Untuk alternatif jajanan enak khas Bali, saya merekomendasikan tipat tahu yang biasa dijajakan dengan sepeda motor. Ketika saya berkunjung ke Ubud tahun lalu, tipat tahu menjadi salah satu makanan favorit saya karena sangat ramah kantong dan enak! Harganya hanya 7 ribu rupiah per porsi dan perut saya seperti sedang berdisko saking nikmatnya. Tipat tahu sendiri sebenarnya mirip dengan ketoprak, tapi tanpa bihun dan biasa ditaburi irisan cabe rawit.

Tipat Tahu yang saya nikmati di Ubud tahun lalu.
Tipat tahu yang saya nikmati di Ubud tahun lalu.

Nggak hanya tipat tahu, kamu juga bisa menikmati Nasi Campur Bali Bu Chandra yang murah meriah. Dalam satu porsi nasi campur, kamu bisa menikmati ayam suwir, sate lilit, satu butir telur, tempe, sayur, juga kerupuk kulit. Dan kalau kamu suka sekali nyemil, terutama yang manis-manis, ada banyak kios gelato di Ubud yang siap memanjakan lidahmu, apalagi di tengah terik siang hari Ubud. Dan untuk makan malam, saya sangat menyukai pasta dan pizza di Pizza Bagus yang mungkin bisa kamu coba bila ingin makanan masakan luar negeri.

Nasi Campur Bali Bu Chandra
DSCN1999
Gelato yang saya nikmati di Gelato Secrets, Ubud.

 

Pizza Bagus, Ubud – Sumber: blog.kura2guide.com
Salah satu pizza di Pizza Bagus – Sumber: ongcl86.blogspot.com

Untuk kamu yang suka solo traveling, tapi nggak terlalu suka suasana yang sepi, kamu bisa datang ke Ubud saat ada festival atau perayaan yang sedang berlangsung. Biasanya, harga tiket pesawat ke Bali saat ada festival atau perayaan akan sedikit lebih mahal, tapi pengalaman yang akan kamu dapatkan juga nggak akan ternilai harganya! Saya sendiri pernah datang ke Ubud saat ada Ubud Writers Readers Festival dan upacara adat Tjampuhan pada tahun lalu, dan jujur saja, semua itu benar-benar pengalaman yang luar biasa! Pada tahun 2012, saya juga pernah ikut merayakan Galungan di Ubud dan mata saya begitu berbinar-binar saat melihat para perempuan Ubud dibalut kebaya Bali yang cantik.

Ubud Writers Festival 2014 yang saya hadiri. – Sumber: ubudwritersfestival.com
Perayaan Tjampuhan 2014 di Ubud.
Upacara Tjampuhan 2014 di Ubud.
Hari Raya Galungan – holidaysia.com
Para perempuan Bali yang tampil cantik dengan kebaya mereka di Hari Raya Galungan. – Sumber: binginbanjah.wordpress.com

Dan meskipun sudah beberapa tahun ini saya pergi ke Ubud terus-menerus, Ubud nggak pernah berhenti memberikan sesuatu yang baru untuk saya. Ubud selalu memberi kejutan. Mulai dari pengalaman tinggal di sebuah guesthouse yang ternyata dimiliki oleh seorang pelukis terkenal bernama Ketut Madra, menemukan lukisan cantik di dinding sebuah rumah makan Padang di tengah malam, hingga bertemu dengan para mbok yang begitu ramah dan murah senyum di Pasar Ubud.

Menginap di guesthouse milik seorang pelukis terkenal, Ketut Madra – Sumber: ketutmadra.com
Sosok Ketut Madra yang sering melukis di rumah – Sumber: ketutmadra.com
Lukisan indah yang saya temukan di sebuah dinding rumah makan Padang di Ubud.
Lukisan indah yang saya temukan di sebuah dinding rumah makan Padang di Ubud.
Seorang mbok ramah di Pasar Ubud yang membuatkan sebuah ketupat mungil untuk saya.
Seorang mbok ramah di Pasar Ubud yang membuatkan sebuah ketupat mungil untuk saya.
Seorang mbok murah senyum yang lain tengah bersiap mengantarkan sajenan ke sebuah pura.
Seorang mbok murah senyum yang lain tengah bersiap mengantarkan sajenan ke sebuah pura.

Sebenarnya, masih ada terlalu banyak lagi kegiatan yang kamu lakukan saat solo traveling di Ubud, seperti mengikuti kelas yoga, pergi spa di hotel mewah, atau sekadar minum kopi di sebuah kedai sambil melamun. Akan tetapi, saya hanya akan merekomendasikan beberapa kegiatan: belajar seni dan budaya Bali, datang ke Ubud saat ada festival atau upacara keagamaan, serta menikmati variasi kuliner yang ditawarkan di setiap sudut jalan Ubud. Dan kalau kamu masih punya banyak waktu, kamu bahkan bisa berkeliling sambil menikmati suasana dan hiruk-pikuk kota Ubud.

Jadi, kapan kamu mau bertualang sendirian ke Ubud?

Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition”  yang di-host oleh wiranurmansyah.com  dan disponsori oleh Travelio.com 

Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

13 comments
The Journale