Hari Kartini sebentar lagi tiba! 😀 Apa yang ada di pikiranmu saat mendengar “Hari Kartini”? Lagu “Ibu Kita Kartini” pasti nggak kelupaan, kan? Nah kali ini, saya akan bercerita sedikit tentang “Kartini versi Saya”, yaitu Mama. Dalam rangka menyambut Hari Kartini di tahun 2016, saya ikutan posting dong #UntukPerempuan-nya Heritage Indonesia. Kamu sudah ikutan belum?
Mungkin jawaban saya bisa dibilang klise, tapi Mama memang sosok Kartini versi saya. Memiliki tiga orang putri dan seorang suami yang keempatnya keras kepala, Mama selalu sabar untuk menghadapi kami semua. Kesabaran Mama saya pun juga diuji sejak tahun 2009 hingga sekarang, yaitu ketika Papa terserang stroke dengan pendarahan di otak tepat beberapa hari setelah Papa berulang tahun yang ke-49.
Di usia yang begitu muda, Papa terserang stroke. Sejak saat itu Papa sudah nggak bekerja lagi sementara kami semua (para putrinya) masih sekolah. Keadaan keluarga kami bisa dibilang sulit, apalagi Mama juga telah menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Jadi, bisa dibilang kami sudah nggak punya pemasukan lagi selain mengandalkan tabungan yang ada. Dan itu berlangsung sampai sekarang.
Untungnya, Mama adalah sosok ibu yang terbiasa hidup sederhana dan cukup pandai mengatur keuangan. Jadilah, kami masih bisa bertahan dan hidup cukup. Dari Mama, saya belajar banyak hal. 🙂
Di tahun 2014, kurang lebih 5 tahun setelah Papa sakit stroke, tiba-tiba Papa menjadi lupa akan banyak hal atau terserang dementia. Mungkin orang lebih kenal kata “pikun” daripada dementia. Yang jelas, di tahun 2014 saat saya sudah berada di semester akhir kuliah, adik tengah saya; Joan sudah berkuliah, dan adik bungsu saya; Chika sudah duduk di bangku SMA, Papa ingatnya saya baru masuk kuliah, Joan masih SMA, sementara Chika masih SMP.
Tentu saja kami kaget bukan main karena Papa tiba-tiba terserang dementia. Akan tetapi, sebagai seorang ibu dan istri, Mama dengan sigap dan sabar menguasai keadaan. Perasaan kami tentu campur aduk. Dan beberapa bulan lalu, saat saya pergi menemani Mama dan Papa ke dokter saraf, akhirnya Papa diduga menderita penyakit Alzheimer. Saya sendiri nggak begitu kaget karena saya sudah lama mengira-ngira Papa menderita Alzheimer setelah banyak membaca artikel tentang dementia dan Alzheimer.
Meski Alzheimer kebanyakan menyerang orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas, memang bukan nggak mungkin orang dewasa  yang sudah pernah terserang stroke kemudian terserang penyakit Alzheimer seperti Papa. Yang jelas, Alzheimer bukanlah penyakit ringan yang bisa disembuhkan dan hanya bisa diperlambat dengan konsumsi obat.
Menjadi Mama sangatlah nggak mudah. Di usia yang masih cukup muda, Mama harus memikirkan bagaimana ketiga putrinya bisa sekolah dan tumbuh dewasa seperti anak-anak lainnya sementara di rumah sudah nggak ada pemasukan lagi. Di sisi lain, Mama dengan penuh kesabaran dan cinta merawat dan menjaga Papa yang sakit stroke, dementia, dan Alzheimer. Menjadi Mama tentu bukanlah hal yang mudah, tapi dari Mama, saya belajar tentang bagaimana menerima keadaan dan bersabar.
Singkat kata, Mama adalah Kartini versi saya. Dari Mama, saya belajar banyak hal, terutama tentang kehidupan. Terima kasih banyak, Mama. Selamat Hari Kartini! 🙂
Foto iseng-iseng bersama Mama dan Papa. (1) Foto iseng-iseng bersama Mama dan Papa. (2)Setelah saya menceritakan bagaimana Mama adalah Kartini versi saya, sekarang giliranmu. Siapa Kartini versi kamu?


Selamat Hari Kartini untuk Mbak Sefin dan Ibunda. Semoga sehat dan sukses selalu, menginspirasi semua orang dan semoga keberkahan senantiasa melimpahi ayahanda dan keluarga. Sabar dan semangat Mbak! 🙂
Makasih banyak, Kak! 😀 Amin amiiin. Tetap semangat! 😀
sefin mamamu mirip banget amamu
Masa sih? Aku malah sering dibilang nggak mirip Mama 😛 Hihihi