My Happiness Project: 1. Mengapa?

Designed by rawpixel.com / Freepik

Sudah beberapa malam saya sulit tidur. Insomnia mungkin, kalo kata orang-orang. Saya sempat googling juga kemarin, insomnia yang saya alami memang disebabkan oleh stres–overthinking tepatnya. Muncul dalam beberapa hari dalam seminggu belakangan dan termasuk cukup ringan, karena yang parah bisa sulit tidur dalam berminggu-minggu selama beberapa bulan. Sepertinya saya cukup beruntung. Pada awal masa karantina, saya sempat giat sekali ikut kelas-kelas online dengan topik healing dan wellness. Saya cukup rajin meditasi. Tapi ya, ternyata rajin saja nggak cukup. Karena ketika kita sedang nggak rajin, kemungkinan stres datang lagi sangat besar… ya, seperti sekarang ini.

Semalam saya tidur jam 00.30 dan untungnya bisa langsung tidur, lalu kemudian saya terbangun karena kebelet mau ke toilet. Saya ngantuk banget. Saya pikir, mungkin sudah jam 6 pagi–tapi ternyata baru jam 4.30 dan masih ada suara yang berkumandang di masjid dekat rumah hingga kira-kira jam 5 pagi. Dalam keadaan mata setengah terpejam, otak saya nggak juga bisa dipejamkan. Saya terus berpikir dan berpikir, terutama tentang hal-hal yang bikin saya stres. Nggak jarang, overthinking bikin migrain kambuh. Kepala bagian kanan saya mulai nyut-nyutan. Hingga akhirnya saya tiba pada pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri: “Apa itu kebahagiaan?”

Saya terus memutar otak. Di masa karantina Covid-19 seperti ini, uang menjadi salah satu isu utama selain kesehatan. Banyak yang di-PHK, banyak yang kehilangan tempat tinggal, dan banyak juga yang terpaksa berutang sana-sini. Saya dan suami pun menemui beberapa kesulitan terkait soal uang, tapi kemudian saya teringat akan beberapa teman yang hidupnya berlimpah dengan uang, dan mereka juga nggak benar-benar bahagia. Mungkin uang memang nggak benar-benar bisa memberikan kebahagiaan. Entahlah, saya juga nggak paham. Saat ini saya hanya bisa mengira-ngira.

Dari malam-malam tanpa tidur yang nyenyak dan pikiran yang terlalu bising, saya pun memutuskan untuk memulai sebuah proyek bagi diri saya sendiri: “My Happiness Project”. Saya lalu sadar, ada buku berjudul “The Happiness Project” yang ditulis oleh Gretchen Rubin–dimana buku ini mungkin bisa membantu saya dalam proyek pribadi tersebut… Tapi entah kenapa, hati kecil saya seperti menolak membacanya. Saya seperti diberikan tantangan untuk menyelesaikan teka-teki sendiri; teka-teki tentang kebahagiaan dalam “My Happiness Project”.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, instan, dan seringnya diukur oleh uang, saya ingin belajar memaknai arti kehidupan serta menemukan kebahagiaan sendiri. Itulah kenapa saya menamainya “My Happiness Project”. Melalui blog ini, saya akan mulai berbagi perjalanan pribadi saya… yang entah akan berakhir kapan. Proyek ini mungkin akan menjadi proyek tanpa akhir yang pasti karena toh hidup ini memang nggak pasti; selalu penuh misteri dan kejutan.

Dan dengan dimulainya “My Happiness Project”, saya akan terus memprioritaskan kesehatan mental saya dan berusaha untuk hidup di masa sekarang–di sini, kini. Proyek pribadi ini saya persembahkan untuk almarhum Papa yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan tepat 7 bulan lalu: 24 Oktober 2019.

Pa, I want to live my life to the fullest as my tribute for you. You will always be in my heart.

Wish me luck. 

Written by
Sefin
TheJournale