Cerita Tentang Gejala Depresi

Cerita Tentang Gejala Depresi

Entah sudah pernah atau belum saya bercerita di blog… tetapi di awal tahun ini saya mengalami gejala depresi untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Saya juga nggak tahu pemicu awalnya apa, yang jelas episode-episode depresi yang saya alami menjadi salah satu titik terendah dalam hidup saya. Mungkin akan ada yang bilang saya lebay atau caper (cari perhatian), tapi saya nggak peduli karena yang paling penting adalah kesehatan mental saya sendiri.

Kira-kira di bulan Februari 2020, saya mulai nggak bisa tidur. Emosi saya seperti roller coaster–naik turun dengan sangat ekstrem. Perasaannya sedikit familiar, tapi lebih banyak nggak familiar. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, perasaan sedih, marah, dan kecewa seperti menggumpal menjadi sebuah awan hitam tebal yang berada di atas kepala saya. Saya hanya ingin sendirian dan mengurung diri. Padahal, sebagai seorang ekstrovert yang terbiasa dan nyaman berada di antara banyak orang, sungguh aneh rasanya ketika saya benar-benar nggak mau bertemu dengan banyak orang.

Awalnya saya menyangkal bahwa saya memiliki gejala depresi, karena saya pikir ini adalah hal yang biasa terjadi pada saya. Sejak kecil, orang-orang terdekat sering bilang bahwa saya adalah seorang yang pesimis dan selalu berpikir negatif. Dengan perkataan tersebut saya sedikit banyak membenarkan, mungkin ini hanya salah satu keadaan dimana saya nggak bisa berpikir positif dan pesimis. Tapi rasanya begitu berbeda dan aneh, jika dulu saya terbiasa memakai topeng untuk menutupi perasaan saya dan selalu tampil sebagai sosok perempuan yang ceria, kali ini saya sudah benar-benar nggak tahan. Saya merasa kosong dan hampa. Bahkan cukup sering terlintas di pikiran saya, saya hanya ingin mati saja.

Cerita Tentang Gejala Depresi
Source: https://www.freepik.com/free-vector/person-covering-emotions-searching-identity_8271071.htm

Hingga akhirnya di bulan April 2020, ketika hampir semua orang sedang giat-giatnya karantina di rumah aja karena pandemi COVID-19, saya mulai bermeditasi. Bermeditasi ternyata cukup bisa menolong saya untuk meredakan gejala depresi yang saya alami. Jika sebelumnya saya sulit tidur atau bahkan susah untuk bangun (kebanyakan tidur), sejak rutin bermeditasi, pola tidur saya sudah mulai kembali normal. Saya mulai bisa beraktivitas lagi mesti belum bisa seperti dulu, tapi sudah jauuuh lebih baik. Seenggaknya, pikiran saya nggak terasa kosong seperti sebelumnya.

Namun di bulan Juni 2020, saya kembali mengalami episode-episode gejala depresi. Ketika nggak bisa tidur, saya hanya ingin membenturkan kepala saya ke dinding. Saya ingin minum 1 botol penuh melatonin 3 mg yang saya punya. Saya ingin lari dan berhenti merasakan kekosongan. Jika sebelumnya saya merasakan bahwa meditasi menolong, kali ini saya salah. Ternyata saya hanya lari sementara saja dari gejala depresi yang saya alami. Efeknya sangat buruk bagi kesehatan jiwa dan raga saya. Mumet sekali.

Cerita Tentang Gejala Depresi
Source: https://www.freepik.com/premium-vector/woman-depression-with-bewildered-thoughts-her-mind_4833840.htm

Dan setelah berkomunikasi dengan salah seorang sahabat, akhirnya saya memutuskan untuk mencari pertolongan. Ia paham betul akan gejala depresi yang saya alami, dan ia menyarankan saya untuk pergi konseling dan hipnoterapi. Ia sendiri sudah pernah beberapa kali hipnoterapi dan katanya sangat membantu ia pulih dari berbagai luka batin serta trauma yang ia alami. Walau setengah ragu karena memikirkan masalah biaya, akhirnya saya berani mengambil langkah untuk menolong diri saya sendiri.

Karena pandemi COVID-19, sesi konseling dan hipnoterapi yang saya lakukan hanya bisa via online. Pertemuannya dibagi menjadi 2 kali: sesi konsultasi pertama dan sesi hipnoterapi. Sesi konsultasi pertama berlangsung selama 2,5 jam dan sesi hipnoterapi berlangsung selama 3 jam. Rasanya sangat melelahkan sekaligus melegakan. Bahkan luapan emosi yang keluar sempat membuat saya demam selama beberapa hari dan katanya itu adalah hal yang wajar.

Kini, saya bisa bilang bahwa saya sudah merasa jauuuh lebih baik. Meski saya nggak yakin akan selalu baik-baik saja, tapi saya tahu, ketika gejala depresi datang kembali, saya pasti bisa mengatasinya meski nggak mudah–karena saya sudah pernah berhasil melewatinya. Saya lega karena saya sudah nggak pernah berpikir untuk mati lagi. Hidup saya terasa begitu berbeda sekarang. Emosi saya pun menjadi lebih stabil dan untuk pertama kalinya, saya merasa sangat present–sangat hadir di masa kini. Saya nggak lagi menyesali masa lalu dan takut pada masa depan.

Sebelum saya mengakhiri postingan blog ini, saya ingin merekomendasikan salah satu episode dari Podcast favorit saya: DISKO (Diskusi Psikologi) yang berjudul “Kenali Gejala Depresi dan Mulai Lakukan Sesuatu”. Hampir semua episode di Podcast DISKO turut membantu proses pemulihan saya dari gejala depresi dan saya amat bersyukur.

Jika kamu mengalami gejala depresi yang mirip dengan saya alami atau yang mirip dengan yang dijelaskan di episode Podcast di atas, saya harap kamu bisa segera mencari bantuan profesional. Penyembuhan diri sangatlah penting, terutama kesembuhan kesehatan mental kita. Mencari pertolongan profesional untuk gejala depresi nggak bikin kita lemah, tapi justru bikin kita jadi orang yang lebih kuat. Semoga kita selalu sehat, ya. Terima kasih sudah membaca postingan blog ini. 🙂

Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

6 comments
TheJournale