Mulai aktif traveling sejak tahun 2011, bisa dibilang saya sudah lumayan kenyang menghadapi delay atau penerbangan yang tertunda. Kalo diinget-inget sekarang sih, tentu bikin geli dan ketawa sendiri. Tapi kalo diinget-inget bagian keselnya… duh! Kadang bikin kapok traveling dan bikin kepingin berada di rumah aja tanpa ngapa-ngapain. Yang paling lama, tentu waktu saya pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, sendirian pulaaak… itu ke Turki, dan saya harus menginap di bandara sendirian.

Nah, di postingan ini saya mau cerita beberapa perjalanan dengan delay paling epic yang pernah saya alami. :”D

Delay Pertama: Menuju Turki di 2011

Pertama kalinya traveling ke luar negeri, saya bertemu dengan banyak teman baru. Namun, perjalanan menuju Turki nggak semudah yang saya kira. Saya harus menginap dulu di bandara Doha, Qatar sebagai tempat transit karena pesawat yang saya naiki dari Jakarta menuju Doha nggak bisa mendarat dan harus bolak-balik selama 4 kali supaya bisa benar-benar mendarat. Pengalaman itu menjadi salah satu yang paling nggak menyenangkan bagi saya. Belum lagi, begitu tiba di Doha pesawat menuju ke Turki sudah berangkat duluan. Jadilah saya ketinggalan pesawat.

Di tahun 2011, penggunaan internet nggak secanggih sekarang. Apalagi, saya nggak paham sama sekali tentang penggunaan internet di luar negeri. Jadilah saya luntang-lantung saat menunggu penerbangan. Untungnya, saya sempat berkenalan dengan satu bapak-bapak baik yang kira-kira seusia kakak-kakak sepupu saya, namanya Om Eric. Beliau bekerja di Pabrik Indomie di Nigeria. Dengan ramahnya, beliau mengajak saya makan siang begitu tahu itulah pertama kalinya saya pergi ke luar negeri–sendirian pula.

Setelah Om Eric terbang ke Nigeria, saya berkenalan dengan Tante Dessy dari Jakarta yang memang sudah lama berpindah-pindah negara karena suaminya bekerja di perusahaan minyak dan gas. Melihat saya yang sendirian, ia pun mengajak saya menunggu bersama keluarganya. Saya begitu senang dapat keluarga baru, seenggaknya saya nggak perlu tidur di kursi bandara sendirian. Saya merasa lebih aman dan nyaman. Pengalaman delay paling epic menuju ke Turki ini benar-benar paling nggak terlupakan.

Delay di Bali: Penerbangan Paling Pagi Menjadi Siang di 2017

Saat itu saya ada acara di Bali dan keesokan harinya saya harus menghadiri acara lagi pada pukul 10.00 di Jakarta. Saya pun minta tiket pesawat paling pagi menuju Jakarta. Saya sih sudah sempat bilang, jangan pakai maskapai yang rawan delay, tapi tetap saja… Bisa dibilang saat itu penerbangan paling bikin kapok sehingga saya nggak mau terbang dengan maskapai itu lagi sampai sekarang.

Pesawat saya harusnya terbang pukul 07.00 WITA, tapi ternyata delay beneran entah sampai jam berapa. Saat masuk ke toilet ruang tunggu, saya bertemu dengan seorang ibu yang bercerita bahwa beliau telah menginap di bandara sejak pukul 23.00 WITA dan saat itu pukul 08.00 WITA, beliau belum juga berangkat. Di saat saya harus tiba pukul 11.00 WIB di lokasi acara, pesawat saya baru berangkat dari Bali sekitar pukul 10.15 WITA.

Ini juga salah satu delay terparah yang pernah saya alami. Pagi itu, bandara Ngurah Rai dipenuhi dengan orang-orang yang kelelahan dan marah karena penerbangan delay parah. Saat itu saya hanya bisa pasrah selain marah. Kalo diinget-inget sekarang sih, lucu banget. Hehehe.

Delay di Yogya: Dari Jam Makan Malam Hingga Tengah Malam di 2018

Penerbangan pulang ke Jakarta dari Yogya harusnya pukul 20.00 WIB. Sejak pukul 18.30 WIB, saya sudah berada di bandara Adi Sutjipto bersama teman saya. Kami pun memutuskan untuk nggak makan malam. Alasannya, kami pikir bisalah makan malam di Jakarta meski agak terlambat. Bolak-balik mengecek papan jadwal penerbangan di bandara, kami lama-lama sangsi. Bandara sudah semakin sepi dan penerbangan kami delay.

Tahu-tahu sudah pukul 21.00 WIB saja. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli makan malam berupa nasi dan ayam geprek yang dijual di salah satu kafe bandara . Sampai pukul 22.00 WIB saat kafe tutup, kami belum juga menerima kejelasan tentang penerbangan. Saya tentu gelisah. Karena di luar sudah semakin gelap, kami memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu bandara.

Di dalam ruang tunggu pun hanya tinggal kami dan penumpang-penumpang lain dari penerbangan tersebut. Pesawat kami baru berangkat menuju Jakarta pukul 23.30 WIB dan tiba di Jakarta hampir pukul 01.00 WIB. Bikin kapok banget. Saya yang biasanya menyukai penerbangan terakhir untuk pulang ke rumah, jadi pikir-pikir lagi. Kayaknya lebih enak sore hari tiba di rumah. :”D

Delay di Jakarta: Dari Jam Makan Siang Hingga Makan Malam di 2018

Penerbangan terakhir di tahun 2018 sungguh berkesan dengan adanya delay yang cukup berkepanjangan. Suami saya sudah berangkat duluan ke Jambi untuk pulang kampung, sementara saya baru bisa menyusul pada 23 Desember 2018 karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan di Jakarta. Penerbangan saya harusnya pukul 13.00 WIB. Saya pikir, asyik juga bisa makan siang di Jambi. Kepingin banget makan bakmi!

Tepat satu hari sebelumnya, saya dapat pesan singkat dari maskapai bahwa penerbangannya ditunda hingga pukul 14.40 WIB. Pupus sudah harapan saya makan siang bakmi di Jambi. Pukul 13.00 WIB, saya berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Begitu check in untuk nge-print tiket, saya baru dapet info kalo pesawatnya delay dan baru bisa berangkat pukul 15.55 WIB. Kacau! Kepala saya langsung nyut-nyutan begitu mendengar kabar delay. Saya sendirian pula!

Alhasil, saya hanya bisa menunggu pasrah di ruang tunggu sambil sesekali mengobrol dengan penumpang lain yang sudah berangkat ke bandara sejak pukul 10.00 WIB, tiba di bandara pukul 12.00 WIB dan masuk ke ruang tunggu pukul 13.00 WIB. Saya bersyukur, seenggaknya saya nggak harus menunggu selama beliau. Pukul 15.50 WIB, kami baru dipanggil untuk diberikan kompensasi berupa kue muffin dan air mineral. Harusnya pesawat sudah terbang pukul 15.55 WIB, tapi pukul 15.50 WIB kami baru dapat kompensasi berupa makanan ringan.

Pukul 16.00 WIB akhirnya kami dipanggil masuk pesawat. Tapi perjuangan belum selesai sampai di sana. Di dalam pesawat, kami masih harus menunggu karena pesawat harus antre terbang dengan pesawat-pesawat lainnya. Saya terus melirik jam tangan, jam berapa pastinya kami terbang. Menunggu selama kurang lebih 1 jam 20 menit, pesawat kami baru benar-benar terbang pukul 17.20 WIB. Untungnya saya sempat membeli donat, sehingga sambil menunggu pesawat terbang, saya masih bisa makan donat untuk mengatasi asam lambung dan maag yang kambuh. :”D

Menutup tahun 2018 dengan penerbangan delay paling epic, saya berharap di tahun 2019 ini nggak ada lagi deh yang namanya kena delay. *ketok meja, amit-amit!* Meski sudah berlalu, kadang rasa kesalnya masih ada. Tapi banyakkan lucunya, sih. Hehehe…

Nah, terus gimana ya biar traveling terhindar dari flight delay?

Amannya penerbangan hanya nasib yang bisa menjawab. :”D Tapi sekarang saya udah nemuin solusi gimana bisa dapet info soal penerbangan yang selalu up-to-date. Ini lumayan bisa mengurangi risiko bete karena jadwal penerbangan yang nggak jelas! Jadi kalo booking tiket pesawat di Traveloka, sekarang udah ada fitur Flight Status atau Status Penerbangan, dimana penumpang bisa tahu info terkini soal jadwal penerbangan dengan menggunakan kode booking.

Untuk bisa menggunakannya, jangan lupa untuk download aplikasi Traveloka dan selalu update aplikasi secara otomatis. Mulai dari versi 3.6 ke atas, pengguna sudah pasti bisa memanfaatkan fitur Status Penerbangan ini! 😀

Cara mengecek status penerbangannya juga gampang banget, kalo kamu punya e-ticket atau tiket elektroniknya, berikut langkah-langkahnya:

 

 

Dan kalo kamu nggak punya e-ticket, nggak usah khawatir. Kamu juga masih bisa mengecek status penerbangan dengan langkah-langkah berikut:

 

Pengecekkan status penerbangan tanpa e-ticket ini juga bisa kamu lakukan saat ingin mengecek status penerbangan orang tua, keluarga, atau teman dekat. Jadi kamu bisa selalu memantau status penerbangan mereka tanpa harus menunggu kabar. Praktisnya lagi, kamu masih bisa ngecek penerbangan yang sudah selesai hingga maksimal 1 minggu sebelum tanggal pengecekkan. Contohnya, jika kamu mengecek di tanggal 4 Januari 2019, kamu masih bisa mengecek hingga jadwal penerbangan di satu minggu sebelumnya, tepatnya di 29 Desember 2018. Sangat praktis, bukan? 😀

Buat saya sih, status penerbangan ini membantu banget. Untuk jadwal traveling berikutnya, tinggal kasih aja nomor penerbangan ke suami saya. Jadi kalo dia mau jemput, dia bisa tau deh apakah penerbangan saya sudah berangkat atau belum, delay, dsb. Apalagi kalo pas di luar negeri atau di luar kota dan susah sinyal… sering banget susah ngabarin suami yang selalu menjemput di bandara…

Oh iya untuk status penerbangannya, kamu bisa lihat di bawah ini, mulai dari Dijadwalkan, Panggilan Terakhir, Di Udara, Mendarat, hingga Tertunda.

Jadi, ya gitu deh cerita delay saya. Menurut kamu, cerita delay paling seru yang mana? 😛 Atau kamu malah punya cerita delay yang lebih epic lagi? Boleh lho di-share. Dan jangan lupa manfaatin fitur Status Penerbangan dari Traveloka ya supaya traveling di sini jadi lebih praktis dan gampang. Ngabarin orang terdekat jadi nggak susah lagi karena fitur ini. Info lebih lanjutnya bisa langsung cek, ya!

Total
18
Shares

16 comments

    1. banget, Ko! Wwkwkwkwk delay tuh melelahkan banget. Nah, bener sih, apalagi kalo yang connecting flight dan beda maskapai… duh pusying!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.