Candi Borobudur dalam Kecanggihan Google

Terakhir kali saya mengunjungi Candi Borobudur adalah di tahun 2006. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMP. Bersama keluarga saya serta keluarga teman Papa, kami memutuskan pergi keliling ke beberapa bagian Pulau Jawa dengan mobil. Jika dihitung dengan jari, sepertinya saya sudah tiga kali berkunjung ke Candi Borobudur sampai akhirnya, pada 27 September 2015 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Candi Borobudur untuk yang keempat kalinya. Meski bukan bersama keluarga, kunjungan saya ke Candi Borobudur tersebut terasa begitu menyenangkan, apalagi karena berhasil membuat saya mengenang masa kecil saya.

Waktu saya kecil, Candi Borobudur terasa begitu besar dan megah. Apalagi, dulu belum ada odong-odong yang membuatmu dapat berkeliling area candi dengan mudah tanpa perlu berjalan kaki jauh-jauh di bawah teriknya matahari. Kini, akhirnya saya menyadari bahwa Candi Borobudur lebih mirip rumah bagi saya. Dengan beberapa kenangan masa kecil yang saya habiskan di Candi Borobudur, mengunjungi Candi Borobudur terasa seperti pulang ke rumah dan melihat-lihat album foto lama.

Akhirnya saya tiba di Candi Borobudur lagi setelah 9 tahun.
Akhirnya saya tiba di Candi Borobudur lagi setelah 9 tahun.

Perjalanan saya ke Candi Borobudur kemarin ditemani oleh Kak Atre yang manis, seorang penulis puitis yang saya kenal dari kampanye #SaveSharks yang kami jalani hingga sekarang. Kami diajak oleh Google Indonesia untuk menghadiri peluncuran fitur Google Street View pada Google Maps serta Google Cultural Institute untuk Candi Borobudur. Kami diajak untuk melihat Candi Borobudur dalam kecanggihan yang dimiliki oleh Google.

Kak Atre, partner perjalanan kesayangan.
Kak Atre, partner perjalanan kesayangan untuk #GoogleBorobudur.

Kira-kira pukul 8 pagi, saya, Kak Atre, serta teman-teman dari media yang diundang, tiba di area Candi Borobudur setelah naik odong-odong. Sesudahnya, tim dari Google pun memulai ‘presentasi’ mereka di bawah teriknya matahari pagi Magelang. Cynthia Wei, Program Manager dari Google Street View menjelaskan cara kerja trekker, ransel ajaib Google Street View yang sudah menarik perhatian kami sejak awal.

Memiliki berat kurang lebih 20 kilogram yang sudah termasuk baterai seberat 2 kilogram, trekker adalah alat canggih berbentuk ransel yang akan membuat kita dapat melihat keseluruhan bagian Candi Borobudur sekalipun kita tengah nggak berada di sana. Dengan 15 kamera yang dimilikinya, trekker menghasilkan gambar panorama 360 derajat. Keren banget, kan?

Bagi saya sendiri, fitur Street View dari Candi Borobudur ini sangat membantu orang-orang yang suka memotret, terlebih sebelum mampir ke Candi Borobudur. Jadi, kita bisa melihat angle-angle mana saja yang menarik dari Candi Borobudur untuk kita jelajahi nantinya saat berkunjung ke sana.

Cynthia Wei, Program Manager dari Google Street View menjelaskan tentang cara kerja trekker.
Cynthia Wei, Program Manager dari Google Street View menjelaskan tentang cara kerja trekker.

Karena berbentuk ransel, tentu ada orang yang bertugas untuk menggendongnya, bukan? Menjadi situs warisan budaya pertama di Indonesia yang ada pada Google Street View, Eko Pramono pun menjadi Mr. Trekker pertama Google di Indonesia. Tentunya, menjadi seorang Mr. Trekker nggak mudah sama sekali. Apalagi, kamu harus berkeliling area Candi Borobudur setiap harinya dengan berjalan kaki. Kami pun sempat melihat bagaimana Mr. Trekker melakukan simulasi pekerjaannya dengan berkeliling Candi Borobudur hingga keringat mengucur terus-menerus dari dahinya. Belum lagi, trekker tersebut sangat berat! Kebayang dong betapa beratnya pekerjaan Mr. Trekker?

Eko Pramono, Mr. Trekker untuk Google StreetView Candi Borobudur; Mr. Trekker pertama di Indonesia.
Eko Pramono, Mr. Trekker untuk Google Street View Candi Borobudur; Mr. Trekker pertama di Indonesia.
Mr. Trekker mengelilingi salah satu stupa di Candi Borobudur.
Sebagai simulasi pekerjaannya, Mr. Trekker mengelilingi salah satu stupa di Candi Borobudur.
Tim Google berfoto di depan Candi Borobudur yang cukup ramai pengunjung siang itu.
Tim Google berfoto di depan Candi Borobudur yang cukup ramai pengunjung.

Jujur saja, saya begitu kagum dengan Mas Eko karena ia tampak begitu menikmati pekerjannya. Sekalipun membawa trekker yang begitu berat, ia nggak henti-hentinya tersenyum sambil berkeliling Candi Borobudur. Makanya, nggak heran deh kalau banyak yang ingin berfoto dengannya setelah ia selesai melakukan simulasi pekerjaannya sebagai seorang Mr. Trekker. Dengan menjadi Mr. Trekker Candi Borobudur, Mas Eko pun secara nggak langsung telah membantu pelestarian Candi Borobudur. Salut!

Semua orang ingin berfoto dengan Mr. Trekker, termasuk saya.
Semua orang ingin berfoto dengan Mr. Trekker, termasuk saya.

Nah, sesudah berkeliling Candi Borobudur dengan tim Google dan Mr. Trekker, kami pun menghadiri konferensi pers yang menjelaskan lebih banyak lagi mengenai fitur Google Street View dan Google Cultural Institute untuk Candi Borobudur. Dan tepat di depan lokasi diadakannya konferensi, saya sempat berfoto dengan mobil Google Street View yang selama ini digunakan untuk memotret tempat-tempat yang cukup luas dan masih bisa dilalui mobil. Meskipun sama-sama berfungsi untuk memotret tempat sehingga menghasilkan foto panorama 360 derajat, penggunaan ransel trekker secara spesifik dimaksudkan untuk mendokumentasikan tempat-tempat yang hanya bisa dilalui oleh manusia dengan berjalan kaki.

Foto dulu di depan mobil Google StreetView.
Foto dulu di depan mobil Google Street View.

Memasuki lokasi konferensi pers, saya pun menjumpai deretan kursi putih serta dekorasi ala Google yang begitu menarik perhatian. Sambil mengelus-elus perut menunggu waktunya makan siang (hehe…), saya melihat dua booth yang telah disediakan Google, yaitu booth Google Maps dan booth Google Cultural Institute. Di dua booth ini, setiap tamu undangan dapat memperoleh lebih banyak informasi mengenai Google Maps serta Google Cultural Institute yang kini telah hadir untuk Candi Borobudur.

Mungkin selama ini kamu sudah cukup familiar dengan Google Maps, tapi bagaimana dengan Google Cultural Institute? Sebagai bentuk kerja sama global antara Google dan 800 institusi budaya di lebih dari 60 negara di dunia, Google Cultural Institute dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang karya seni, budaya, serta sejarah yang ada di dunia. Di Indonesia sendiri, ada 200 artefak kebudayaan dari koleksi Taman Wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan, Ratu Boko, serta Museum Nasional Indonesia yang informasinya bisa diakses di situs Google Cultural Institute. Jika kamu salah seorang pecinta seni, budaya, dan sejarah, tentu ini adalah kabar yang sangat baik, kan? 😀 Ke depannya, semoga ada lebih banyak peninggalan seni, budaya, dan sejarah Indonesia yang tersedia di Google Cultural Institute! 😀

Suasana sebelum konferensi pers peluncuran Google StreetView dan Google Cultural Institute untuk Candi Borobudur.
Suasana sebelum konferensi pers peluncuran Google Street View dan Google Cultural Institute untuk Candi Borobudur.
Booth Google Maps dan Google Cultural Institute di dalam tempat konferensi pers.
Booth Google Maps dan Google Cultural Institute di dalam tempat konferensi pers.
Oleh-oleh kecil dari acara #GoogleBorobudur.
Oleh-oleh kecil dari acara #GoogleBorobudur.

Selama konferensi pers berlangsung, kami pun sempat mendengarkan penjelasan dari beberapa pihak, terutama dari tim Google Indonesia mengenai fitur Google Street View serta Google Cultural Institute yang kini hadir di Candi Borobudur. Menurut Shinto Nugroho, Head of Public Policy & Government Relations dari Google Indonesia, hadirnya Google Street View dan Google Cultural Institute di Candi Borobudur merupakan salah satu bentuk pelaksanaan misi Google untuk mengorganisasi informasi dunia, sehingga bisa mudah diakses dan bermanfaat bagi semua orang. Dengan adanya dua fitur tersebut, Google berharap bisa membantu pelestarian budaya dan sejarah bagi generasi penerus bangsa (baca: generasi kita), serta menginspirasi lebih banyak orang di Indonesia dan seluruh dunia untuk mengunjungi dan mengapresiasi warisan budaya Indonesia.

Dan jika kamu bertanya-tanya mengapa Candi Borobudur menjadi situs pertama di Indonesia yang ‘merasakan’ canggihnya fitur Street View, itu karena menurut Laily Prihatiningtyas, Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, kompleks Candi Borobudur merupakan salah satu kompleks candi tertua di dunia yang bahkan lebih tua 300 tahun daripada Angkor Wat. Apalagi, Candi Borobudur pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban di dunia.

Nggak hanya bisa kembali mengenang masa kecil, menghadiri peluncuran fitur Google Street View pada Google Maps serta Google Cultural Institute untuk Candi Borobudur sesungguhnya membuat saya sadar bahwa masih banyak pihak yang peduli akan warisan seni, budaya, dan sejarah Indonesia. Setelah Candi Borobudur, sudut Indonesia mana lagi yang menurutmu harus dijelajahi oleh Mr. Trekker kedua Indonesia? Kamu boleh lho, memberikan usulan ke tim Google Indonesia dengan mention ke akun twitter mereka: @Google_IDN.

n.b. Di bawah ini adalah dua foto bonus dari saya. 😛

Asyiknya berfoto di tempat yang telah disediakan. Saya, Kak Atre, dan Landra dari NET TV.
Asyiknya berfoto di tempat yang telah disediakan. Saya, Kak Atre, dan Landra dari NET TV.
Foto wajib di acara #GoogleBorobudur kemarin; berfoto dengan trekker seberat 20 kilogram.
Foto wajib di acara #GoogleBorobudur kemarin; berfoto dengan trekker seberat 20 kilogram.
Written by
Sefin
Join the discussion

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

11 comments
    • Yoi, Dit! Dan ternyata si Mas Eko ini aslinya dari Jakarta, lho. Jadi bukan sembarang orang lokal yang dipilih untuk jadi Mr. Trekker. Keren banget, kan?

  • Bener banget, Kak. Kerjaannya si Mr. Trekker ini berat dan nggak gampang.
    Daaan sama! Aku juga penasaran dengan alat yang dipakai di bawah air. Google sih memang canggih banget, apa aja bisa mungkin!
    Hmm… Selain candi-candi, kayaknya seru ya kalo ada Mr. Trekker di Lawang Sewu.
    Btw, terima kasih sudah mampir dan membaca, ya! ^^
    Senang artikelnya bermanfaat. 🙂

      • Setuju! Banyak banget tempat-tempat keren di Indonesia yang bakalan makin keren ya kalau dipotret dengan trekker. 😀
        Hihi..Sering-sering mampir ke blog ya, Kak! ^^

    • Hai, Kak… Ternyata comment-mu masuk spam, euy. Tips untuk bikin travel blog? Aku baru mulai, sih. Hihi… Nanti aku coba posting tulisan tentang travel blogging, deh. 🙂 Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya!

  • Hahahahaha…..
    Ms. Sefin, tulisan blog nya bikin terharu.
    Bangga banget di sebutkan sampai seperti itu.
    Tapi semua yang saya lakukan murni untuk Google dan Indonesia, terutama Borobudur serta candi2 lain dan lokasi lain yang pernah saya kumpulkan datanya.

    Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas respon positif nya.

    Semoga penerus saya bisa lebih baik lagi hasilnya.

    Sekali lagi, terima kasih untuk Ms. Sefin.

    • Halo, Mas Eko. 😀 Sama-sama dan terima kasih banyak sudah membaca. 🙂 Salut banget sama Mas Eko karena mau mengemban tugas Mr. Trekker yang cukup berat. Dan semoga penerus Mas Eko bisa lebih baik lagi dalam menjalankan tugas sebagai Mr. Trekker! 🙂

The Journale