Ketika pertama kali mendengar olahraga Boccia, saya langsung bertanya-tanya, seperti apakah cabang olahraga ini? Berasal dari Amerika Serikat, Tim Boccia Indonesia sendiri baru dibentuk pada Januari 2018 dan Seleksi Nasional (SelekNas)-nya diadakan pada Desember 2017. Masih sangat terbilang baru dibanding cabang-cabang olahraga Asian Paragames 2018 lainnya–seperti Powerlifting, Renang, dan Tenis Meja. Dari rasa ingin tahu saya akan Boccia itulah, akhirnya saya tiba pada pengalaman dimana saya belajar banyak sekali dari semangat para atlet Boccia Indonesia untuk Asian Paragames 2018.

Ketika berada di Solo untuk melihat para atlet berbagai cabang olahraga latihan dan menyiapkan diri untuk Asian Paragames 2018 beberapa waktu lalu, saya merasa amat beruntung karena bisa melihat mereka latihan dua kali. Saya nggak bisa lupa nama kedelapan atlet Boccia Indonesia: Vani, Yudha, Awang, Risky, Bintang, Tegar, Fendi, dan Andi. Yang paling muda berusia 16 tahun dan yang tertua berusia 30 tahun. Mereka semua memiliki cerita masing-masing yang begitu beragam, tawa dan senyum yang begitu khas, serta semangat yang luar biasa.

Boccia sendiri buka  hanya perkara melempar bola secara tepat saja, tapi aturannya juga cukup banyak. Cabang olahraga ini awalnya dikhususkan untuk pengidap Celebral Palsy. Untuk bisa bermain Boccia, harus ada 1 koper berisi 13 bola: 6 bola merah, 6 bola biru, dan 1 bola putih. Bola putih berfungsi sebagai Jack yang menentukan skor permainan. Mudahnya, atlet yang memainkan bola warna merah melawan atlet yang memainkan bola warna biru. Para atlet bisa bermain dalam tim sebanyak 3 orang, berpasang-pasangan, juga bermain individu. Jumlah bola yang dimainkan atlet pun dibagi dengan jumlah pemainnya sendiri. Jadi jika bermain dalam tim, setiap anggota timnya memainkan 2 bola, ketika berpasangan, tiap atlet memainkan 3 bola, sementara jika bermain individu, maka atlet tersebut memainkan 6 bola.

Posisi atlet ketika berada di lapangan Boccia sendiri juga ditentukan dari warna bola. Dengan ukuran lapangan 6 x 12,5 meter, sebanyak 2,5 meter sisi panjang merupakan area wheelchair atau kursi roda yang dibagi menjadi 6 kotak. Kotak-kotak tersebutlah yang menjadi tempat atlet berada ketika bertanding Boccia. Di situlah ia menentukan posisi duduk serta arah lemparan bolanya. Per babak dinamakan END dengan total 4 END atau empat babak.

Untuk klasifikasi atlet Boccia sendiri dibagi menjadi empat:

BC 1: Dimana atlet masih menggunakan tangan saat bertanding (pengidap Celebral Palsy)

BC 2: Masih punya kontrol untuk menggerakan tangan.

BC 3: Punya 4 ekstremitas (menggunakan pointer di kepala dan di mulut untuk melempar bola)

BC 4: Non pengidap Celebral Palsy (memiliki gangguan otot dan tulang)

Dengan empat klasifikasi tersebut, dari 8 atlet Boccia Indonesia, nggak ada yang masuk ke dalam klasifikasi BC 3. Jadi untuk klasifikasi Boccia sendiri, atlet-atlet Boccia Indonesia BC 1 ada 2 atlet (Vani dan Andi), BC 2 ada ada 3 atlet (Yudha, Bintang, dan Awang) dan BC 4 ada 3 atlet (Tegar, Fendi, dan Risky). Kebanyakan atlet Boccia Indonesia berasal dari Jawa Tengah, tapi ada juga yang berasal dari luar Jawa Tengah seperti Tegar yang berasal dari Depok dan Bintang yang berasal dari Bekasi.

Dengan berat bola sekitar 280-283 gram, menurut saya sendiri bermain Boccia sama sekali nggak mudah. Bolanya cukup berat dan bola-bola Boccia ini sendiri memiliki tiga jenis tekstur: Soft, Medium, dan Hard. Sesuai namanya, bola Boccia ada yang tekstur kelembutannya yang paling lembut, sedang, dan paling keras atau padat. Pemilihan tekstur bola juga menentukan jalannya permainan dan peluang pemain untuk dapat memenangkan pertandingan, lho. Jadi memang nggak semudah kelihatannya!

Di awal permainan, salah satu tim melempar bola putih atau bola Jack dan bola tersebut harus masuk ke dalam area lapangan yang berbentuk seperti huruf V. Jika bola nggak masuk, maka dianggap Fault dan giliran melempar bola Jack diberikan kepada lawan. Supaya lebih nyaman, memang sebaiknya menggunakan bola Jack sendiri dan hal tersebut diperbolehkan dalam pertandingan Boccia.

Dan seperti yang telah saya sebut tadi, posisi bola Jack menjadi penentu permainan. Pemain harus melemparkan bola merah atau biru (sesuai dengan timnya), bola mana yang terdekat dengan bola Jack di akhir babak, dianggap memenangkan babak atau END tersebut. Posisi bola Jack serta bola merah dan biru boleh bergeser (baik terkena bola sendiri maupun bola lawan) Dari keempat END, skor diakumulasi. Pengukuran jarak bola merah atau biru dengan bola Jack selain dilihat dengan mata oleh wasit, juga dilakukan dengan jangka, meteran, serta senter. Singkat kata, Boccia adalah permainan tentang presisi dan strategi.

Untuk aturan lainnya, ketika bola dilempar keluar dari garis lapangan, maka bola dianggap keluar atau OUT dan skornya nggak dihitung. Nah berhubung tekstur bola cenderung padat, sebelum dinyatakan OUT, wasit akan melihat dengan detil posisi bola tersebut. Jika badan bola belum mengenai garis, maka belum OUT dan masih bisa dihitung skornya. Jika bola Jack yang keluar dari lapangan selama permainan, maka bola Jack akan diletakkan di kotak Cross di tengah lapangan, dimana di akhir END akan diukur bola mana yang terdekat dengan posisi Cross.

Ketika saya melihat proses latihan dari para atlet Boccia Indonesia, saya bisa melihat peluang besar yang ada. Meski baru berlatih sejak Januari 2018–bahkan beberapa atlet baru bergabung kurang dari 6 bulan yang lalu, mereka sudah sangat mahir dalam memainkan bola-bola Boccia. Mereka sudah paham betul bagaimana memposisikan kursi roda mereka selama pertandingan supaya lemparan mereka semakin tepat dan bola mereka semakin dekat dengan bola Jack.

Begitu pula dengan semangat para pelatih dan asisten yang dengan setia mendampingi teman-teman atlet Boccia Indonesia: Mas Andrian, Mas Harun, Mas Bayu, Mas Sigit, juga Mbak Fafa. Melihat kegigihan para atlet Boccia Indonesia, saya jadi makin termotivasi untuk tetap semangat dan tekun dalam menjalani hal-hal yang saya cintai dalam hidup ini. 🙂 Saya benar-benar belajar banyak dari semangat atlet-atlet Boccia Indonesia untuk Asian Para Games 2018.

Keterbatasan bukanlah lagi alasan untuk menyerah begitu saja dalam hidup. Hal tersebut yang saya pelajari dari teman-teman atlet Boccia Indonesia. Kemauan, keberanian, serta semangat juang adalah yang terpenting. Mereka berlatih dengan sangat gigih, berani mencoba hal baru–yaitu olahraga Boccia yang timnya baru saja dibentuk di tahun 2018. Tawa, canda, dan cerita yang mereka bagikan begitu beragam dan menyenangkan. Saya sendiri jadi sedikit malu pada diri saya sendiri, secara fisik saya nggak memiliki keterbatasan apapun tapi saya seringkali malas dan mencari alasan untuk nggak melakukan hal-hal yang dapat membantu saya mencapai mimpi-mimpi saya. Dari para atlet Boccia Indonesia, saya belajar untuk lebih banyak bersyukur dan mengejar mimpi saya tanpa mengeluh. Kita harus selalu dan tetap semangaaat!

Tambahan foto: di bawah ini adalah bus PELATNAS atau Pelatihan Nasional yang digunakan untuk mengantar-jemput para atlet selama latihan di Solo, Jawa Tengah. Busnya ini canggih banget! Saya norak banget saat melihat ada bagian seperti lift yang digunakan untuk menaik-turunkan atlet yang menggunakan kursi roda. Jadi kalo ada yang penasaran gimana transportasi para atlet, kayak gini nih contohnya. Busnya sih keliatan kayak bus biasa, tapi bisa naik turunin orang karena ada semacam liftnya gitu! Hehehe…

Terakhir, jangan lupa dukung para atlet Boccia Indonesia di Asian Para Games 2018, ya! Juga dukung atlet-atlet di cabang olahraga lainnya. Indonesia pasti bisa!

Total
4
Shares

2 comments

    1. betuuul! unik banget olahraga ini Yuki karena khusus difabel. :”D liat latiannya seru banget, plus belajar memahami aturan permainan yang masih nggak awam banget ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.