Mengapa Kita Harus Berpikir Kritis?

Mengapa Kita Harus Berpikir Kritis?

Salah satu fungsi utama dari otak manusia adalah untuk berpikir. Otak kita dilatih sejak kecil untuk melakukan berbagai hal, mulai dari merespons pertanyaan dari orang lain hingga merespons bahaya. Dalam proses pendewasaan, pada akhirnya saya menyadari bahwa berpikir kritis adalah salah satu kegiatan yang amat penting untuk dilakukan. Meski terdenger sepele, berpikir kritis amatlah nggak mudah. Namun, ada beberapa alasan masuk akal mengapa kita harus berpikir kritis.

Ketika mulai belajar sedikit demi sedikit tentang ilmu parenting–meskipun saya sendiri belum mempunyai anak, saya akhirnya paham mengapa kita harus berpikir kritis. Jika dari kecil seorang anak dilatih untuk berpikir kritis, mereka pun akan terbiasa memahami bahwa setiap tindakan atau aksi memiliki konsekuensinya masing-masing. Seorang anak nggak hanya perlu tahu apakah suatu hal itu benar atau salah, tapi mereka juga harus paham betul mengapa itu benar atau salah. Dari sinilah proses berpikir kritis diperlukan.

Nggak hanya soal memahami benar atau salah saja, proses berpikir kritis pada anak juga dibutuhkan ketika ia harus memilih sesuatu. Sesimpel memilih warna baju yang akan dikenakannya hari itu… menurut saya penting sekali bagi seorang anak untuk mengetahui mengapa ia lebih menyukai baju berwarna oranye dibandingkan baju berwarna biru. Jika sejak kecil ia terlatih berpikir kritis dan sudah memahami apa yang ia sukai dan inginkan, menurut saya hal ini tentu akan memudahkan tumbuh kembang anak tersebut. Mereka akan lebih mudah dan terlatih dalam mengambil keputusan hingga mereka berada di usia dewasa.

Apabila kita terbiasa berpikir kritis, kita juga akan terbiasa untuk nggak menerima sesuatu secara mentah-mentah. Misalnya, ketika seorang remaja disekolahkan di sebuah SMA favorit yang jauh dari rumah, si remaja nggak akan serta-merta menerimanya begitu saja. Ia nggak akan langsung menerima mengapa ia harus sekolah di SMA favorit tersebut, apalagi jika si remaja nggak suka bangun pagi. Jika orangtua hanya memberikan alasan bahwa sekolah tersebut adalah sekolah favorit yang membanggakan, tentu si remaja ini nggak akan dengan mudah menerimanya. Kalo memang membanggakan, lalu kenapa?

Ketika si remaja bisa dan biasa berpikir kritis, ia tentu akan bisa memahami lebih dalam mengapa ia harus bersekolah di SMA favorit yang jauh dari rumah dan bangun lebih pagi agar nggak terlambat ke sekolah. Jika ia bisa memahami bahwa bersekolah di SMA favorit tersebut dapat membantunya masuk di perguruan tinggi yang ia inginkan serta membantunya menggapai cita-citanya, tentu akan lebih mudah baginya untuk menerima alasan tersebut. Semuanya–lagi-lagi, tentang berpikir kritis.

Di usia yang hampir 30 tahun ini, saya sebenarnya agak telat menyadari bahwa berpikir kritis itu sangatlah penting. Kendatipun, saya yakin bahwa saya masih bisa terus melatih kemampuan berpikir kritis yang saya miliki. Dan bila nanti saya memiliki anak, tentu saya juga bisa turut melatih anak saya agar terbiasa berpikir kritis karena bagaimanapun juga, berpikir kritis adalah sebuah soft skill yang amat diperlukan supaya kita bisa bertahan hidup sebagai manusia.

Terakhir, dari pengalaman saya sendiri, tetap ada satu hal yang harus diingat…. meski berpikir kritis itu penting, jangan biasakan untuk berpikir terus-menerus alias overthinking. Kasihan otak kita. Berpikirlah kritis seperlunya. Mari jaga kesehatan mental kita. 🙂

Written by
Sefin
TheJournale