Culinary Papua Travel

Ulat Sagu: Si Gendut Putih yang Sudah Sampai Belanda

Makanan yang enak kerap diidentikkan dengan tampilannya yang juga ‘enak’ dipandang. Sayangnya, hal ini nggak berlaku pada si gendut putih asal Papua, yaitu ulat sagu. Begitu mendengar namanya saja, mungkin kamu akan merasa geli. Bagaimana mungkin kita makan ulat? Jujur saja, saya pun begitu, apalagi waktu saya melihatnya pertama kali secara langsung di Sorong, Papua Barat. Kala itu, teman seperjalanan saya, yaitu Mas Bolang, baru pulang dari pasar dan membeli beberapa tusuk ulat sagu bakar yang tentunya langsung membuat mata saya terbelalak. Setengah kaget dan penasaran, perjumpaan saya dengan ulat sagu pun menjadi salah satu momen yang nggak terlupakan dalam hidup saya.  

Sesuai namanya, ulat sagu berasal dari tanaman sagu yang sebenarnya merupakan larva kumbang merah yang bertelur dalam tanaman sagu yang membusuk. Di Indonesia sendiri, 90 persen tanaman sagu di Indonesia berada di Papua, sementara sekitar 10 persennya lagi berada di daerah Maluku. Menggeliat-geliat seperti ulat pada umumnya, ulat sagu, yang biasa disebut “Koo”, memiliki tubuh yang gendut dan berwarna putih susu. Jika diukur, besarnya hampir sama dengan ukuran ibu jari saya. Cukup besar, bukan?

Sate ulat sagu bakar. - Foto: Barry Kusuma

Sate ulat sagu bakar. – Foto: Barry Kusuma

Saat saya pertama kali berjumpa ulat sagu, saya sendiri pun langsung berada dalam dilema. Ketika itu, saya hanya memiliki dua pilihan yang sangat bertolak belakang, yaitu menolak mencicipi ulat sagu karena begitu menggelikan atau seenggaknya mencoba satu keping ulat sagu untuk yang pertama kali (dan mungkin untuk yang terakhir kalinya) sehingga saya nggak akan dihantui rasa penasaran akan cita rasa ulat sagu yang sesungguhnya.

Ulat sagu bakar yang hendak dimasak teman saya, Mas Bolang, saat kami berada di Sorong.

Ulat sagu bakar yang hendak dimasak teman saya, Mas Bolang, saat kami berada di Sorong.




Akhirnya, pilihan saya pun jatuh kepada pilihan yang kedua. Berkutat di dapur dalam waktu yang cukup lama, Mas Bolang akhirnya tiba dengan hidangan ulat sagu masak balado yang membuat saya menelan ludah–bukan karena ingin makan, tapi karena takut. “Dicoba saja, Fin. Sekali saja. Enak, kok.Saya nggak akan pernah bisa lupa bagaimana Mas Bolang berusaha meyakinkan saya untuk mencicipi ulat sagu. Dengan amat gugup, saya kemudian memberanikan diri mengambil dua keping ulat sagu yang sudah dimasak balado. “Ini kan sudah dimasak, jadi nggak apa-apa. Dulu gue makan yang mentah.” Glek. Saya kembali menelan ludah.

Ulat sagu bakar yang sudah dimasak balado oleh Mas Bolang saat kami berada di Sorong.

Ulat sagu bakar yang sudah dimasak balado oleh Mas Bolang saat kami berada di Sorong.

Saya ingat betul bagaimana saya sempat mengirimkan gambar ulat sagu masak balado ini ke beberapa teman via pesan singkat dan menceritakan bagaimana saya begitu gugup saat hendak mencicipinya. Ya, saya segugup itu. Butuh waktu kurang lebih 20 menit bagi saya untuk benar-benar berani mencicipi ulat sagu tersebut dan Mas Bolang bahkan membantu saya memotong kepalanya, serta merekam video saat saya mencicipi ulat sagu sambil memejamkan mata.

Dan ternyata… rasanya pun nggak seburuk yang saya bayangkan. Jika kamu mau tahu bagaimana rasanya, teksturnya benar-benar mirip sosis. Dengan kulit yang garing serta daging yang begitu padat dan kenyal, rasa ulat sagu ternyata cukup enak! Saya pun nggak heran bila banyak orang yang doyan memakan ulat sagu (terlepas dari tampilannya yang nggak menarik). Akan tetapi, jika kamu orang yang mudah merasa jijik atau geli (seperti saya), mungkin kamu akan membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mencicipi ulat sagu. Yang jelas, saran saya, jika kamu memperoleh kesempatan untuk mencicipi ulat sagu, seenggaknya kamu harus mencicipi satu keping saja untuk tahu bagaimana rasa ulat sagu. Bagi saya, sih, ulat sagu ini benar-benar mirip sosis. Bila diolah dengan benar dan nggak terlihat seperti ulat, mungkin akan ada banyak orang yang mau mencicipinya dan akan ketagihan.

Ulat sagu balado yang saya makan saat berada di Sorong.

Ulat sagu balado yang saya makan saat berada di Sorong.

Di luar pengalaman pertama saya mencicipi ulat sagu, meski terlihat menggelikan, si gendut putih ini telah terbukti menjadi salah satu makanan Indonesia yang kaya akan protein dan bebas kolesterol, lho! Dalam 100 gram ulat sagu mentah yang hendak dimasak, terdapat 9,34% protein serta beberapa jenis kandungan asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%). Nggak hanya itu, ulat sagu juga kerap disebut-sebut sebagai salah satu sumber makanan di Papua yang dapat meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh!

Nah, karena memiliki kandungan gizi yang begitu kaya tersebut, akhirnya salah satu anak bangsa yang berasal dari tanah Papua, yaitu Mike Toam, kemudian memilih ulat sagu sebagai objek penelitiannya untuk Konferensi Internasional Peneliti Muda di Nijmegen, Belanda, pada pertengahan April 2012 yang lalu. Dalam penelitiannya, Mike kemudian mengolah ulat sagu menjadi berbagai jenis makanan yang digemari masyarakat, seperti bakso, spaghetti, nasi goreng, sandwich, dan keripik, demi menghilangkan kesan geli dan menjijikkan yang kerap melekat pada serangga gendut putih ini. Nggak sia-sia, penelitian tersebut pun berhasil membuat Mike menjadi peraih medali perunggu dalam Konferensi Internasional Peneliti Muda 2012! 😀 Siapa sangka, ulat sagu bisa sampai ke Belanda? Langsung mendapatkan perhatian dunia pula! 🙂

Ulat sagu yang masih hidup. - Foto: Barry Kusuma

Ulat sagu yang masih hidup. – Foto: Barry Kusuma

“Tanah Papua, tanah yang kaya…” Saya nggak akan pernah bisa lupa lirik lagu “Tanah Papua” karya Edo Kondologit ini. Nggak hanya terkenal akan budaya serta keindahan bawah lautnya, ternyata Papua juga memiliki ulat sagu yang menjadi salah satu makanan daerah yang bahkan sudah sampai ke Belanda. Memiliki nilai gizi yang tinggi, ulat sagu benar-benar pantas disebut-sebut sebagai salah satu warisan kuliner dengan kandungan gizi terbaik di Indonesia. 🙂



You Might Also Like

12 Comments

  • Reply
    mysukmana
    18 October 2015 at 11:25 pm

    Ih. G jijik mbk mkn begituan..

  • Reply
    Sefin
    18 October 2015 at 11:59 pm

    Hihihi… Jijik sih, tapi ternyata rasanya enak. :”)

  • Reply
    Dita
    19 October 2015 at 8:14 am

    wahh enak ya sefin? hihihi aku kok agak ragu2 mau nyoba 😀

    • Reply
      Sefin
      19 October 2015 at 11:21 am

      Hihi coba aja kamu makannya yg diolah dan nggak ketara bentuknya kayak ulat, mungkin kamu mau coba. :))) rasanya beneran kayak sosis, Dit!

  • Reply
    papabackpacker
    23 October 2015 at 10:10 pm

    Lalu setelah nyobain ketagihan nggak mbak? Hehehe
    Belum pernah nih makan makanan yang kayak gini hehehe

    • Reply
      Sefin
      23 October 2015 at 10:37 pm

      Hahahahahaha ketagihan nggak ketagihan, sih. 😛 Pokoknya, kalo mau makan lagi, harus bener-bener mengumpulkan keberanian. :”)

      • Reply
        papabackpacker
        24 October 2015 at 1:28 pm

        Ah yang penting udah pernah nyobain kan ya mbak? Jadi nggak penasaran ya? Aku jadi penasaran malahan. Di Jawa kira-kira ada yang jual nggak ya? Hehe

        • Reply
          Sefin
          24 October 2015 at 10:12 pm

          Di Jawa? Hmmm… Boleh nanti tak riset dulu.. Siapa tahu ada yang jual 😀 Kalo pas ketemu makanan aneh dan ekstrim, kayaknya emang lebih baik nyoba sih biar nggak penasaran 🙂

  • Reply
    leonard anthony
    4 December 2015 at 6:52 am

    Kalo cobain yang mentah berani ga ya??? Hihihi

    • Reply
      admin
      5 December 2015 at 9:36 pm

      nggaaaaak :”( emangnya koko udah pernah makan? huahahaha

    • Reply
      Bobby Ertanto
      7 December 2015 at 11:11 am

      eaaaaaaaa 😀

      • Reply
        admin
        10 December 2015 at 9:19 pm

        Akhirnya nggak masuk spam. 😛

    Leave a Reply