Kalimantan Travel

Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan

Saya lahir di tahun 1992. Ya, saya masih sangat muda. *dikeplak* Sebagai seseorang yang bershio monyet, saya pun sering dijuluki ‘monyet’, terutama karena saya nggak pernah bisa diam alias pecicilan. Makanya, waktu saya tahu bahwa saya bisa menjumpai orangutan yang masih saudara dekat dengan saya, eh, maksudnya monyet, saya pun nggak sabar untuk menjelajahi Wonder 1, yaitu Taman Nasional Sebangau di Keruing, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kak @cumilebaycom dengan kostum petualang #Terios7Wonders-nya duduk anteng di atas kapal.

Kak @cumilebaycom dengan kostum petualang #Terios7Wonders-nya duduk anteng di atas kapal.

Pada 14 September 2015, perjalanan #Terios7Wonders pun dimulai setelah acara pembukaan selesai di Tri Mandiri Daihatsu Palangkaraya dan kami menempuh perjalanan berkendara selama kurang lebih 2,5 jam. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan naik kapal motor selama kurang lebih setengah jam sebelum akhirnya mulai trekking. Berbekal kostum ala peserta maraton ‘serius’ karena katanya harus berjalan kaki selama sejam (saja) untuk bisa tiba di Visitor Center Taman Nasional Sebangau, saya mulai trekking dengan senyum mengembang. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Kami semua memulai perjalanan dengan hati riang bukan kepalang.

Kapal lain yang 'menampung' teman-teman #Terios7Wonders yang lain.

Kapal lain yang ‘menampung’ teman-teman #Terios7Wonders yang lain.




Akhirnya kami tiba di Taman Nasional Sebangau!

Akhirnya kami tiba di Taman Nasional Sebangau!

Wonders 1: Taman Nasional Sebangau.

Wonder 1: Taman Nasional Sebangau.

Kostum trekking saya waktu di Taman Nasional Sebangau.

Kostum trekking saya waktu di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Wira Nurmansyah.

Pose dulu sebelum trekking di Taman Nasional Sebangau menuju penginapan di tengah hutan.

Pose dulu sebelum trekking di Taman Nasional Sebangau menuju penginapan di tengah hutan. Dari kiri ke kanan: Pak Endi, Bosky, dan Kak @cumilebaycom.

DSCF1287

Pemandangan trekking awal di Taman Nasional Sebangau.

Abi, sopir kece mobil Terios 6 tengah menggalau di tengah hutan.

Bang Abi, sopir kece mobil Terios 6 tengah menggalau di tengah hutan. Foto oleh Ahmad Ibo.

Akan tetapi, ternyata acara trekking-nya sama sekali bukan trekking hore karena medan Taman Nasional Sebangau cukup berat. Pada musim penghujan, biasanya wisatawan dapat tiba di Visitor Center menggunakan perahu hanya dalam waktu 15 menit. Sayangnya, kami datang saat musim kemarau sehingga sungai amat kering dan kami harus trekking dalam waktu (yang katanya) satu jam saja. Pada kenyataannya, kami harus berjalan selama kurang lebih tiga jam. Mulai trekking pukul 16.30 WITA, kami tiba di Visitor Center Taman Nasional Sebangau pukul 19.30 WITA. Kamu tentu bisa membayangkan, bagaimana kami menyusuri hutan gambut lebat saat hari masih terang hingga hari mulai gelap.

Sebagai seseorang yang sulit menyeimbangkan diri alias sering tersandung, saya pun terjatuh selama empat kali. Apalagi, itu kali pertama saya trekking di medan yang bertanah gambut. Saya ingat betul bagaimana saya jatuh pertama kali di sela-sela akar sebuah pohon besar yang tumbuh di lahan gambut. Kaki kanan saya kejeblos begitu saja. Selanjutnya, setelah saya berhasil menyelamatkan kaki yang kanan, gantian kaki kiri saya yang kejeblos. Sesi kejeblos berikutnya berlanjut di tanah becek di dekat sungai dan sesi kejeblos terakhir terjadi di tanah berlumpur yang nggak jauh dari situ. Saat itu, saya pun hanya bisa meringis meratapi nasib. Jika kamu belum tahu, tekstur tanah gambut saat diinjak itu persis seperti menginjak tumpukan jerami atau sapu ijuk. Empuk, tapi memiliki banyak sela yang bisa menjebakmu. Jadi, kamu pun harus berhati-hati saat trekking di lahan gambut.

Disambut dengan semangka merah manis yang segar, malam pertama di Taman Nasional Sebangau yang dipenuhi oleh gambut dan berbagai tanaman tropis pun terasa cukup melelahkan sekaligus menantang. Malam itu, saya tidur pulas.

Visitor Center di Taman Nasional Sebangau.

Visitor Center di Taman Nasional Sebangau.

Air di kawasan Taman Nasional Sebangau yang nampak seperti teh.

Air di kawasan Taman Nasional Sebangau yang nampak seperti teh.

Keesokan paginya, kami pun memulai kegiatan utama. Kira-kira pukul 07.30 WITA, rombongan kami berangkat untuk melihat langsung pasangan ibu dan anak orangutan, yaitu Julia dan Julian. Oh iya, sekadar informasi, semua orangutan yang ada di Taman Nasional Sebangau merupakan satwa liar sehingga nggak bisa diajak interaksi langsung seperti di tempat rehabilitasi orangutan atau di kebun binatang. Di Taman Nasional Sebangau sendiri, ada sekitar 6.000-9.000 orangutan. Dan sejauh ini, sudah ada sekitar 30 orangutan yang dimonitor oleh para penjaga Taman Nasional Sebangau. Mereka semua dikenali, diberi nama, dan diperhatikan gerak-geriknya untuk diteliti.

Kami pun trekking selama kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya bisa tiba di tempat nongkrong Julia dan Julian. Berkumpul di bawah sebuah pohon tempat pasangan ibu dan anak orangutan tersebut nongkrong, rombongan kami mendongakkan kepala ke atas untuk melihat rupa mereka. Beberapa kawan, termasuk saya, berusaha membidikkan kamera untuk melihat penampakan Julia dan Julian di atas pohon. Setelah menyipitkan mata (yang sudah sipit) beberapa kali, akhirnya saya bisa melihat Julia dan Julian. Dengan hati berdebar, saya nggak bisa berhenti membuka mulut karena takjub melihat tingkah ibu dan anak orangutan tersebut. Saya begitu terpesona. Mereka tampak begitu asyik dengan dunia mereka sendiri. Sambil melihat Julia dan Julian, para penjaga Taman Nasional Sebangau yang menemani kami pun menjelaskan tentang kebiasaan orangutan, termasuk makanan favoritnya.

Kak Vira @indohoy berjalan anggun di Taman Nasional Sebangau demi bertemu Julia dan Julian.

Kak Vira @indohoy berjalan anggun di Taman Nasional Sebangau demi bertemu Julia dan Julian.

Semua orang sibuk membidik Julia dan Julian, ibu dan anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Ahmad Ibo.

Semua orang sibuk membidik Julia dan Julian, ibu dan anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau, dengan kamera mereka. Foto oleh Ahmad Ibo.

Julian, anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Ahmad Ibo.

Julian, anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Ahmad Ibo.

Julia dan Julian, ibu dan anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Ahmad Ibo.

Julia dan Julian, ibu dan anak orangutan yang kami lihat di Taman Nasional Sebangau. Foto oleh Ahmad Ibo.

Julia, ibu orangutan dari Julian.

Julia, ibu orangutan dari Julian. Foto oleh Ahmad Ibo.

Buah keripak, buah favorit orangutan.

Buah keripak, buah favorit orangutan.

Saya sendiri nggak begitu ingat, berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk bisa benar-benar bisa melihat Julia dan Julian. Yang jelas, waktu yang kami habiskan untuk trekking jauh lebih lama daripada waktu yang bisa kami peroleh untuk memperhatikan Julia dan Julian. Meski demikian, saya merasa sangat senang karena akhirnya bisa melihat saudara dekat saya, eh, maksudnya orangutan, secara langsung di habitat aslinya. Saya juga amat bersyukur karena masih ada banyak orang yang peduli akan hutan Kalimantan, seperti para penjaga yang ada di Taman Nasional Sebangau. Jujur saja, terkadang saya merasa pesimis dan skeptis akan keadaan alam Indonesia yang semakin buruk, apalagi karena kebakaran serta penebangan hutan ilegal. Akan tetapi, keberadaan Taman Nasional Sebangau telah sedikit banyak mengubah pandangan saya.

Selfie dulu dengan pemandu kami, yaitu Pak Hamdika, setelah melihat Julia dan Julian.

Wefie dulu dengan pemandu kami, yaitu Pak Hamdika, setelah melihat Julia dan Julian.

Dan di bawah ini adalah oleh-oleh yang saya dapat dari Taman Nasional Sebangau, yaitu sepasang kaki yang biru-biru karena memar karena terjatuh beberapa kali saat trekking di sana. Nggak hanya bisa melihat orangutan di habitat aslinya untuk pertama kali, trekking di Taman Nasional Sebangau juga telah mengingatkan saya akan momen-momen masa kecil saat pergi trekking di hutan bersama keluarga, terutama Papa. Meski akhirnya kelelahan, saya benar-benar nggak bisa melupakan setiap momen saat menjelajahi Taman Nasional Sebangau. Begitu menyenangkan dan berkesan.

Oleh-oleh kaki biru-biru setelah trekking di Taman Nasional Sebangau.

Oleh-oleh kaki biru-biru setelah trekking di Taman Nasional Sebangau.

Postingan ini merupakan catatan perjalanan #Terios7Wonders “Borneo Wild Adventure”. Totalnya ada 14 postingan yang bisa kamu baca. Berikut urutannya (dari awal hingga akhir perjalanan):

  1. Mimpi yang Menjadi Kenyataan: Menjelajah Kalimantan
  2. Road Trip untuk Menjelajah Kalimantan Resmi Dimulai!
  3. Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  4. Menggoyang Lidah dengan Lontong Orari yang Nikmat
  5. Melihat Bokong Bekantan yang Seksi di Pulau Kaget
  6. Kecantikan Anggrek Kalimantan di Tengah Petang
  7. Menerobos Kabut Asap Demi Melihat Kerbau Rawa yang Montok
  8. Udang Rasa Susu? Hanya di Rumah Makan Paliat!
  9. Mampir ke Sarangnya Buaya Kalimantan di Teritip
  10. Berbagi di Desa Loa Janan Timur
  11. Mengenal Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang
  12. Berpelukan dengan Pohon Ulin Raksasa di Taman Nasional Kutai
  13. Mengakhiri Perjalanan Menjelajah Kalimantan di Kepulauan Derawan
  14. Mengenang Perjalanan Menjelajah Kalimantan (tulisan dan video)



You Might Also Like

25 Comments

  • Reply
    Maria Jessica Yaputri
    25 September 2015 at 10:55 pm

    Nice story, sist! Ajak aku jalan2 terus ya

    • Reply
      Sefin
      25 September 2015 at 11:58 pm

      Thank youuu! :* Yuk, jalan-jalan lagi, yuk! 😀

  • Reply
    Juliana
    26 September 2015 at 12:09 am

    Chika…nanti liburan …jalan2 lagi ya

    • Reply
      Sefin
      26 September 2015 at 6:43 am

      Yuk, Ma! ^^

  • Reply
    viraindohoy
    26 September 2015 at 6:52 am

    udah sembuh belum kakinya?
    lebih parah daripada main hoki biru2nya :))

    • Reply
      Sefin
      26 September 2015 at 4:14 pm

      hihi hampir sembuh nih, kak 😀 kan kita atlet hoki, ya~

  • Reply
    Muhammad Akbar
    26 September 2015 at 7:26 am

    Dulu gak sempat ke Sebangau padahal sudah diajakin Si Indra backpacker Borneo ,
    Waktu itu mobilnya si Indra rusak, jadinya batal deh.
    Padahal seru banget yah, bisa ngelihat langsung orang utan langsung dari habitatnya .

    • Reply
      Sefin
      26 September 2015 at 4:17 pm

      Yep! asyik banget lho, kak, kalo bisa ke Taman Nasional Sebangau 🙂 siapa tahu suatu saat bisa ke sana..kalo bisa waktu musim penghujan supaya nggak perlu jalan jauh 😛

  • Reply
    kazwini
    26 September 2015 at 9:33 am

    Wah sampe luka dan biru-biru gituuu kakinyaaaa

    • Reply
      Sefin
      26 September 2015 at 4:33 pm

      he eh, nih. 🙁 lukanya lumayan parah, tapi pengalamannya nggak tergantikan banget, deh :”)

      • Reply
        kazwini
        30 September 2015 at 3:27 pm

        Tapi kayanya seru banget tripnya keliling Borneo.

        • Reply
          Sefin
          1 October 2015 at 5:10 pm

          bangeeet! kamu harus coba road trip keliling kayak gini kapan-kapan. 🙂

  • Reply
    Bobby Ertanto
    26 September 2015 at 2:14 pm

    Boleh dicoba lagi sist trekking di sebangau, biar makin kurus #eh

    • Reply
      Sefin
      26 September 2015 at 5:53 pm

      kak..komenmu masuk spam lagi~
      ahahaha yuk trekking lagi gapapa deh :”) *sok*

  • Reply
    11041983mileage
    26 September 2015 at 8:23 pm

    itu sore atau kabut asap?

    • Reply
      Sefin
      28 September 2015 at 4:11 am

      apanya, nih? yang jelas, selama di Kalimantan, kami hampir selalu menemui kabut asap kecuali di Tarakan dan di Maratua 🙁

      • Reply
        11041983mileage
        28 September 2015 at 4:20 am

        yg di foto bercaption “Kapal lain yang ‘menampung’ teman-teman #Terios7Wonders yang lain” dan di bawahnya..

        • Reply
          Sefin
          28 September 2015 at 11:46 pm

          oh…kebetulan itu sore.. 🙂

  • Reply
    herdynich
    27 September 2015 at 7:34 pm

    Leh uga… nanti saya coba.. makasih infonya… niceeee..

    • Reply
      Sefin
      28 September 2015 at 4:11 am

      Ayo main ke Taman Nasional Sebangau, Kak! ^^

  • Reply
    Sefin
    30 September 2015 at 11:19 am

    thank you so much! ^^

  • Reply
    Berpelukan dengan Pohon Ulin Raksasa di Taman Nasional Kutai | The Journale
    28 September 2017 at 12:52 am

    […] dengan Taman Nasional Sebangau yang hampir seluruh wilayahnya merupakan Hutan Gambut, saat trekking di TNK, saya pun merasa lega […]

  • Reply
    Mengakhiri Perjalanan Menjelajah Kalimantan di Kepulauan Derawan | The Journale
    28 September 2017 at 12:52 am

    […] Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan […]

  • Reply
    Road Trip untuk Menjelajah Kalimantan Resmi Dimulai! | The Journale
    28 September 2017 at 12:54 am

    […] Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan […]

  • Reply
    Mengenal Suku Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang | The Journale
    28 September 2017 at 1:01 am

    […] Trekking di Taman Nasional Sebangau Demi Melihat Orangutan […]

  • Leave a Reply