Bali and Nusa Tenggara Papua Personal Journals Travel

Cerita Saya Tentang Air Bersih di Indonesia

Saya adalah seseorang yang sangat mudah haus. Saya sangat mudah merasa haus. Haus dalam arti harafiah. Orang-orang yang akrab dengan saya tahu betul, berapa banyak air minum yang saya habiskan setiap harinya. Jika jumlah yang sebaiknya dkonsumsi adalah 2 liter per hari, saya biasa meminum lebih dari itu. Itulah mengapa, saya mudah sekali berkeringat. Terkadang saya bahkan membawa pakaian ganti untuk berjaga-jaga jika tubuh saya basah kuyup karena keringat. Banyak yang bilang, ini hal yang baik karena artinya tubuh saya memiliki metabolisme yang baik. Untuk bisa memenuhi rasa hausย saya tersebut, saya pun terbiasa membawa sebuah botol minum kecil ke mana-mana–bahkan ketika saya hanya pergi ke tempat yang dekat dari rumah dalam waktu yang singkat. Saya pun selalu merasa janggal jika saya nggak membawa botol minum ketika pergi ke luar rumah. Rasanya seperti nggak membawa dompet dan ponsel.

Selama ini, saya hampir nggak pernah merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air di dalam tubuh saya, juga di dalam hidup saya. Di rumah, air minum bersih begitu berlimpah. Saya bisa meminumnya kapan saja, juga bisa mengaksesnya kapan saja. Seperti di kebanyakan rumah di Pulau Jawa, rumah saya memiliki dispenser yang berfungsi dengan baik, sehingga saya nggak perlu repot-repot memasak air jika ingin membuat kopi, susu, atau teh. Air panas untuk minum selalu ada. Air dingin pun ada. Itu semua karena teknologi sederhana dari dispenser. Untuk kegiatan masak-memasak di rumah, keluarga kami juga terbiasa memasak dengan air matang yang sudah tersaring bersih dengan alat filter air. Kami nggak perlu pusing memikirkan soal kebersihan karena semua lengkap–semuanya tersedia.

Nggak hanya soal urusan minum saja, air untuk mandi juga selalu ada dan bersih. Meski kadang saya mengeluh karena harus memasak air dengan teko terlebih dahulu ketika ingin mandi dengan air panas, jumlah air yang bisa saya gunakan di rumah untuk mandi sangat nggak terbatas. Nggak heran, bila adik saya, Joan, senang mandi berlama-lama karena ia bebas menggunakan air untuk mandi, berapapun jumlahnya. Air untuk mandi nggak terbatas dan kebersihannya pun terjamin.

Ilustrasi air. Sumber: http://airminum.co.id/

Ilustrasi air. Sumber: http://airminum.co.id/

Begitu pula dengan kegiatan mencuci, baik itu kegiatan mencuci piring atau alat-alat masak, ataupun kegiatan mencuci pakaian. Bak cuci piring di rumah kami berfungsi dengan baik. Mesin cuci pun mempermudah proses cuci-mencuci pakaian meski terkadang kami tetap harus mencuci beberapa jenis pakaian dengan tangan kami sendiri. Tapi itu semua nggak menimbulkan masalah sama sekali, terlebih karena kami punya banyak pasokan air bersih yang nggak terbatas.




Lalu saya berpikir, apa jadinya bila saya nggak memiliki akses air bersih sama sekali? Bagaimana jika suatu hari nanti rumah saya nggak memiliki akses air bersih, sehingga kami harus menunggu sebuah mobil atau truk bertangki yang memasok air bersih untuk datang ke area tempat tinggal kami–itu pun kalo ada. Bagaimana jadinya bila suatu hari kami terpaksaย menyaring air kotor atau air hujan supaya bisa mendapatkan akses air bersih? Bagaimana bila tiba-tiba air bersih menjadi sangat mahal sehingga kami nggak bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari yang terkait dengan penggunaan air bersih? Memikirkannya saja, saya sudah pusing duluan. Saya akui, saya adalah seorang warga negara Indonesia yang manja. Egois betul, jika berandai-andai tentang nggak memiliki akses bersih saja, saya sudah merasa pusing. Padahal, terjadi saja belum. Amit-amit, pikir saya. Jangan sampai kejadian tersebut menimpa saya dan keluarga saya.

Sampai akhirnya saya tiba pada kenyataan bahwa di rumah kami pun pernah kekurangan air bersih. Beberapa kali, pompa air di rumah rusak sehingga kadang air bersih tercemar dengan tanah yang walaupun jumlahnya sedikit, sudah berhasil membuat saya jijik dan agak malas mandi. Lagi-lagi, saya sadar saya manja.

Akan tetapi, jika saya tarik pengalaman-pengalaman saya ke belakang, ternyata saya juga pernah berada dalam kondisi dimana akses air bersih sangatlah sulit. Kondisi tersebut saya alami di akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015, ketika saya magang menjadi sukarelawan di Raja Ampat. Raja Ampat yang berada jauh dari Pulau Jawa yang maju, selalu diidentikkan dengan kemewahan dan keindahan karena alamnya, juga karena biaya hidup di sana yang begitu tinggi. Sayangnya, nggak banyak yang tahu bahwa pendistribusian logistik yang cukup sulit dan jauh BUKAN satu-satunya alasan mengapa biaya hidup di Raja Ampat begitu tinggi. Mahalnya biaya hidup di Papua bukan hanya soal harga bahan bakar serta sembako yang mahal, tapi juga soal akses air bersih.

Teman-teman ranger di Raja Ampat tengah mengisi bahan bakar minyak (BBM) untuk dibawa.

Teman-teman ranger di Raja Ampat tengah mengisi bahan bakar minyak (BBM) untuk dibawa.

Saya ingat betul, bagaimana saya nggak bisa minum terlalu banyak air karena saya harus berbagi dengan teman-teman satu pos jaga ketika berada di Pulau Yellit, Kepulauan Misool yang berada di bagian selatan Kepulauan Raja Ampat. Jika kami beruntung, kami bisa memperoleh air mineral botolan untuk minum sehari-hari, itu pun dengan harga yang sangat mahal dan dibeli di kampung-kampung kecil yang jaraknya sekitar 2 jam dari tempat pulau kami berada. Di Pulau Yellit, nggak ada siapapun kecuali kami.

Untuk bisa mandi, kami juga harus menampung air. Sewaktu magang dulu, saya kerap memilih mandi sekali saja dalam satu hari, karena air yang tersedia untuk mandi hanyalah air payau. Kalo kamu membuka mulutmu saat mandi dengan air payau, kamu akan merasakan betapa asinnya air tersebut. Setelahnya, tubuhmu juga akan merasa sedikit lengket. Nyaman? Tentu nggak. Tapi toh akhirnya, saya menjadi cukup terbiasa mandi dengan air payau–selama kurang lebih 9 minggu berada di sana.

Kami pun begitu bahagia ketika hujan turun, karena itu artinya kami bisa menampung air yang nggak asin untuk kemudian bisa kami gunakan untuk mandi, memasak, juga minum. Di sekitar pos, kami biasa membiarkan tong-tong biru besar terbuka lebar, supaya bisa menampung air saat turun hujan. Dan ketika hujan masih turun dengan begitu deras, sementara kami nggak punya tempat lagi untuk menampung airnya, kami begitu menyesal karena artinya kami kehilangan air untuk bisa kami gunakan.

Kondisi dapur di Pulau Yellit, tempat saya volunteering.

Kondisi dapur di Pulau Yellit, tempat saya volunteering.

Selain dari hujan, terkadang orang-orang di pos kami juga harus bergantian mengambil air-air dengan tong dan jerigen di sebuah pulau kosong yang nggak berpenghuni. Saya lupa nama pulaunya, tapi yang jelas, di sana kami bisa mengambil air tawar yang khususnya bisa digunakan untuk memasak dan minum. Meski bisa dibilang gratis, bahan bakar yang kami gunakan untuk bisa mengambil air tersebut dengan kapal toh nggak gratis. Selalu ada yang harus dikorbankan. Singkat kata, air bersih di Papua adalah sesuatu yang mahal–sekalipun di daerah yang memiliki air melimpah seperti di area laut Raja Ampat.

Tempat penampungan air hujan di Pulau Yellit.

Tempat penampungan air hujan di Pulau Yellit.

Hal serupa juga saya alami tahun lalu, ketika mampir ke Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Para masyarakat yang berjaga di pos taman nasional tersebut, mau nggak mau harus menggunakan air yang ada di sana, khususnya untuk memasak dan minum. Airnya pun bukan air biasa, terlebih karena lahan di seluruh Kalimantan adalah lahan gambut. Air yang ada di lahan gambut biasanya berwarna coklat dan tampak menyerupai teh, tapi memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Bukan rahasia lagi, mengonsumsi air gambut yang asam dapat menyebabkan gangguan kesehatan serta membuat gigi keropos bagi yang meminumnya.

Air gambut di Taman Nasional Sebangau yang tampak seperti teh.

Air gambut di Taman Nasional Sebangau yang tampak seperti teh.

Jujur saja, hal ini begitu mengganggu saya, dan saat berada di pos jaga Taman Nasional Sebangau, saya sangat berhati-hati dalam memilih minuman karena saya begitu takut mengonsumsi air gambut. Sayangnya, masyarakat yang berada di sana nggak punya banyak pilihan seperti saya, sehingga mereka pun tetap harus mengonsumsi air gambut tersebut supaya bisa tetap terhidrasi serta memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak. Meski demikian, dengan kemajuan teknologi yang ada, ternyata sekarang air gambut sudah bisa diolah sehingga bisa menjadi air bersih yang aman. Walaupun prosesnya nggak mudah, fakta ini adalah sebuah kabar baik yang bisa membawa perubahan, terutama di tanah-tanah berlahan gambut seperti Kalimantan. ๐Ÿ™‚

Betapa pekatnya warna air gambut di sekitar Taman Nasional Sebangau.

Betapa pekatnya warna air gambut di sekitar Taman Nasional Sebangau.

Lalu, kenapa sih saya repot-repot membahas soal akses yang saya miliki akan air bersih di Indonesia? Jawabannya adalah karena saya peduli. Meski sepertinya terdengar sepele, akses air bersih dan sanitasi ternyata menjadi salah satu tolok ukur utama bila Indonesia ingin menjadi sebuah negara yang maju. Sayangnya, menurut data dari Nugroho Tri Utomo, Direktur Perumahan dan Permukiman, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang saya kutip dari artikel Rapplerย yang berjudul “100 Juta Penduduk Indonesia Tak Bisa Akses Air Bersih”ย sampai saat ini jumlah masyarakat yang bisa mengakses air bersih di Indonesia hanya sekitar 62% dari sekitar 68% akses air bersih yang tersedia. Jumlahnya mungkin terlihat cukup besar, seenggaknya melampaui separo dari jumlah total. Akan tetapi, jumlah 62% tersebut ternyata masih jauh dari kata ‘cukup’. Seperti saudara-saudara kita yang berada di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur, mereka harus berjalan jauh setiap harinya untuk bisa memperoleh air bersih di tanah mereka yang kering dan gersang.

Jujur saja, saya sendiri belum pernah mampir ke tanah Sumba yang terkenal akan keindahan padang sabananya. Saking indahnya, tanah Sumba pun menjadi lokasi syuting salah satu film Indonesia, yaitu “Pendekar Tongkat Emas”. Film karya anak bangsa yang begitu fenomenal saat tayang di bioskop di akhir tahun 2014. Sayangnya, saat film tersebut tayang di bioskop, saya nggak sempat menonton karena di Papua Barat belum ada bioskop. Meski tanah Sumba terkenal akan keindahan alamnya, lagi-lagi saya harus kembali pada fakta bahwa tanah Sumba begitu kering, tandus, serta gersang. Apalagi, setelah saya menonton video dari Waterhouse Project yang menceritakan betapa sulitnya masyarakat, terutama anak-anak di Sumba yang masih sekolah, untuk mengakses air bersih. Jika di beberapa daerah lain di Indonesia akses air bersih berkaitan dengan proses penyaringan karena air kotor, masalah di Sumba justru berkaitan dengan jumlah sumber air yang terlalu sedikit serta memiliki jarak yang sangat jauh dari tempat tinggal penduduk.

Dan jika kamu penasaran seperti apa cerita Warehouse Project tentang sulitnya masyarakat Sumba dalam mengakses air bersih, kamu bisa menonton tiga video di bawah ini.

Waterhouse mengajak Indonesia untuk membangun Indonesia. Harapan tumbuh dari dalam. 1/3

A post shared by Water House Indonesia (@waterhouse_project) on

Waterhouse mengajak Indonesia untuk membangun Indonesia. Harapan tumbuh dari dalam. 2/3

A post shared by Water House Indonesia (@waterhouse_project) on

Waterhouse mengajak Indonesia untuk membangun Indonesia. Harapan tumbuh dari dalam. 3/3

A post shared by Water House Indonesia (@waterhouse_project) on

Setelah menonton video-video kisah dari masyarakat Sumba yang kesulitan mengakses air bersih dari Waterhouse Project, saya pun hanya bisa merenung. Betapa nggak bersyukurnya saya karena kerap mengeluhkan air di rumah padahal ada begitu banyak akses air bersih yang saya miliki. Begitu mudahnya saya mengakses air bersih tersebut. Sekalipun saya pernah mengalami betapa sulitnya memperoleh air bersih, khususnya air tawar ketika saya berada di Raja Ampat, hal tersebut nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan para penduduk Sumba yang harus berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya hanya untuk bisa mengambil air dalam beberapa jerigen saja. Dan bukan hanya orang dewasa saja yang harus mengambil air, tapi juga anak-anak kecil yang masih sekolah. Betapa beratnya beban mereka.

Kini saya pun menjadi lebih sadar, bahwa perubahan bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Klise, memang. Akan tetapi hal klise tersebutlah yang membuat saya yakin bahwa bersama Waterhouse Project, kita bisa turut membuat tanah Sumba menjadi tanah yang lebih indah lagi–nggak hanya untuk dipandangi saja atau dipajang di galeri media sosial dan ponsel kita, tapi juga menjadi tanah yang lebih indah lagi untuk ditinggali oleh para penduduknya. Seperti ajakan Waterhouse Project itu sendiri di ketiga video di atas: mari membangun Indonesia, karena harapan selalu bisa tumbuh dari dalam.

Karena saya belum pernah pergi ke tanah Sumba sama sekali, saya memiliki mimpi bahwa suatu hari nanti saya bisa ke sana dan melihat ada lebih banyak sumber air dibandingkan dengan yang saya tonton di video Waterhouse Project. Untuk saat ini, saya akan mulai dengan langkah kecil supaya bisa membuat perubahan kecil–yang siapa tahu saja, bisa menjadi besar suatu hari nanti. ๐Ÿ™‚ Salah satu langkah kecil yang bisa saya lakukan adalah dengan menghemat air. Saya juga ingin mengajak kamu–ya, kamu, untuk turut menghemat air dan menjaga lingkungan kita sendiri dengan beberapa contoh kecil:

  1. Biasakan mematikan keran air saat menggosok gigi atau mencuci tangan, jangan biarkan keran air menyala terus-menerus. Ingat saja, bagaimana sulitnya adik-adik kita di Sumba untuk memperoleh air bersih. ๐Ÿ™‚
  2. Jangan mandi terlalu lama. Saya tahu betul, mandi lama sangatlah menyenangkan karena menyejukkan kulit. ย Akan tetapi, berlama-lama mandi berarti membuang-buang air.
  3. Biasakan membawa botol minum saat pergi ke manapun. Kalo ini sih, sudah menjadi kebiasaan saya sehari-hari. Selain ramah lingkungan karena nggak menambah limbah botol plastik bekas air mineral, kebiasaan membawa botol minum juga membuat saya lebih sehat dan lebih hemat uang. Hehehe… ๐Ÿ˜€

Itu saja sih, langkah-langkah kecil yang bisa saya lakukan untuk turut menghemat air dan menjaga lingkungan. Dan saya sangat harap, kamu juga bisa ikut melakukannya. Semoga semua penduduk Indonesia, khususnya mereka yang berada di tanah Sumba bisa mendapatkan akses air bersih yang lebih baik lagi. Semoga di tahun 2019, harapan Bapak Presiden Jokowi benar-benar tercapai, yaitu semua warga di Indonesia sudah bisa mengakses air bersih serta memiliki sanitasi yang baik. Mengharapkan sesuatu yang positif nggak pernah salah, kan? ๐Ÿ™‚



You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    Hanif Insanwisata
    3 November 2016 at 8:38 am

    aku familiar dengan 3 orang di atas. wkwkw.
    Iya ya, Sumba itu sulit air. sampai ada salah satu turis asing yang turun membatu masyarakat untuk buat sumur.

    • Reply
      Sefin
      4 November 2016 at 10:29 am

      hahahahaha sayangnya kita nggak ketemu ya di Misool. ๐Ÿ˜€
      sedih banget ya pas tau tentang Sumba. Kamu udah pernah ke sana, Nif?

    Leave a Reply