Begitu mendengar kata “romantisme”, apa yang ada di pikiranmu? Bagi saya sendiri, romantisme adalah saat-saat di mana saya merasa senang karena suasana yang begitu mesra dan mengasyikkan. Mungkin kamu mengira bahwa segala sesuatu yang romantis harus selalu dilakukan bersama kekasih… tapi menurut saya sih, nggak juga. Nggak jarang, saya merasakan suasana yang begitu romantis saat bersama sahabat, keluarga, atau bahkan, orang yang baru saya kenal. Saya pun amat percaya bahwa romantisme atau keromantisan bisa terbangun asal momennya tepat. Dan kali ini, saya akan membahas romantisme Jakarta dalam 24 jam–seenggaknya, dalam versi saya.

Pukul 08.00-10.00 – Mari Keliling Monas

Sumber: Wikipedia.org

Pagi yang cerah di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Kamu mungkin membayangkan betapa padat dan penatnya. Akan tetapi, di kompleks Monumen Nasional (Monas), kamu bisa merasakan romantisme Jakarta. Pada Mei 2014 lalu, saya pun berkeliling Monas berdua bersama sepupu saya, Jojo, di akhir pekan. Di sana, kami pun melihat berbagai pedagang serta badut yang bertebaran bagai kelereng warna-warni di sekitar pelataran.

Saya ingat betul bagaimana saya dan Jojo sempat terkesima dengan permainan lempar gelang berhadiah ponsel yang dijajakan dengan membayar 10 ribu rupiah. Meskipun sedikit konyol dan cukup bikin orang penasaran, kenyataannya, selama 30 menit berdiri melihat permainan tersebut, nggak ada satu orang pun yang berhasil. Sesudahnya, kami pun juga sempat berfoto dengan badut Minion dengan memberi tip 5 ribu rupiah. Bagi saya, bisa berkeliling Monas dengan Jojo amatlah romantis, terutama karena saya bisa mengobrol tentang masa kecil kami. 🙂

Pukul 10.30-11.30 – Mencicipi Manisnya Es Krim ‘Tua’ Ragusa

Sumber: indonesiakaya.com
Sumber: indonesiakaya.com

Setelah berkeliling Monas selama kurang lebih 2 jam, mampirlah ke Ragusa Es Italia yang berada nggak jauh dari Monas, yaitu di Jalan Veteran, Gambir. Di kedai es krim yang sudah cukup tua ini, kamu pun bisa menjumpai es krim tradisional khas Italia yang begitu manis dan bikin hatimu meleleh. Menu favorit saya di Ragusa, sih, Spaghetti Ice Cream dan Rum Raisin Ice Cream. Dan jika kamu mau mencicipi keduanya sekaligus, sebaiknya kamu berbagi dengan orang yang kamu ajak makan es krim bersama supaya lebih romantis. 😀

Pukul 12.00-13.30 – Ngobrol Sambil Makan Siang di Kopi Oey

Sumber: myhotelmyresort.com

Anggap saja es krim yang kamu cicip di Ragusa Es Italia tadi sebagai makanan pembuka. Kini waktunya makan siang. Di Jalan Sabang, ada berbagai jenis rumah makan yang bisa kamu pilih. Buat saya sendiri, Kopi Oey adalah tempat makan favorit di Jalan Sabang. Dengan dekorasi ala China Town yang sedikit banyak mengingatkan saya akan rumah Nenek di Palembang, Kopi Oey menyajikan berbagai hidangan yang lezat mulai dari masakan Indonesia, masakan barat, hingga masakan Cina. Jika kamu belum pernah ke sana, saya amat merekomendasikan Spaghetti Tuna Pedas dan cemilan Singkong Sambel Roa yang selalu bikin nagih. Nggak hanya memiliki menu-menu yang lezat, makan di Kopi Oey selalu menyenangkan karena atmosfernya selalu berhasil membuat pengunjung betah. Saya sendiri sudah beberapa kali bertandang ke Kopi Oey dengan sahabat saya, Goro, untuk makan dan mengobrol. Rasanya, waktu dua jam nggak pernah cukup.

Pukul 14.00-16.00 – Melihat Bintang-Bintang di Planetarium

Sumber: Ngadem.com

Salah satu adegan romantis favorit yang kerap muncul di film-film adalah adegan melihat bulan dan bintang sambil berbaring di padang rumput yang luas. Di Jakarta mungkin kamu agak sulit untuk melakukannya. Akan tetapi, sudah pernahkah kamu berkunjung ke Planetarium? Menjadi salah satu destinasi study tour favorit yang buka setiap hari hingga pukul 5 sore, saya pun sudah beberapa kali berkunjung ke Planetarium, baik bersama keluarga, teman-teman, maupun sekolah. Hanya dengan duduk manis, kamu pun bisa melihat langit penuh bintang yang begitu romantis di Planetarium. Sangat menyenangkan, bukan?

Pukul 16.30-18.00 – Lari Sore Sambil Menunggu Matahari Terbenam di Senayan

Sumber: tempo.co

Setelah nyemil dan makan enak, lalu melihat bintang-bintang, nggak ada salahnya kamu merasakan romantisme Jakarta dengan berolahraga, yaitu dengan lari sore di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan sambil menunggu matahari terbenam. Apalagi, langit sore Jakarta telah menjadi salah satu langit sore favorit saya. Meskipun banyak gedung yang menjulang tinggi, senja di Jakarta hampir selalu terlihat cantik dan meneduhkan–membuat saya selalu berhasil lupa sejenak akan kesibukan di Jakarta. 🙂

Pukul 19.00-20.00 – Makan Malam Sate Padang Ajo Ramon di Pasar Santa

Ketika berada di Jakarta, saya seringkali bertanya-tanya, “Enaknya makan apa, ya?” Dan pada akhirnya pertanyaan itu menghantarkan saya pada jawaban: Sate Padang Ajo Ramon. Foto di atas merupakan satu-satunya foto pribadi yang saya gunakan untuk posting blog ini. Berada cukup dekat dengan kantor lama, saya ingat bagaimana saya cukup sering ke Pasar Santa untuk bertemu dengan teman-teman yang biasa diawali ataupun diakhiri dengan makan Sate Padang Ajo Ramon yang begitu tersohor. Saya pun juga nggak jarang mengajak pacar untuk makan malam di sana setelah kami pulang kerja (waktu saya masih ngantor di Tendean). Mulai buka pada malam hari, Ajo Ramon nggak pernah sepi sekalipun di hari kerja yang sibuk. Setelah seharian icip ini-itu di Jakarta, nggak ada salahnya bila kamu makan Sate Padang Ajo Ramon sepiring berdua sama sahabat atau (ehem) sama pacar biar lebih romantis. Bahkan, sekali waktu saya pernah makan sepiring bertiga dengan adik saya, Joan, serta temannya, Mia. Nggak perlu merasa kenyang, yang penting kan lidah dan perut saya sudah menikmati Sate Padang Ajo Ramon. 😀

Pukul 20.30-21.30 – Masih Ada Ruang di Perutmu? Tutup Malam di Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani

Sumber: mlampah.net

Dan jika masih ada ruang di perutmu untuk makanan enak alias kamu masih merasa lapar, kamu bisa mampir ke Nasi Uduk Kebon Kacang Zainal Fanani yang legendaris dan nggak kalah romantis–terutama karena menjadi salah satu tempat makan favorit saya dan pacar. 😀 Disajikan dengan bungkus kecil-kecil yang imut seperti saya (hehe…), kamu bisa memilih lauk-pauk untuk menemani nasi uduk mungil yang begitu lezat. Ada begitu banyak pilihan yang tersedia, kok, mulai dari empal, ayam goreng, sate ati ampela, sate usus, sate udang, dan masih banyak lagi. Biasanya sih, saya makan dua bungkus nasi uduk dengan sate usus dan lalapan. Nikmat sekali!

Setelah makan nasi uduk, masih mau makan lagi? Kamu saja, deh, saya sudah nggak kuat lagi. Sekarang, waktunya pulang dan istirahat setelah merasakan romantisme Jakarta selama 24 jam yang kebanyakan dilakukan dengan mengisi perut. Hehe…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 4: Jakarta 24 Jam” yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.

27 comments

    1. hihihi ternyata preferensi kita mirip-mirip, ya? *tutup muka*
      harus makan Nasi Uduk Kebon Kacang, Kak! Enyaaaak :3
      habis ini aku mampir, ya~

          1. Waaaaah ada rekomen tempat es krim baru nih hehehe
            Aslinya sih Pekalongan, tapi tinggal di Semarang. Makanya pernah ke toko oen, yang di Semarang tapi. Bukan di Malang hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.