Java Travel

Pertama Datang ke Semarang dan Menghitung Lawang

Banyak orang yang terkejut saat mengetahui bahwa saya belum pernah ke Kota Semarang, ibukota dari Provinsi Jawa Tengah. Saya sendiri cukup sering mendengar cerita Papa tentang Semarang dan Simpang Lima-nya. Sementara dari teman-teman, saya lebih sering mendengar tentang kemegahan Kuil Sam Poo Kong serta wisata sejarah di Lawang Sewu dan Kota Lama. Tadinya sih, saya berencana berlibur ke Semarang pada Januari 2015, tapi ternyata saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Semarang lebih awal! WOO-HOO!!! Setelah mampir ke Bandar Lampung bersama rombongan Social Media Trip and Gathering, akhirnya saya menjejakkan kaki di Kota Semarang. Yaaay!!!

Saat mampir ke Semarang, tentu nggak hanya satu atau dua destinasi wisata saja yang saya dan rombongan kunjungi. Semuanya begitu menarik dan mengesankan. Akan tetapi, kali ini saya hanya akan menuliskan kesan saya saat pertama datang ke Semarang dan menghitung lawang di Lawang Sewu.

Panas. Mungkin itu kesan pertama saya saat berada di Semarang. Sebelum benar-benar tiba di Semarang, saya memang kerap mendengar bahwa kota ini sangatlah panas dan terik, bahkan hampir menyaingi panasnya Kota Surabaya. Dan benar saja, saat saya mampir ke kota ini, panasnya benar-benar nyelekit seperti kata-kata mantan. (eh, maaf) Meski demikian, panasnya Semarang sama sekali nggak membuat saya bete, apalagi karena saya baru pertama datang ke Semarang dan sungguh nggak sabar menghitung lawang.

Sesuai namanya, yang berarti “Seribu Pintu”, Lawang Sewu berdiri begitu kokoh di bawah langit biru serta awan putih yang cantik. Nggak hanya kokoh, bangunan-bangunan di Lawang Sewu pun begitu cantik dan menawan meski sudah begitu tua. Bayangkan saja, Lawang Sewu sudah dibangun sejak tahun 1900-an! Sebagai seseorang yang sama sekali nggak tahu apa-apa soal arsitektur, saya pun hanya bisa mengagumi bangunan-bangunan penuh lawang begitu mengagumkan ini.

Salah satu bangunan di Lawang Sewu. Cantik, ya?

Bangunan utama Lawang Sewu. Cantik, ya?




Meski Lawang Sewu kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis karena pernah menjadi lokasi uji nyali, hal utama yang membuat saya tertarik untuk menulis tentang Lawang Sewu adalah karena arsitektur destinasi wisata ini begitu menarik, cantik, serta antik. Nggak hanya bisa menghitung lawang, di sini kamu juga bisa menemukan fakta-fakta baru tentang arsitektur Lawang Sewu yang begitu menakjubkan. Dari mulut saya sendiri, entah sudah berapa banyak kata “Wow!” yang terucap, dilanjutkan dengan adegan mulut menganga lebar saking takjubnya.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah cantiknya kaca patri yang tingginya lebih dari dua meter di bangunan utama Lawang Sewu. Dari luar, mungkin cantiknya warna-warni kaca patri tersebut nggak begitu terlihat, tapi begitu kamu masuk ke bangunan utama dan melihat tampilan kaca patri dari dalam, kamu tentu setuju bahwa arsitek Lawang Sewu benar-benar jenius dan hebat. Tanpa alat secanggih sekarang, bagaimana mereka bisa membuat kaca patri secantik itu? 🙂 Dan tepat di bawah kaca patri tersebut, kamu pun dapat menjumpai tangga kokoh yang dingin dan tebal. Tangga tersebut juga bukan tangga biasa, melainkan tangga yang terbuat dari batu granit. Saat berada di tangga itu, menapaklah sebentar dengan kaki telanjang supaya kamu bisa merasakan betapa sejuknya tangga granit tersebut! 😀

Kaca patri salah satu bangunan Lawang Sewu yang begitu cantik dan antik (tampak luar).

Kaca patri bangunan utama Lawang Sewu yang begitu cantik dan antik (tampak luar).

Kaca patri salah satu bangunan Lawang Sewu yang begitu cantik dan antik (tampak dalam).

Kaca patri bangunan utama Lawang Sewu yang begitu cantik dan antik (tampak dalam).

Berlokasi di Jalan Pemuda, Kota Semarang, nggak hanya unik karena begitu cantik dan antik, Lawang Sewu telah terbukti sebagai sebuah bangunan yang begitu sejuk dan adem karena bangunan-bangunannya nggak terbuat dari semen, melainkan dari bligor. Sekadar informasi, bligor sendiri merupakan campuran dari kapur, pasir, serta batu bata merah. Nggak hanya membuat bangunan menjadi sejuk dan adem karea menyerap air, bligor pun membuat bangunan menjadi nggak mudah retak. Makanya, nggak heran kan kenapa bangunan-bangunan di Lawang Sewu begitu kokoh? 😀

Salah satu lorong di salah satu bangunan Lawang Sewu.

Salah satu lorong di bangunan utama Lawang Sewu.

Salah satu ruangan di Lawang Sewu yang memiliki furnitur lengkap.

Salah satu ruangan di Lawang Sewu yang memiliki furnitur lengkap.

Selama kurang lebih dua jam berkeliling Lawang Sewu, saya akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa nggak hanya cantik dan antik, berbagai sisi bangunan-bangunan di tempat ini begitu instagrammable alias fotogenik. Meskipun saya sama sekali nggak mengerti apa-apa tentang fotografi, tapi entah mengapa, berbagai sudut Lawang Sewu amatlah menarik untuk difoto. Sambil memotret, nggak ada salahnya kamu iseng menghitung ada berapa banyak Lawang di salah satu destinasi favorit Kota Semarang ini. Hehehe…

Coba tebak, kira-kira ada berapa lawang dalam foto ini? (1)

Coba tebak, kira-kira ada berapa lawang dalam foto ini? (1)

Coba tebak, kira-kira ada berapa lawang dalam foto ini? (2)

Coba tebak, kira-kira ada berapa lawang dalam foto ini? (2)

Nah, selama saya berkeliling Lawang Sewu, saya amat berterima kasih kepada bapak pemandu wisata yang begitu seru dan informatif. Sayangnya, saat itu saya lupa menanyakan nama Beliau. Foto Beliau ada di bawah ini. Jika kamu berjumpa dengan Beliau di Lawang Sewu, saya titip salam, ya, sekalian titip tanya namanya siapa. :’)

Pemandu wisata kami tengah menjelaskan tentang deretan lawang yang ada di sampingnya.

Pemandu wisata kami tengah menjelaskan tentang deretan lawang yang ada di sampingnya.

Oh iya, meskipun di sekitar kompleks Lawang Sewu begitu panas, kamu masih bisa berteduh di bawah rimbunnya pohon-pohon Lawang Sewu yang begitu tinggi dan besar. Nggak hanya itu, di sekitar kompleks Lawang Sewu, ada banyak tempat duduk yang tersedia, lho. Jika kamu lelah berjalan atau berkeliling Lawang Sewu, tinggal duduk saja. 😀

Salah satu bangunan Lawang Sewu tampak dari lantai dua bangunan yang lain.

Salah satu bangunan Lawang Sewu tampak dari lantai dua bangunan yang lain.

Teman-teman rombongan kami tengah berteduh di bawah pohon yang rimbun.

Teman-teman rombongan kami tengah berteduh di bawah pohon yang rimbun.

Jika ingin duduk-duduk, kamu bisa duduk dekat lokomotif tua yang antik ini.

Jika ingin duduk-duduk, kamu bisa duduk dekat lokomotif tua yang antik ini.

Pada akhirnya, pertama datang ke Semarang dan menghitung Lawang pun berhasil membuktikan bahwa keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Berdiri kokoh di tengah Kota Semarang yang sudah cukup modern, Lawang Sewu masih tetap menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang begitu menarik. Saat berkunjung ke sana, sila siapkan kamera dan tabir surya. 🙂

Jangan lupa berfoto di Lawang Sewu, ya. Ini foto ala-ala saya dan Yuki.

Jangan lupa berfoto di Lawang Sewu, ya. Ini foto ala-ala saya dan Yuki. – Foto: Widhi Bek

Nah, ini foto ala-ala saya. Ala-ala majalah Aneka Yess! :P

Nah, ini foto ala-ala saya. Ala-ala majalah Aneka Yess! 😛 – Foto: Widhi Bek

Sampai jumpa lagi, Semarang dan Lawang Sewu! 😀

Postingan ini merupakan catatan perjalanan Social Media Trip and Gathering bersama Kemenpar yang berlangsung pada 8-23 November 2015. Ada 7 postingan yang bisa kamu baca:

  1. Tentang Kelagian dan Pak Sami
  2. Pertama Datang ke Semarang dan Menghitung Lawang -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  3. Kue Lapis, Meteor, dan Matahari Terbit di Bukit Kingkong
  4. Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok
  5. Berjumpa dengan Komodo di Pulaunya
  6. Menemukan Rumah Baru di Kampung Cecer
  7. Menonton Pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu



You Might Also Like

5 Comments

  • Reply
    Salman Faris
    14 December 2015 at 2:49 pm

    Aku kuliah di Semarang, dan selalu menyempatkan untuk main ke sini lagi dan lagi

    Kota yang membuat gue rindu terus dan terus merindu hahaha

    • Reply
      admin
      14 December 2015 at 6:53 pm

      Huaaaa..tapi aslinya kamu orang mana sih, Salman? Aku sih pasti balik lagi ke Semarang. :”)

  • Reply
    Bobby Ertanto
    20 December 2015 at 8:37 am

    Kamu masuk bunker bawah tanahnya ga? Atau coba uji nyali sekalian disitu? 😀

    • Reply
      admin
      20 December 2015 at 5:31 pm

      Nggak ke bawah tanah, Kak, soalnya udah nggak boleh lagi ke bawah tanah sama manajemen Lawang Sewu-nya.

    Leave a Reply