Culinary Kalimantan Travel

Pagi di Singkawang: Jelajah Pasar Turi

Belakangan, saya sungguh malas bangun pagi. Apalagi, kalau nggak ada keperluan yang begitu mendesak. Meski banyak yang bilang, “Pamali buat anak gadis bangun siang,” tapi saya memang nggak bisa memungkiri bahwa nggak ada yang bisa mengganggu hubungan saya dengan kasur selain ya itu tadi: keperluan yang mendesak. Untungnya, sewaktu saya dan teman-teman blogger diajak ke Singkawang pada 19-23 Februari 2016, kebiasaan bangun siang tersebut sempat terlupa sejenak. Pada pagi pertama di Singkawang, saya dan Kak Vira dari Indohoy langsung berjalan kaki menuju Pasar Turi yang letaknya nggak sampai 5 menit dari hotel tempat kami menginap.

Pagi pertama yang dingin di Singkawang. Langit sedikit mendung. Empat tahun lalu, saya sudah pernah berkunjung ke Singkawang meskipun nggak menginap alias pulang hari dari Kota Pontianak. Entah kenapa, berada di Singkawang rasanya seperti kembali ke kampung halaman, apalagi karena kawasan Pecinannya. Sayang, saya nggak bisa berbicara dalam Bahasa Mandarin atau dialek lain.

Waktu menunjukkan pukul 8 kurang. Saya dan Kak Vira langsung menghampiri seorang bapak penjual buah langsat yang berada di tepi jalan. Sekilas, buah langsat memang terlihat seperti buah duku. Akan tetap, ternyata buah langsat dan buah duku bukanlah buah yang sama. Awalnya, saya mengira mereka sebenarnya adalah dua buah yang sama dengan nama berbeda karena perbedaan bahasa. Meski sama-sama berasal dari famili Domesticum, buah langsat dan buah duku adalah dua varietas yang berbeda. Buat saya sih, rasa keduanya agak mirip walaupun buah langsat memiliki jumlah air yang lebih banyak dibandingkan dengan buah duku. Buah langsat tersebut dijual dengan harga 20 ribu rupiah saja per kilonya.

Saatnya mencicipi buah langsat!

Saatnya mencicipi buah langsat!

Setelah mencicipi buah langsat, saya dan Kak Vira menghampiri salah satu kios yang menjual jajanan pasar. Nggak disangka-sangka, di sana kami bertemu dengan teman sekamar, Satya, yang memang berencana menyusul kami. Di sana, saya dan Satya langsung memborong berbagai jajanan pasar yang menarik. Mulai dari kue lapis legit, donat, hingga choi pan alias chai kue, semuanya ada! Kue pasong yang manis dijual dan ketupat yang isinya ternyata hampir mirip dengan lepet (berisi ketan dan kacang tolo) dijual seharga seribu rupiah, sementara kue kantong semar yang begitu menarik perhatian saya (dan memang dibuat dari kantong semar yang diisi dengan ketan dan kacang tolo) dijual seharga 5 ribu rupiah. Rasanya? Tentu enak! Satya yang kelaparan pagi itu bahkan sempat melahap roti srikaya yang dijual seharga 2 ribu rupiah.




Sudah pernah coba jajanan-jajanan pasar ini? - Keterangan foto atas (dari kiri ke kanan): kue pasong, kue kantong semar, dan ketupat.

Sudah pernah coba jajanan-jajanan pasar ini? – Keterangan foto atas (dari kiri ke kanan): kue pasong, kue kantong semar, dan ketupat.

Setelah tenggelam bersama jajanan pasar yang begitu menarik, tanpa disadari Kak Vira ternyata sudah menghilang entah ke mana. Akhirnya, saya dan Satya pun memutuskan berjalan-jalan berdua sambil memotret sekeliling. Serunya lagi, saat berjalan-berjalan, saya sempat melihat baliho yang berisi wajah tetangga saya, yaitu Om Andreas! Lucu juga, bagaimana saya bisa melihat wajah orang yang begitu familiar di kota yang jauh sekali dari rumah. 😀 Saya sendiri sih nggak terlalu paham apakah Om Andreas memang berniat menjadi Calon Legislatif atau gimana, tapi bangga juga sih lihat wajahnya ada di berbagai sudut Kota Singkawang! 😛

Wajah tetangga saya di Tangerang; Om Andreas, terpampang di berbagai belahan kota Singkawang! :O

Wajah tetangga saya di Tangerang; Om Andreas, terpampang di berbagai belahan kota Singkawang! :O

Berjalan-jalan ke sudut yang lain, saya dan Satya melihat berbagai macam dagangan yang cukup menarik. Mulai dari daun pakis, ayam, dan buah rambai. Seperti biasa, kami pun iseng berfoto dan mengobrol dengan para pedagang di Pasar Turi yang begitu ramah. Meski pagi cukup dingin dan jalanan becek, aktivitas di Pasar Turi tetap saja ramai. Saat bepergian, mampir ke pasar tradisional memang jadi salah satu kegiatan favorit saya, terutama kalau saya bisa bangun pagi. Hehehe… 😀 Oh iya, tips jalan-jalan ke pasar tradisional yang paling penting: nggak usah mandi dan pakai sandal jepit saja! 😛 Soalnya kan, nanti pakaian kita bakalan kotor.

Satya Winnie kesayanganku. :*

Satya Winnie kesayanganku. :*

Sudut pertokoan Pasar Turi, Singkawang.

Sudut pertokoan Pasar Turi, Singkawang.

Di Pasar Turi semuanya ada! Mulai dari penjual ayam sampai tukang sol sepatu.

Di Pasar Turi semuanya ada! Mulai dari penjual ayam sampai tukang sol sepatu.

Asyiknya nongkrong di becak sendiri. :3

Asyiknya nongkrong di becak sendiri. :3

Main-main sama buah rambai!

Main-main sama buah rambai!

Setelah berfoto dengan buah rambai yang dijual dengan harga 8 ribu rupiah per kilo, kami lalu menyusuri bagian dalam pasar yang terdiri dari lorong-lorong kecil. Di sana, kami menjumpai banyak kios-kios kecil. Jika kamu adalah seorang pecinta kopi, kamu pasti akan senang banget karena ada cukup banyak kedai kopi yang menjual kopi bubuk yang bisa kamu bawa pulang. Ada Kopi Bubuk Cap Ikan Mas, ada juga Kopi Bubuk Rasa Sayang. Kamu mau yang mana? Kalau merasa kurang kasih sayang, kayaknya Kopi Bubuk Rasa Sayang sudah pas banget, deh. Hehehe…

Kamu bisa bawa pulang kopi dari Singkawang. Mau?

Kamu bisa bawa pulang kopi dari Singkawang. Mau?

Butuh kopi rasa sayang? :3

Butuh kopi rasa sayang? :3

Jalan-jalan di pasar tetap tersenyum, dong!

Jalan-jalan di pasar tetap tersenyum, dong!

Selesai “ngegangguin” para penjaga kios kopi, kami menyusuri sudut Pasar Turi yang lain. Meski nggak membeli apapun kecuali jajanan pasar tadi, kami sempat melihat seorang kokoh-kokoh yang tengah memasak mietiauw goreng. Kelihatannya sih, menarik banget, tapi saya dan Satya akhirnya memutuskan untuk nggak membeli mietiauw karena ingin mencicipi makanan lain. Asyiknya jelajah Pasar Turi, para pedagangnya itu ramah-ramah banget. Bahkan, mereka nggak segan-segan berpose ketika saya mau memotret. Seru, deh! 😀

Lapar saat berada di pasar? Kamu bisa makan mietiauw goreng. :D

Lapar saat berada di pasar? Kamu bisa makan mietiauw goreng. 😀

Ibu cantik yang siap difoto banget. :D

Ibu cantik yang siap difoto banget. 😀

Oh iya, untuk alternatif oleh-oleh dari Singkawang, selain kopi bubuk, kamu juga bisa membeli cumi kering asin yang dijual seharga 120 ribu rupiah per kilo atau ebi merah yang dijual seharga 270 ribu rupiah per kilo. Khas lokal banget, nih! Apalagi buat kamu yang mau bawa pulang untuk Mama atau calon mertua, kayaknya pas banget bawa cumi sama ebi ini. Hehehe… Atau mungkin kamu suka makan sup ayam pakai kembang tahu? Kamu bisa juga membeli kembang tahu berbentuk pita yang dijual di Pasar Turi. Dan buat kamu yang suka banget makan makanan pedas seperti saya, kamu juga bisa membeli Sambal Cabe Rawit khas Singkawang. Nggak hanya itu, di Pasar Turi, kamu juga bisa membeli haisom alias teripang yang dijual seharga 500 ribu rupiah per kilo, tauco homemade, serta rebung. Pokoknya, ada banyak banget yang bisa kamu bawa pulang deh dari Pasar Turi! 😀

Coba tebak berapa harganya? Cuminya dijual 120 ribu rupiah per kilo sementara ebi merahnya dijual seharga 270 ribu rupiah per kilo. Makanan mahal, nih!

Coba tebak berapa harganya? Cuminya dijual 120 ribu rupiah per kilo sementara ebi merahnya dijual seharga 270 ribu rupiah per kilo. Makanan mahal, nih!

Sudut Pasar Turi yang lain. Ramai sekali, ya?

Sudut Pasar Turi yang lain. Ramai sekali, ya?

Oke banget nih buat oleh-oleh: kembang tahu berbentuk pita sama sambel khas Singkawang! :D

Oke banget nih buat oleh-oleh: kembang tahu berbentuk pita sama sambal cabe rawit khas Singkawang! 😀

Tertarik membeli haisom atau teripang? Dijual seharga 500 ribu rupiah saja per kilo. Nah, untuk foto yang di bawahnya: kamu bisa membeli tauco homemade dan rebung!

Tertarik membeli haisom atau teripang? Dijual seharga 500 ribu rupiah saja per kilo. Nah, untuk foto yang di bawahnya: kamu bisa membeli tauco homemade dan rebung!

Secara keseluruhan, jelajah Pasar Turi, Singkawang, memang benar-benar asyik dan seru. Saya sendiri sih pasti mau kembali ke sana jika berkesempatan mampir ke Kota Singkawang lagi. Yang jelas, sebelum mampir ke Pasar Turi, siapkan banyak uang untuk jajan dan beli oleh-oleh, dan jangan lupa siapkan ruang di perutmu untuk sarapan pagi. 😀

Sampai jumpa lagi, Pasar Turi!

—–

Perjalanan bersama para blogger ini terlaksana atas undangan Kementerian Pariwisata Indonesia. Foto-foto juga diposting di twitter dan instagram dengan hastag #PesonaSingkawang #PesonaPontianak #PesonaIndonesia.



You Might Also Like

8 Comments

  • Reply
    vira
    4 March 2016 at 2:27 pm

    jajanannya banyak yang menggoda!
    terus, udah ketemu lagi sama Pak Andreas sang tetangga?

    • Reply
      Sefin
      4 March 2016 at 5:00 pm

      banget banget! menggoda banget, Kak! akhirnya belum ketemu lagi, sih. :”D masih agak menyesal nggak foto bareng balihonyaaa 😛

  • Reply
    Rere @atemalem
    4 March 2016 at 2:32 pm

    Aku sukak betul liat senyum ibuk-ibuk yang jual ayaamm.. 😀

    • Reply
      Sefin
      4 March 2016 at 5:02 pm

      Senyumnya manis banget ya, Re :3

  • Reply
    Nita
    4 March 2016 at 2:43 pm

    Aduh laper liat jajanan pasarnya!

    • Reply
      Sefin
      4 March 2016 at 5:06 pm

      Sama, Teh! Mana sekarang jam nyemil nanggung pulaak

  • Reply
    Si Ochoy
    5 March 2016 at 2:27 pm

    Kemarin kayaknya gue kurang ekslor hal-hal aneh di pasar itu deh, laper cuy! :)))

    • Reply
      Sefin
      27 March 2016 at 9:24 am

      Balik lagi dan eksplor Singkawang beneran, yuk!

    Leave a Reply