Sulawesi Travel

Menemukan Rumah di Tanjung Bira

DSCN0616Indonesia adalah surga. Paradise. Di mana lagi kamu bisa menemukan begitu banyak tempat dengan pemandangan yang luar biasa? Jika kamu mencintai dataran tinggi dengan udara yang begitu sejuk, kamu bisa mendaki gunung-gunung yang ada. Dan jika kamu mencintai ombak lautan dan matahari yang menyengat, kamu bisa pergi ke pantai-pantai yang terhampar luas. Jadi, kenapa harus jauh-jauh ke luar negeri?

Saya seringkali dihujani pertanyaan mengenai pantai mana yang terindah di Indonesia dan saya merasa tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang memuaskan karena ada terlalu banyak dan baru sedikit yang saya datangi. Dan tidak, kali ini saya tidak akan membahas tentang Raja Ampat. Kali ini saya akan bercerita tentang Tanjung Bira di Sulawesi Selatan.

Sebagai seseorang yang tidak begitu menyukai keramaian, Pantai Tanjung Bira bisa diibaratkan seperti Pantai Kuta di Bali. Ramai dan selalu penuh pengunjung, terutama di sore hari. Meski demikian, Tanjung Bira berhasil merebut hati saya.

Saya ingat betul hari-hari saya saat berada di sana pada Agustus 2014 yang lalu. Hari-hari yang terasa seperti di surga. Paradays.




DSCN1129

Disambut oleh sebuah gerbang yang didominasi warna merah bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Wisata Tanjung Bira”, jiwa saya saat itu tidak bisa tidak ikut bersemangat. Rasanya saya ingin sekali berteriak “Merdeka!”, apalagi hari pertama di Tanjung Bira merupakan H-4 Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 dan H-15 hari wisuda. Jujur saja, saat itu saya begitu deg-degan. Saya tidak sabar untuk mencium aroma laut yang khas di bawah barisan awan putih yang terlihat begitu empuk dan menyenangkan.

DSCN0598Dari atas, Pantai Tanjung Bira terlihat begitu ramah dengan atap warung-warungnya yang berwarna-warni. Laut yang berwarna hijau tosca begitu jernih dan pasir putihnya mengingatkan saya akan bedak halus yang biasa ditaburkan di tubuh seorang bayi. Saya merasa seperti seorang anak kecil lagi. Kapal-kapal yang tengah beristirahat tampak begitu tenang, bergoyang-goyang di tengah laut yang tidak pernah bisa diam.

DSCN0607

DSCN0722

Tidak terasa, matahari sudah mau tenggelam. Hari pertama di Tanjung Bira saya habiskan dengan lebih banyak duduk di tepi pantai sambil mengamati sekeliling. Sunset menutup hari dengan begitu sempurna, warnanya jingga dengan semburat merah muda yang malu-malu. Pasir pantai tidak lagi terlihat putih, bahkan saya sudah tidak lagi melihat jari-jari kaki saya sendiri. Gelap. Hari mulai sunyi.

DSCN0812

Hari kedua di Tanjung Bira saya dan teman-teman habiskan dengan mencelupkan diri ke air laut; snorkeling. Beberapa puluh menit dengan kapal cepat, kami menyeberang ke Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe. Soft corals yang bergoyang ke sana kemari di dalam laut terlihat seperti sedang menari. Ikan-ikan kecil berkeliaran. Pemandangan bawah laut Pulau Kambing DSCN0897benar-benar menghipnotis saya. “Fin!” Saya ingat betul suara panggilan itu. Tidak terasa, saya telah menghabiskan lebih dari 60 menit hanya untuk snorkeling. Kami pun berfoto di atas permukaan air dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Liukang Loe. Pantai di sana tidak kalah bagusnya dengan Pantai Tanjung Bira. Semua serba biru dan saya hanya bisa membisu karena terpesona.

DSCN0910DSCN0993


DSCN1137DSCN1139

Sepulang dari Pulau Kambing dan Pulau Liukang Loe, mata saya langsung tertuju pada seorang anak yang tengah berdiri memandang ke bawah. Tangannya bertumpu pada dinding beton sebuah warung. Saat itu saya tengah menuju ke hotel. Dia tengah memerhatikan ibu dan adiknya yang sedang asyik bercengkerama di atas pasir pantai. Kedua matanya tidak bisa lepas memandangi mereka. Saya seperti ikut merasakan rasa ingin tahu dan kepolosannya.

Saya tidak mengenal anak kecil itu, ibunya, ataupun adiknya, tapi entah kenapa, saya merasa akrab. Saya teringat rumah. Saya teringat bagaimana saya bercengkerama dengan ibu dan adik-adik saya waktu kecil. Akhirnya saya pun sadar, segala sesuatu yang sederhana memang begitu membahagiakan.

DSCN1101

Hari terakhir di Tanjung Bira. Bangun dengan enggan, akhirnya saya dan teman-teman berhasil mengejar sunrise yang bangkit perlahan-lahan. Dia muncul dengan awan-awan, terlihat seperti tengah bertabur asap. Sekali lagi, Tanjung Bira berhasil mencuri hati saya.

DSCN0691Saya menutup perjalanan di Tanjung Bira dengan senyum seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang lucu. Dia begitu ramah. Kedua mata si anak begitu besar dan berbinar-binar. Saya kembali merasa seperti berada di rumah. Rumah yang adalah surga. Tanjung Bira dengan hari-hari surga. Yang lalu. Paradays. 



You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    rahneputri
    3 June 2015 at 6:44 pm

    Aaakk pengen ke sanaaaaaaa T___T

    • Reply
      sefiiin
      3 June 2015 at 6:48 pm

      Ayo, Kak! Mesti banget ke sana. Ajak suamimu ajaaa~ kalo mau yang lebih private bisa ke Bara Beach ^^

    Leave a Reply