Bali and Nusa Tenggara Travel

Menemukan Rumah Baru di Kampung Cecer

Beberapa kali melakukan perjalanan atau bepergian, saya cukup sering menemukan rumah baru. Rumah baru yang akhirnya membuat saya ingin terus kembali. Nggak peduli betapa jauhnya tempat tersebut, betapa sulitnya tempat tersebut untuk dikunjungi. Setelah menuliskan pengalaman berjumpa dengan komodo di pulaunya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya menemukan rumah baru di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).Β 

Hari itu adalah hari terakhir kami berada di Labuan Bajo. Siangnya, kami harus terbang ke Bali untuk melanjutkan perjalanan. Menurut jadwal perjalanan, kami akan pergi menonton Tarian Caci. Sebelum pergi ke Kampung Cecer, saya sama sekali buta dengan kampung tersebut. Saya pikir, saya hanya akan melihat tarian dan pulang dengan membawa foto-foto tarian. Ternyata saya salah. Berkunjung ke Kampung Cecer pada akhirnya membuat saya menemukan rumah yang baru.

Senyum para ibu dan anak-anak Kampung Cecer. :)

Senyum seorang nenekΒ dan anak-anak Kampung Cecer yang manis. πŸ™‚

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam dari pusat Labuan Bajo, kami langsung disambut oleh para warga Kampung Cecer yang sudah mengenakan pakaian tradisional khas terbaik mereka. Yang laki-laki terlihat begitu gagah dengan pakaian yang didominasi oleh warna hitam, sementara yang perempuan terlihat begitu cantik dengan pakaian yang didominasi oleh warna merah muda.

Acara pun nggak langsung dimulai dengan tarian. Beberapa orang dari rombongan kami dipersilakan duduk untuk mengikuti acara sambutan yang dilambangkan dengan uang dan sopi, minuman keras khas Flores. Acara tersebut dilakukan dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan Bahasa Indonesia. Pihak rombongan dan pihak Kampung Cecer bertukar uang. Yang dilihat bukanlah nominalnya, melainkan bagaimana pertukaran uang tersebut melambangkan persahabatan dan keakraban. Intinya, kami disambut dengan baik sekali. Setelah itu, tetua adat Kampung Cecer pun menuangkan sopi ke banyak gelas. Saya sendiri sempat mencicipi rasanya–cukup keras, tapi juga nikmat, meski saya sendiri nggak terlalu suka minuman beralkohol.




Duduk dengan para tetua adat Kampung Cecer.

Duduk dengan para tetua adat Kampung Cecer.

Siap-siap minum sopi, minuman keras khas Flores.

Siap-siap minum sopi, minuman keras khas Flores.

Setelah duduk-duduk bersama tetua adat, akhirnya kami menonton tari-tarian. Tarian pertama yang dipentaskan adalahΒ Tari Caci. Terlihat cukup menegangkan karena ada adegan melompat sambil memukul yang dilakukan berkali-kali, tarian yang dilakukan oleh para laki-laki ini ternyata memiliki makna khusus. Tari Caci mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri dan merayakan hidup. Sekalipun kita kena pukul atau kena masalah, kita harus tetap bersyukur supaya bisa tetap bahagia. Sebagai seseorang yang sering mengeluh, saya merasa ‘ditampar’ oleh tarian ini.

Para perempuan Kampung Cecer yang memainkan musik untuk mengiringi tari-tarian.

Ibu-ibu Kampung Cecer yang memainkan musik untuk mengiringi tari-tarian.

Tari Caci (1).

Tari Caci (1).

Tari Caci (2).

Tari Caci (2).

Tarian kedua yang dipentaskan setelah Tari Caci adalah Tari Akomafo. Dipentaskan dengan para penari perempuan yang membawa beras, juga para lelaki di belakangnya, tarian ini berpusat pada makna “Ricikole” dalam Bahasa Manggarai, yang berarti “selalu ada” dalam Bahasa Indonesia. Bagi saya sendiri, tarian ini lebih seperti tarian doa karena tarian iniΒ melambangkan harapan warga Kampung Cecer agar mereka nggak pernah kekurangan beras atau makanan. Dengan kata lalu, supaya mereka selalu tercukupi.

Tari Akomafo (1).

Tari Akomafo (1).

Tari Akomafo (2).

Tari Akomafo (2).

Setelahnya, kami pun berkesempatan untuk menonton Tari Kerangkuk Alu yang membutuhkan kelincahan untuk melompat-lompat di antara bambu-bambu yang dibuka-tutup serta digoyang dengan ritme tertentu. Meski rombongan kami sempat diajak untuk menari, sayangnya nggak ada satu pun yang berani mencoba. Mungkin takut pergelangan kakinya terjepit. Hehehe… Bagi saya sendiri sih, tarian ini mengingatkan saya pada permainan karet. πŸ˜€

Saat menonton tari-tarian, kami disuguhi kopi khas Kampung Cecer. Rasanya enak banget!

Saat menonton tari-tarian, kami disuguhi kopi khas Kampung Cecer. Rasanya enak banget!

Tari Kerangku Alu.

Tari Kerangkuk Alu.

Usai menonton tari-tarian, saya pun mengobrol dengan salah satu warga Kampung Cecer, yaitu Helmina Suryati. Ibu dua anak ini begitu ramah dan menyenangkan. Ketika mengobrol dengannya, saya seperti bertemu dengan seorang kawan lama. Saya ingat betul bagaimana ia bertanya apakah saya sudah menikah atau belum. Tentu saja saya jawab belum. Dengan nada bercanda, Helmina lalu menyuruh saya mencari jodoh dari Kampung Cecer. Saya pun hanya bisa tertawa laluΒ menjawab, “Nanti pacarannya mahal di ongkos, dong.”Β πŸ˜›

Helmina Suryati, sahabat baru saya dari Kampung Cecer, saat mengiringi Tari Caci.

Helmina Suryati, sahabat baru saya dari Kampung Cecer, saat mengiringi Tari Caci.

Sambil merangkul putri bungsunya yang bernama Jelita Sukacita, Helmina nggak henti-hentinya menggoda saya untuk cepat menikah. Aneh sekali rasanya, bagaimana seseorang yang baru saja saya kenal, bisa begitu akrab dengan saya. Bertemu, mengobrol, dan bercanda dengan Helmina akhirnya membuat saya yakin bahwa saya telah menemukan rumah baru di Kampung Cecer. Di samping itu, berkunjung ke Kampung Cecer juga membuat saya semakin yakin bahwa keragaman alamΒ dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. SetelahΒ Pulau Komodo menebar pesona alamnya, kini giliran Kampung Cecer yang menebar pesona budayanya.

Helmina Suryati, sahabat baru saya dari Kampung Cecer, bersama putrinya, Jelita Sukacita.

Helmina Suryati, sahabat baru saya dari Kampung Cecer, bersama putrinya, Jelita Sukacita.

Saya sendiri sudah berjanji pada Helmina, bahwa suatu saat saya akan kembali lagi ke Kampung Cecer. Siapa tahu, saya bisa kembali ke sana dengan suami saya kelak. Hidup ini memang penuh kejutan, bukan? Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi di kemudian hari?

Wefie dulu dengan para warga Kampung Cecer sebelum pulang. :D

Wefie dulu dengan para warga Kampung Cecer sebelum pulang. πŸ˜€

Sampai jumpa lagi, Kampung Cecer!

Postingan ini merupakan catatan perjalanan Social Media Trip and GatheringΒ bersama Kemenpar yang berlangsung pada 8-23 November 2015. Ada 7 postingan yang bisa kamu baca:

  1. Tentang Kelagian dan Pak Sami
  2. Pertama Datang ke Semarang dan Menghitung Lawang
  3. Kue Lapis, Meteor, dan Matahari Terbit di Bukit Kingkong
  4. Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok
  5. Berjumpa denganΒ Komodo di Pulaunya
  6. Menemukan Rumah Baru di Kampung CecerΒ -> Kamu sedang membacaΒ postingan ini.
  7. Menonton Pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu



You Might Also Like

8 Comments

  • Reply
    insanwisata
    15 December 2015 at 7:25 am

    Ahhh. Aku ga dapet ngicipi kopinya πŸ™

    • Reply
      admin
      15 December 2015 at 7:10 pm

      sayang banget πŸ™ terus nggak beli kopi bubuk atau biji kopinya juga lagi? berarti harus balik lagiiii

      • Reply
        insanwisata
        11 January 2016 at 10:08 pm

        Memang sengaja ga beli biar bisa balik lagi. Siapa tahu ada yang dapat jodoh di Kampung Cecer. Terus pas nikah diundang ke sana gratis

        • Reply
          Sefin
          13 January 2016 at 9:54 am

          Huahahahahaha dasaaaar… Emangnya kalo beli nanti nggak balik lagi? πŸ˜› Kalo gitu, Kamu aja Nif yang nyari jodoh di sana hehehehe

  • Reply
    Yudi Randa
    16 December 2015 at 1:23 am

    Yudi berharap, kak Sefin juga bisa menemukan rumah baru di aceh, sampai akhirnya teracuni oleh aceh seperti kak Olive πŸ˜€
    tapi mungkin lain kali, kita akan bermain di aceh tanpa pemandu resmi ya kak hehe

    • Reply
      admin
      17 December 2015 at 6:44 pm

      amiiiiiiiin. semoga tahun depan kesampean ke Aceh lagi ^^

  • Reply
    Sazka
    15 January 2016 at 6:56 pm

    Kak Sefin, nonton tariannya bayar kah?? Aku kepengen banget menjelajah Indonesia dan belajar budayanya, tapi dimulai dari nonton tari kecak di uluwatu saja bayar 100ribu (worth it sih cuman…cuman,cuman….T___T” hbs nonton jd ga punya duit lg huhuhuhu) Bener-bener beruntung banget kak Sefin bisa nyasar kesana dan dapet pelajaran budaya yg berharga banget

    • Reply
      Sefin
      15 January 2016 at 10:44 pm

      Nonton tariannya? Nggak bayar karena kita serombongan..kayaknya sih udah disiapin sama panitianya :”D
      Kalo mau menjelajah Indonesia memang harus pelan-pelan, sih. Nggak bisa sekaligus juga..
      Terima kasih, ya, aku juga ngerasa beruntung banget, Sazka, bisa pergi ke Kampung Cecer dan belajar budaya dsb. πŸ™‚
      Kalo memang tertarik keliling dan belajar budaya, memang bisa mulai dari Bali..coba baca postinganku “Ke Ubud Sendirian? Kenapa Nggak?” di situ aku tulis tentang gimana cara menjelajah sendiri πŸ™‚
      Meski jalan-jalan bisa dibilang mahal, tapi pengalaman nggak ada harganya.. Kesempatan akan selalu datang..tinggal gimana kamu aja ambil keputusan yang terbaik! πŸ˜€

    Leave a Reply