Java Travel

Kue Lapis, Meteor, dan Matahari Terbit di Bukit Kingkong

Kalau nggak salah, terakhir kali saya pergi ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) atau yang cukup sering disebut Bromo, itu di tahun 2009 atau kira-kira enam tahun yang lalu. Saat itu, saya pergi bersama keluarga saya; bersama Papa, Mama, dan adik-adik. Kami pergi melihat matahari terbit di Pananjakan. Sudah cukup lama, bukan? Dan setelah saya bersama rombongan Social Media Trip and Gathering mampir ke Kota Semarang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Surabaya, khususnya Bromo. Jujur saja, saya sedikit deg-degan saat hendak menuju Bromo karena kawasan TNBTS begitu dingin, sementara saya punya alergi dingin sehingga sangat mudah pilek dan flu. Akan tetapi, demi pengalaman dan tantangan baru, mari menjelajah Bromo!

Untuk bisa menjelajah Bromo, kita harus menggunakan Jeep yang muat untuk empat hingga lima orang. Nah, berhubung total rombongan kami ada lebih dari 50 orang, akhirnya kami pun disuruh membagi kelompok masing-masing empat hingga lima orang. Dari tiap kelompok itulah, kami naik satu Jeep dan diperbolehkan memilih satu di antara dua destinasi, yaitu Bukit Kingkong dan Pananjakan. Tanpa kebetulan, saya dan Yuki pun bergabung bersama Mas Widhi Bek, Mas Yudhie Fardhani, dan Satya dalam satu Jeep dan memilih untuk menjelajah Bukit Kingkong. Menyebut diri kami sebagai Kingkong Baper, nggak hanya Jeep kami saja, tapi juga ada Jeep satu lagi (Tides, Deta, Mas Day, dan Kak Leoni) yang turut menjelajah Bukit Kingkong. Bila kelompok-kelompok lain bersiap kira-kira pukul setengah 3 pagi untuk melihat matahari terbit, kelompok penjelajah Bukit Kingkong pun memilih untuk berangkat lebih awal. Alasannya? Ada meteor dan matahari terbit yang menunggu kami! 😀

Dengan janji manis yang disepakati untuk berangkat pukul 12 malam, tepat pukul 12 malam kurang 20 menit, saya dan Yuki bergegas memakai pakaian tebal supaya bisa menjelajah Bukit Kingkong bersama Kingkong Baper. Tanktop, kaus tipis, kaus agak tebal, kaus lengan panjang agak tebal, kardigan tebal, jaket, legging, kaus kaki tipis, kaus kaki agak tebal, kaus kaki tebal, sarung tangan, serta topi kupluk rajutan–kira-kira itulah yang saya kenakan saat menjelajah Bukit Kingkong. Berhubung saya mengenakan pakaian berlapis-lapis dan saya manis, akhirnya saya pun menyebut diri saya sebagai Kue Lapis di postingan ini. (Boleh, ya.)

Seperti biasa, janji manis yang jarang ditepati, akhirnya kami pun baru berangkat menjelajah Bukit Kingkong kira-kira pukul setengah 2 pagi. Sedikit kecewa dan banyak mengantuk, kami menuju Bukit Kingkong untuk berburu foto star trail dari meteor-meteor yang muncul di sana. Nah, berhubung Kue Lapis nggak bisa memotret star trail, Kue Lapis pun hanya menjadi tim hore yang menonton meteor-meteor cantik berjatuhan serta bintang-bintang berkelip sambil mendengar lagu-lagu yang diputar dari ponsel. Di tengah malam yang dingin, ternyata Kue Lapis nggak bisa bertahan dengan udara dingin meskipun pakaian serta aksesoris yang dikenakannya sudah berlapis-lapis. Untuk bisa bertahan, Kue Lapis akhirnya dipinjamkan sarung tangan dan sarung dari Mas Widhi Bek serta baff dari Mas Yudhie Fardhani. Beruntung, Kue Lapis bisa bertahan sedikit lebih lama. 😛

Hunting foto star trail pun dimulai!

Hunting foto star trail pun dimulai!




Malam itu, langit Bukit Kingkong  begitu cantik, bintang bertaburan dan meteor terus berjatuhan. Meski Kue Lapis harus menggigil terus-menerus dan gemetaran karena cuaca begitu dingin, pemburuan star trail malam itu pun berhasil. Untuk menunjukkan hasilnya di postingan ini, Kue Lapis pun meminjam foto star trail karya Mas Yudhie yang begitu cantik. Fotonya bisa kamu lihat di bagian teratas postingan ini. 😀

Berfoto bareng di tengah gelapnya malam sambil menunggu matahari terbit

Berfoto bareng di tengah gelapnya malam sambil menunggu matahari terbit. Saya tembem banget, ya! :’)

Setelah berburu foto star trail, kelompok Kingkong Baper pun bertahan di Bukit Kingkong untuk menunggu matahari terbit. Pukul 3, pukul 4, pukul 5… Semakin lama, semakin banyak pengunjung yang datang ke Bukit Kingkong untuk melihat matahari terbit. Perlahan tapi pasti, ciptaan Tuhan kesukaan Kue Lapis, yaitu matahari, pun terbit. Muncul pelan-pelan, ia seakan tersipu malu karena ada ratusan atau bahkan ribuan orang yang tengah menunggunya terbit di TNBTS. Kue Lapis sendiri nggak pernah berhenti terkesima setiap kali melihat matahari terbit. Cantik sekali. 🙂

Matahari terbitnya hampir muncul! (1)

Matahari hampir terbit! (1)

Matahari terbitnya hampir muncul! (2)

Matahari hampir terbit! (2)

Akhirnya matahari terbitnya muncul! (1)

Akhirnya matahari terbit! (1)

Akhirnya matahari terbitnya muncul! (2)

Akhirnya matahari terbit! (2)

Selain kami, ini dia para wisatawan (lokal dan mancanegara) yang juga turut menunggu matahari terbit.

Selain kami, para wisatawan (lokal dan mancanegara) lain juga turut melihat matahari terbit.

Jujur saja, dari malam hingga pagi itu, Kue Lapis amat mengantuk dan lelah, tapi semuanya terbayar karena pemandangan yang amat cantik dan menakjubkan. Selain melihat star trail, meteor-meteor, bintang-bintang, serta matahari terbit, Kue Lapis pun juga bisa melihat Gunung Bromo yang begitu gagah tepat di bawah langit biru yang luas. Seperti yang kamu lihat pada dua foto di bawah ini, Gunung Bromo pun mengembuskan asap tebal dan kebetulan saat itu statusnya tengah siaga. Mungkin terdengar berbahaya, tapi Gunung Bromo nggak henti-hentinya menebar pesona.

Cantiknya Gunung Bromo! (1)

Cantiknya Gunung Bromo! (1)

Cantiknya Gunung Bromo! (2)

Cantiknya Gunung Bromo! (2)

Pemandangan ke bawah dari atas Bukit Kingkong nggak kalah cantik, ya! ^^

Pemandangan ke bawah dari atas Bukit Kingkong nggak kalah cantik, ya! ^^

Saya sungguh beruntung bisa kembali menjelajah Bromo bersama rombongan Social Media Trip and Gathering, apalagi, saya juga belum pernah menjelajah Bukit Kingkong. Dari bintang hingga Gunung Bromo, segalanya bisa saya lihat bersama teman-teman perjalanan baru yang begitu menyenangkan. Terima kasih Mas Widhi Bek, Mas Yudhie Fardhani, Satya, dan Yuki. 😀

Berkunjung ke TNBTS, khususnya Bukit Kingkong, akhirnya kembali menyadarkan saya bahwa keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Saya bangga menjadi warga Indonesia. 🙂

Nah, sebelum pulang, mari berfoto lagi!

Nah, sebelum pulang, mari berfoto lagi!

Mas Yudhie dan saya. Salah satu teman perjalanan favorit!

Mas Yudhie dan saya. Salah satu teman perjalanan favorit!

Sefin si kue lapis. - Foto: Widhi Bek

Sefin si kue lapis. – Foto: Widhi Bek

Terima kasih, Mas Widhi Bek untuk fotonya!

Terima kasih, Mas Widhi Bek untuk fotonya!

Sampai jumpa lagi, TNBTS, khususnya Bukit Kingkong! 😀

Oh iya, kalau kamu capek baca kata “Kue Lapis” di postingan ini, sejujurnya, saya juga capek menuliskannya. Hehehe… 😛

Postingan ini merupakan catatan perjalanan Social Media Trip and Gathering bersama Kemenpar yang berlangsung pada 8-23 November 2015. Ada 7 postingan yang bisa kamu baca:

  1. Tentang Kelagian dan Pak Sami
  2. Pertama Datang ke Semarang dan Menghitung Lawang
  3. Kue Lapis, Meteor, dan Matahari Terbit di Bukit Kingkong -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  4. Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok
  5. Berjumpa dengan Komodo di Pulaunya
  6. Menemukan Rumah Baru di Kampung Cecer
  7. Menonton Pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu



You Might Also Like

14 Comments

  • Reply
    Goenrock
    11 December 2015 at 2:09 pm

    Kue lapisnya legit nggak? :)) Aku malah belum pernah ke Bromo sama sekali. Ciyan.

    • Reply
      admin
      11 December 2015 at 2:26 pm

      HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA kirain komen apa. Ah, Mas Goen. 😛 Kelihatannya legit nggak? Yaudah yuk, ke Bromo yuk! 😀

    • Reply
      UdheyThea
      11 December 2015 at 5:09 pm

      Om Goen, kue lapis senyumnya gurih…

      • Reply
        admin
        11 December 2015 at 9:49 pm

        Aduuuuuuh. *tutup muka*

  • Reply
    Satya Winnie Sidabutar
    12 December 2015 at 7:32 am

    Aku belum masukin foto-foto kece kita di Bromo tuh. Masih yang ada di kamera aja. Padahal udah difotoin cakep-cakep sama Mas Bek yaaaa 😀 Ayo kita jadi kue lapis lagi :p

    • Reply
      admin
      13 December 2015 at 4:31 pm

      Ahahahaha oh iya ada yang di GoPro, ya~ Kapan deh ke Bromo lagi nanti aku siapin diri pake baju super tebal. :”)

  • Reply
    Timothy W Pawiro
    15 December 2015 at 3:41 am

    Abis ini usaha kue lapiskah? hehehe …

    Itu pasti yg foto pake alas pagar, si Yuki deh … 😀

    Fotonya apik2 banget … Dulu ke Bromo udah lama banget, jadi ga begitu inget wujud keindahannya seperti apa … Mesti berkunjung lagi deh 🙂

    • Reply
      admin
      15 December 2015 at 7:08 pm

      Huahahahahahaha nggak sih, tapi sepertinya bisa dipertimbangkan. 😀 Foto yg pake alas pagar bukan Yuki, tapi Satya atau Tides gitu..lupa-lupa ingat. Yuk, ke Bromo lagi, yuk! Aku juga kurang puas ke Bromo kemarin. Sepertinya asyik berburu sunrise dan bintang beberapa malam di sana. 🙂

  • Reply
    Dita
    16 December 2015 at 7:46 am

    yampuuuun kirain si kue lapis pake hijab ngahahaha 😛 *dijitak*

    • Reply
      admin
      17 December 2015 at 6:48 pm

      wkwkwk duh. kalo kue lapis pake hijab beneran, nanti dia makin pusing sama antrean. huahahahahaha

  • Reply
    bukanrastaman
    18 December 2015 at 2:09 pm

    salam kenal kak…

    indah sekali fotonya

    • Reply
      admin
      19 December 2015 at 12:15 am

      Salam kenal juga..terima kasih sudah mampir. 🙂

  • Reply
    indri juwono
    22 December 2015 at 11:35 am

    si kue lapis ucu anet, jadi pengen dicemil.
    aku nggak pengen ke bromo lagi, nanti jadi pengen ke Semeru, yang tampak gemilang di belakang Bromo.
    aahh, belum ke Semeru ini, walo sebenernya cuma pengen ke Ranukumbolo aja.

    • Reply
      admin
      22 December 2015 at 11:18 pm

      huahahahaha maacih dibilang lucu, Kak. :*
      aku mah belum pernah naik gunung jadi ke mana aja pingin hihi..agak takut kedinginan sebenernya. :”)
      yuk kapan kita ke mana?

    Leave a Reply