Sulawesi Travel

Huh-Hah di Pasar Tomohon

Burung KasuariBurung kasuari milik tetangga

“Eeeh… Itu bukannya burung kasuari?”

“Iya, Kak. Itu burung kasuari punya tetangga sini. Dan kayaknya burung itu mau pulang ke rumah majikannya…”

Meski bingung, aku toh akhirnya mengangguk-angguk. Pagi itu bukan pagi biasa, pagi itu bangun di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang berada tepat di antara Gunung Mahawu dan Gunung Lokon. Pagi yang dingin dan matahari yang menyilaukan mata menyambut kami.

~




Tepat dua tahun yang lalu, aku dan dua partner menulis, yaitu Kak TJ dan Kak Mikha, melancong ke Tomohon dan Manado untuk riset novel pertama kami yang berjudul Tiga Burung Kecil (sekaligus berlibur). Pada perjalanan yang berlangsung selama tiga hari dan dua malam, pengalaman berkunjung ke Pasar Beriman Tomohon atau yang biasa disebut Pasar Tomohon, menjadi salah satu pengalaman yang paling nggak bisa dilupakan.

Sekitar pukul 07.30, aku, Kak TJ, Tante penjaga rumah keluarga Kak Mikha di Tomohon (maaf banget, aku lupa nama si Tante), beserta anaknya, Vanessa—yang wajahnya selalu mengingatkan aku pada karakter Disney, Mulan—berangkat dari rumah menuju Pasar Tomohon. Kak Mikha sendiri sebagai pemilik rumah, nggak ikut karena harus menjemput adiknya.

Jarak dari rumah ke Pasar Tomohon nggak begitu jauh, sekitar 10 menit dengan angkot, namun kami harus berjalan kaki terlebih dahulu untuk bisa ‘bertemu’ dengan angkot.

Nah, di tengah perjalanan kaki kami tersebutlah, kami tanpa sengaja bertemu dengan seekor burung kasuari milik tetangga. Karena (aku) sedikit takut, kami pun berjalan pelan-pelan di belakang si burung kasuari, hingga burung tersebut belok ke kanan dan pulang ke rumah majikannya.

~

Aku mendongakkan kepala. Tiba-tiba lagu “Balonku” milik Sherina terngiang di kepala, “Langit biru… Awan putih… Terbentang indah, lukisan Yang Kuasa…”

Pasar Beriman TomohonSuasana pagi di depan Pasar Beriman Tomohon

Hari yang cerah selalu menyenangkan. Pasar Tomohon pagi itu begitu padat dikunjungi para tante dan kakak-kakak yang mau membeli kebutuhan dapur dan rumah tangga. Sebagai turis (yang sering dikira orang Manado), aku pun nggak sabar untuk segera masuk dan melihat ‘keajaiban’ pasar yang selama ini sering diperbincangkan orang-orang.

“Mau makan apa nanti, Kak?” tanya Tante.

Berjalan di samping Vanessa, anaknya, aku menelan ludah dan mulai melongo melihat sekeliling. “Ah, makan apa, ya?”

“Kakak-kakak boleh makan ikan babi kah?” tanyanya lagi. Kak TJ menggeleng sementara aku mengangguk. “Atau mau makan ikan paniki?”

Aku mengernyitkan dahi. “Hah? Ikan? Hah? Paniki? Apa itu, Tante?”

“Ikan itu maksudnya daging… Paniki itu kelelawar…”

Mulutku membulat dan langsung bergumam, “Ooh…”Aku sedikit kaget begitu ditawari makan daging kelelawar.

“Atau mau lihat-lihat dulu?”

“Lihat-lihat dulu, deh, kayaknya…”

Setapak demi setapak, kami berjalan. Bagian yang menjual daging-dagingan atau ikan-ikanan, kami tuju pertama.

Ayam di Pasar Tomohon

Ikan Asap dan Ikan Asin di Pasar Tomohon
Ikan Roa di Pasar TomohonDari atas ke bawah: Ayam, ikan asap, ikan asin, dan ikan roa ( yang biasa dibuat sambal) di Pasar Tomohon

Aku melihat ayam. Aku melihat ikan (beneran). Aku melihat babi, babi yang utuh. Belum pernah aku melihat babi sebesar itu di depan mata… tapi pemandangan itu masih biasa. Lalu aku melihat kelelawar. Glek. Ular. Aku bahkan berfoto di depan daging ular yang bersimbah darah bersama si cantik Vanessa. Lalu tikus. Dan anjing.

Babi di Pasar TomohonTikus dan Ular di Pasar TomohonDari atas ke bawah: Babi, tikus, dan ular di Pasar Tomohon

Anjing-anjing yang dijual ada yang masih hidup, ada pula yang sudah dibakar. Sebagai seseorang yang takut anjing (karena pernah digigit waktu TK), aku tetap nggak tega melihat anjing-anjing itu, apalagi banyak sahabatku yang memelihara anjing-anjing lucu (yang jarang berani kupegang).

Anjing-anjing yang masih hidup dikurung di dalam kandang. Wajah mereka begitu sayu dan tubuh mereka begitu kotor. Penjerat dan pemukul yang digunakan untuk ‘mematikan’ anjing diletakkan di atas kandang, sementara si penjagal berdiri tepat di samping kandang. Anjing-anjing yang sudah dibakar dan siap dipotong untuk dibawa pulang pembeli, dipajang di kios-kios. Mulut mereka ternganga, tubuh mereka begitu hitam dan kaku. Aku merinding. Kak TJ yang nggak tahan melihat pemandangan tersebut pun memutuskan untuk keluar dari bagian daging-dagingan dan mencari udara segar. Aku bertahan dan terus berjalan bersama Tante dan Vanessa.

Anjing di Pasar TomohonAnjing di Pasar Tomohon

Nggak lama kemudian, aku melihat babi yang ‘fresh from the oven’, tiba. Babi yang sudah mati itu dibonceng oleh penjualnya untuk segera dipindahkan ke kios. “Jadi, bagaimana, Kak? Apa mau coba makan ikan paniki?”

Karena penasaran, aku pun mengangguk. Kami membeli paniki yang dibanderol seharga tiga puluh ribu rupiah. Paniki tersebut dipotong-potong terlebih dahulu, sebelum akhirnya dibawa pulang. Meskipun aku setuju untuk membeli daging paniki, aku ingat bagaimana begitu kami tiba di rumah Kak Mikha, paniki yang sudah dimasak nggak berhasil juga kumakan karena geli. Aku hanya berhasil mengunyah sayapnya yang kutelan dengan susah payah.

“Tante, di sini kan ada yang jual anjing… Apa di sini juga jual kucing kah?”

“Dijual, Kak. Tapi kayaknya hari ini nggak ada,” jawab Tante santai.

“Errr… biasanya dijual dengan harga berapa?”

“Sekitar seratus ribu per ekor…” Tiba-tiba aku ingat kucing liar yang sering berkeliaran di kantin kampus. Meskipun terkadang sebal karena kucing-kucing tersebut kerap mengganggu, bahkan mengambil makanan orang-orang, aku langsung bergidik ngeri membayangkan mereka dimakan oleh manusia.

“Tante, aku mau lihat-lihat sayur, dong,” ujarku kepada Tante, supaya bisa cepat-cepat kabur dari bau darah dan amis yang menyelimuti pojok daging-dagingan di Pasar Tomohon.

~

Begitu kami tiba di bagian sayur dan buah di Pasar Tomohon, aku begitu girang. Sayur-mayur dan buah-buahan yang dijual tampak begitu segar. Mereka langsung mengingatkanku pada sayur dan buah organik yang biasa Mama beli. Bahkan, aku melihat buah pepaya yang besarnya melebihi kepala manusia!

Sayur dan Buah di Pasar TomohonSayur Mayur di Pasar TomohonDari atas ke bawah: berbagai macam sayur dan buah yang dijual di Pasar Tomohon, juga Kak TJ (yang mengalungkan kamera)

Kami berkeliling. Kak TJ kali ini ikut, setelah menghirup udara segar sejenak. Aku melihat seorang om yang menjual daun pakis. Dengan jaket kulit hitam dan rambut ala Bruce Lee, ia yang tengah memotong daun pakis dengan cepat, langsung menengok dan tersenyum begitu aku mau memotretnya. Tenang… Kalian nggak perlu takut ia terluka karena ia begitu mahir memotong daun pakis, sehingga dipotret sama sekali tidak memecah konsentrasinya untuk memotong dengan benda tajam. Keren, kan? 😀

IMG_008601Om Bruce Lee di Pasar Tomohon 😛

Lalu aku melihat seorang tante yang menjual potongan sayur-mayur berwarna-warni. Potongan-potongan tersebut siap dibawa pulang oleh para pembeli. Sayur-mayur tersebut dicampur berdasarkan jenis masakan yang umum dimasak oleh penduduk Tomohon. Aku bisa mengenali potongan kacang panjang dan tauge yang dicampur bersamaan, lalu campuran buncis, wortel, dan kentang yang siap menjadi bahan baku spring rolls.

IMG_006801

Sayur-mayur warna-warni di Pasar Tomohon

Krucuk. Krucuk. Perutku langsung berbunyi begitu membayangkan spring rolls.

IMG_011501

Tante dan Vanessa memilih tomat di Pasar Tomohon

Setelah menemani (dan bukannya membantu :P) Tante dan Vanessa memilih sayur-mayur untuk bahan baku makan siang, aku dan Kak TJ memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Aku girang bukan kepalang saat melihat bunga warna-warni. Who doesn’t fancy flowers? 🙂 Karena ‘gemas’, aku langsung minta bantuan Kak TJ untuk memotretku berpose di sebelah bunga-bunga. Andai saja aku tinggal dekat sini, bunga-bunga itu pasti sudah kuborong!

Bunga di Pasar TomohonBunga-bunga yang cantik di Pasar Tomohon 🙂

Tidak jauh dari kios bunga-bunga, akhirnya kami tiba di pintu keluar Pasar Tomohon. Kali ini perutku yang girang begitu melihat jajanan pasar yang dijual di dekat tempat ngetem angkot-angkot. Dari kue cucur, lemper, hingga panada isi tuna, glek… (Nulisnya aja bikin laper sendiri…), akhirnya kami borong untuk jadi cemilan di rumah Kak Mikha.

Penjual Kue Cucur di Pasar TomohonKios Jajanan di Pasar TomohonJajanan Pasar TomohonDari atas ke bawah: kue cucur dan aneka jajanan di Pasar Tomohon

Pasar Tomohon di bawah langit biru dan awan putih hari itu membawa kenangan tersendiri bagi aku dan Kak TJ. Dari bulu kuduk yang berdiri hingga wajah yang sumringah, Pasar Tomohon nggak membuatku kapok untuk balik lagi, terutama karena para pedagang dan pembeli di sana yang begitu ramah, juga suasana yang begitu lain dari pasar yang biasa kudatangi bersama Mama di dekat rumah.

Pengalaman bepergian memang nggak pernah bisa dibeli. 🙂



You Might Also Like

12 Comments

  • Reply
    mawi wijna
    29 June 2014 at 4:33 pm

    Foto di awal artikel ini menarik banget! Ada kasuari di tengah jalan. Di Indonesia pula! Hahaha, aku pikir cuma anjing, kucing, atau ayam aja yang bisa melenggang bebas di jalanan, ternyata ada kasuari juga toh, hahaha. Aneh dan unik! 😀
    Eh, itu Kasuari juga dijual di pasar Beriman ga Kak? Saya tertarik sama foto kakak yang menampilkan rajangan sayur-mayur warna-warni. Di pasar pulau Jawa kok saya nggak pernah nemu ya? Padahal sederhana lho dan memang menghemat waktu banget kalau buat masak lumpia atau bakwan. Nggak perlu merajang sayuran dulu.

    • Reply
      sefiiin
      29 June 2014 at 8:47 pm

      Hai! Terima kasih sudah membaca 🙂

      Soal burung kasuari, jujur saya juga kaget waktu pertama kali melihat burung besar itu di tengah jalan…tapi, sebagai burung yang memang langka, burung kasuari nggak dijual bebas di Pasar Tomohon, kok!

      Nah, soal rajangan sayur warna-warni, saya juga sempat bertanya-tanya, kok nggak ada yang jual di Pulau Jawa ya? Kalaupun ada paling yang kalengan/beku seperti yang berisi kacang polong, wortel, dan jagung. Kalo lain kali saya berkesempatan pergi ke Pasar Tomohon lagi, saya akan tanya Tantenya deh, kenapa sayurnya dijual dalam bentuk rajangan. :))

  • Reply
    viraindohoy
    2 July 2014 at 8:43 pm

    sefin, kamu masih imut banget di sini..! hihi..
    buset, itu ular masih berliuk2 gitu ya.. Pas gue ke sana udah kesiangan, jadi ularnya udah tinggal sepotong, pendek.. syukurlah, jadi nggak geli lihatnya 😛
    dan, setuju.. pengalaman jalan2 gak bisa dibeli.. mesti dijalani 😀

    • Reply
      sefiiin
      2 July 2014 at 8:50 pm

      Hihihi iya :’) aku masih 20 tahun waktu itu..lagi ndut-ndutnya dan rambut masih pendek :)))
      Ahahahaha iya ularnya gede banget kayak ular phyton gitu *sotoy*
      Eh, Kakak ke sananya kapan? Yg bikin nggak tahan sebenernya bau amis darahnya…ya, nggak, sih? :’)
      Hihi iyaaa pengalaman jalan-jalan nggak bisa dibeli..dan pengalaman tiap orang ke satu tempat yang aama pasti berbeda 😀

      • Reply
        viraindohoy
        2 July 2014 at 9:26 pm

        waktu itu yg aku lihat memang phyton, sih. mungkin sama dgn yg kamu lihat..

        • Reply
          sefiiin
          2 July 2014 at 9:40 pm

          Berarti memang phyton…gede banget, ya. Waktu itu aku sempet foto pedagangnya lagi ngalungin ular…eh, tapi fotonya terus hilang ._.

  • Reply
    herO Achilles
    5 July 2014 at 1:32 pm

    pasar tomohon..
    kwangen mborong daging2 hewan exotis.. :3
    sefiin kok nggak ada kera? biasanya adaa tuu.. 🙂

    • Reply
      sefiiin
      19 December 2014 at 8:43 am

      kemaren pas nggak ada kera, sih. Serem juga. Huhuhu…

  • Reply
    Lulu Wulandari
    12 December 2014 at 10:37 am

    pasar yang bikin mupeng untuk didatangi nih….
    😀

    • Reply
      sefiiin
      19 December 2014 at 8:41 am

      hihi ^^ silakan datang!

  • Reply
    ameliatanti
    28 October 2015 at 12:19 pm

    Ini pasar eksotis ya, sama seperti di Filipina gitu, segala macam daging ada!

    • Reply
      Sefin
      28 October 2015 at 1:01 pm

      bangeeet! :”) aku cuma berani nyicip panikinya aja~ yang lainnya nggak berani, euy

    Leave a Reply