Papua Travel

Cerita di Balik Keindahan Raja Ampat

Siapa sih, yang nggak kenal dengan Raja Ampat? Rumor tentang keindahannya pun sudah terdengar hingga ke banyak negara di benua-benua lain, sehingga nggaklah mengherankan bila jumlah turis dari luar negeri yang datang ke Raja Ampat setiap tahunnya terus meningkat. Meski demikian, nggak banyak warga Indonesia yang mau dan bisa berlibur ke Raja Ampat. Salah satu alasannya adalah karena masalah biaya. Dan sebagai seorang warga Indonesia yang sudah pernah mengunjungi Raja Ampat secara cuma-cuma, saya merasa sangat maklum akan alasan tersebut. Pergi ke Raja Ampat memang nggak murah, tapi kamu pasti akan mengerti alasannya bila kamu sudah pernah datang ke sana. Seenggaknya, untuk satu kali saja.

Dua tahun lalu, ketika saya mendapatkan kabar bahwa saya dapat berangkat ke Raja Ampat secara cuma-cuma dalam membawa sebuah misi konservasi, saya tentu girang bukan main. Saat itu, saya merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia karena saya akan dapat melihat langsung keindahan Raja Ampat dengan mata kepala saya sendiri.

Menghabiskan delapan hari di Raja Ampat pada akhirnya membuat saya tahu bahwa keindahannya bukanlah rumor belaka. Dan nggak hanya itu, Raja Ampat memiliki segudang cerita yang membuatnya pantas disebut sebagai Mahakarya Indonesia.

Ketika orang-orang mendengar nama Raja Ampat, yang sering muncul dalam benak mereka adalah keindahan lautnya yang amat luar biasa. Bahkan, banyak juga yang menyebut Raja Ampat sebagai “Amazon of the Sea” karena keanekaragaman hayati bawah lautnya yang begitu kaya. Akan tetapi, nggak banyak orang yang tahu bahwa salah satu jiwa Indonesia, yaitu nilai gotong royong, adalah penjaga laut Raja Ampat yang paling berjasa.

Nemo alias ikan badut di pesisir pantai Wayag, Raja Ampat.

Nemo alias ikan badut di pesisir Pantai Wayag, Raja Ampat.




Menjaga laut Raja Ampat yang begitu luas tentu bukanlah perkara mudah. Nggak ada pihak yang bisa bekerja sendiri-sendiri. Peraturan dilarang memancing sembarangan mungkin bisa dibuat, tapi bila nggak ada yang melaksanakan, buat apa? Begitu juga dengan usaha menjaga kawasan konservasi yang biasa dilakukan LSM swasta di sana, bila masyarakat sekitar masih sering bandel dan memancing sembarangan, usaha tersebut toh akan sia-sia.

Dalam perjalanan ke Raja Ampat tersebut lah, akhirnya saya melihat langsung bagaimana pemerintah lokal, LSM swasta, investor asing, dan masyarakat setempat bergotong royong untuk menjaga laut Raja Ampat. Untuk sebuah daerah yang biasa menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) seharga 18.000 rupiah per liter, menjaga laut Raja Ampat memakan biaya dan tenaga yang nggak sedikit.

Berawal dari pemerintah lokal yang bekerja sama dengan LSM swasta untuk menetapkan Peraturan Daerah “Larangan Penangkapan Hiu, Pari Manta, dan Jenis Ikan-ikan Tertentu di Perairan Laut Raja Ampat” di tahun 2012, langkah untuk menjaga keindahan Raja Ampat pun dimulai. Membuat peraturan tentu merupakan perkara mudah, tapi menegakannya memerlukan strategi yang tepat.

Perda Perlindungan Hiu dan Biota Laut Lainnya.

Perda Perlindungan Hiu dan Biota Laut Lainnya.

Setelah peraturan ditetapkan, investor asing pun mulai ‘beraksi’ supaya peraturan tersebut dapat terlaksana dengan baik, yaitu dengan membangun resort mewah di kawasan Raja Ampat untuk menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi penduduk lokal, terutama bagi mereka yang biasa menangkap spesies-spesies terlindungi sebagai sumber pendapatan. Dan nggak hanya itu, para investor asing juga turut membantu penduduk lokal dalam membangun homestay harga backpacker, serta membuat kerajinan tangan untuk dijual sebagai cinderamata bagi para turis yang datang ke Raja Ampat. Langkah tersebut pun akhirnya membuat penduduk lokal menjadi lebih sadar bahwa mereka harus terus menjaga laut Raja Ampat supaya tetap bersih dan indah. Dengan begitu, pariwisata di Raja Ampat pun akan menjadi semakin maju dan mereka juga bisa memperoleh pendapatan yang layak.

Mama-mama pembuat souvenir di Raja Ampat.

Mama-mama pembuat souvenir di Raja Ampat.

Lalu, apakah langkah menjaga keindahan Raja Ampat berhenti sampai di situ saja? Tentu saja nggak. Setelah LSM swasta turut membantu pemerintah lokal dalam menetapkan peraturan larang tangkap dan perlindungan biota laut, LSM bertugas untuk terus menjaga kawasan konservasi Raja Ampat dengan rutin melakukan monitoring dan patroli. Kedengarannya mungkin sepele, tapi melakukan dua kegiatan ini merupakan hal yang sulit. Apalagi, masih ada banyak sekali pihak-pihak yang bandel dan menerobos kawasan konservasi untuk memancing sembarangan.

Salah satu hiu di kawasan monitoring di Raja Ampat.

Salah satu hiu di kawasan monitoring di Raja Ampat.

Jujur saja, setiap kali saya mengingat pengalaman ini, saya selalu merinding karena menjaga laut Raja Ampat yang begitu luas sama sekali nggak mudah, tapi semua pihak dapat bergotong royong dan bahu-membahu dalam mempertahankan keindahan Raja Ampat. Di daerah yang begitu terpencil, dimana listrik hanya akan menyala di saat langit mulai gelap dan pendidikan masih sulit dijangkau, saya bisa melihat bagaimana toleransi dan solidaritas dijunjung demi menjaga keindahan alam.

Cerita ini saya tulis bagi mereka yang masih bertanya-tanya kenapa Raja Ampat begitu indah dan mahal, yaitu karena nilai gotong royong ada di baliknya. Raja Ampat adalah Mahakarya Indonesia yang sesungguhnya—seenggaknya, bagi saya.



You Might Also Like

6 Comments

  • Reply
    Parahita Satiti
    25 June 2015 at 3:53 pm

    Aaakk.. baca ini bikin makin pengen ke Raja Ampat, Fin! Semoga, suatu hari nanti… 🙂

    Good luck ikutan lomba #MahakaryaIndonesia -nya yaaa!

    • Reply
      sefiiin
      25 June 2015 at 5:50 pm

      😀 semoga ya Tiiiiiii 😘 thank youuu yaaa udah mampir dan baca! ^^

  • Reply
    cumilebay.com
    1 July 2015 at 1:40 pm

    Yuk gotong royong beliin tiket mas cumi ke R4 yaaa hahaha.
    Keren yaaa R4 ini, gw mau berenang ama hiu2 nya

    • Reply
      sefiiin
      1 July 2015 at 3:04 pm

      Yuk yuk~ kita bikin #CumiLebayR4 gitu..kalo perlu bikin crowdfunding, Kak!
      Dan oh yes, banyak banget hiu di R4! Bisa berenang sama mereka sepuasnyaaah!

  • Reply
    Nobel November Hasibuan
    20 August 2015 at 6:54 am

    Kereeennnn… Bagus sekali tulisan ini, tentunya Lokasi Konservasi Alam Raja Ampat nya juga lebih indah dari gambaran ini. Semoga bisa terjaga keindahannya sampai selama yang tidak terkirakan. Kesadaran dan rasa syukur atas nikmatNYA akan memberikan setiap orang yang datang berkunjung, baik itu LSM Swasta dan para Investor juga penduduk lokal disana akan mempertahankannya dan menjadi aset yang tiada ternilai harganya.

    Sukses Banyak Mbak Sefin. Tulisan yang bagus.

    Cheers,
    Nobel November Hasibuan

    • Reply
      sefiiin
      20 August 2015 at 9:05 am

      Hai, Pak Nobel. Apa kabar? Terima kasih banyak sudah mampir ke blog dan membaca postingan ini. 🙂 Amiiin. Semoga Raja Ampat tetap cantik dan terjaga. Kalau ada kesempatan, main-main ke sana saja, Pak. 😀

    Leave a Reply