Bali and Nusa Tenggara Travel

Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok

Saya bisa bilang bahwa saya cukup beruntung karena bisa menjadi peserta rombongan Social Media Trip and Gathering yang diadakan oleh Kemenpar pada November 2015 lalu. Bagaimana nggak, dari begitu banyak destinasi wisata yang hendak dikunjungi, yang mayoritasnya merupakan destinasi wisata mainstream, justru banyak yang belum pernah saya kunjungi. Seperti halnya Bandar Lampung dan Kota Semarang yang belum pernah saya jelajahi, akhirnya saya berkesempatan untuk menjelajah Lombok! Senangnyaaa!!!

Seperti waktu ke Bandar Lampung dan Kota Semarang, ada banyak sekali destinasi wisata yang kami kunjungi saat ke Lombok. Nggak hanya mengunjungi Gili Trawangan yang tersohor, kami pun mengunjungi beberapa desa budaya. Jika ditanya desa mana yang menjadi favorit saya, saya pun akan menjawab Desa Sukarara atau yang biasa disebut Desa Sukerare dalam logat Lombok. Meski demikian, bukan berarti desa-desa budaya lain nggak menarik, ya. 🙂 Yang membedakan kunjungan kami ke Desa Sukarara yang berada diKecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah ini, dengan desa-desa lainnya adalah para peserta boleh terjun langsung untuk belajar menenun di Desa Sukarara, terutama para peserta perempuan. 🙂

Begitu tiba di Desa Sukarara, kami pun disambut oleh sebuah Bale atau rumah adat khas Suku Sasak, penduduk asli Lombok. Nggak jauh dari Bale, kami melihat empat orang perempuan Sasak yang tengah menenun dengan pakaian adat tradisional Suku Sasak. Tengah menenun sambil sesekali menyunggingkan senyum, para penenun tersebut pun menawarkan kami untuk mencoba menenun. Tanpa ragu, saya, Yuki, dan beberapa peserta lain langsung belajar menenun! 😀

Bale, rumah adat Suku Sasak yang ada di Desa Sukarare.

Bale, rumah adat Suku Sasak yang ada di Desa Sukarare.

Yuki tengah belajar menenun.

Yuki tengah belajar menenun.




Jujur saja, saya bukan tipe perempuan yang telaten dan pandai membuat kerajinan tangan, jadi saya sangat gugup ketika belajar menenun di Desa Sukarara. Meski begitu, saya tetap berusaha tenang sambil mendengarkan instruksi tentang cara menenun yang benar. Menghentakkan gulungan tenun dengan sekuat tenaga dan memasukkan benang sesuai warna adalah dua kunci utama menenun. Memang terdengar mudah, tapi kalau kita sendiri nggak sabar dan nggak teliti, hasil tenunnya akan gagal. 🙁 Beruntung, saya sempat belajar menenun hingga dua kali. Hehehe…

Oh iya, sekadar informasi, menurut tradisi dan adat-istiadat di Desa Sukarara, para perempuan baru boleh menikah jika sudah pandai menenun. Bahkan, saat hendak menikah, para perempuan di Desa Sukarara diwajibkan untuk memberikan seenggaknya satu helai tenun untuk calon suaminya. Akan tetapi, sekarang tradisi tersebut ternyata nggak sekuat dulu. Jadi, untuk bisa menikah, para perempuan nggak harus memberikan tenun untuk calon suami. Meski demikian, sejak usia belasan tahun, para anak perempuan di Desa Sukarara memang sudah terbiasa belajar menenun. Nggak hanya untuk melanjutkan tradisi serta adat-istiadat, tapi dengan menenun, mereka juga bisa menambah penghasilan sehari-hari.

Nah, saya sendiri, setelah belajar menenun hingga dua kali, apakah saya sudah boleh menikah? (Eh, maaf.)

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (1) - Foto: Widhi Bek

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (1) – Foto: Widhi Bek

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (2) - Foto: Widhi Bek

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (2) – Foto: Widhi Bek

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (3) - Foto: Widhi Bek

Saya juga belajar menenun, lho. Seru banget! (3) – Foto: Widhi Bek

Selain menenun, di Desa Sukarara, kamu juga bisa belanja tenun. Harganya pun begitu bervariasi. Ada selendang kecil yang harganya hanya 50 ribu rupiah hingga tenun tebal yang harganya jutaan rupiah. Jika kamu nggak bawa uang tunai, di sini kamu bisa membayar dengan kartu debit, tapi ya sebaiknya siapkan uang tunai yang banyak saja biar aman–apalagi kalau kamu mau beli banyak. 😀

Saatnya berbelanja setelah menenun!

Saatnya berbelanja setelah menenun!

Tumpukan tenun yang dijual di Desa Sukarare. Hayooo... Mau beli yang mana? (1)

Tumpukan tenun yang dijual di Desa Sukarare. Hayooo… Mau beli yang mana? (1)

Tumpukan tenun yang dijual di Desa Sukarare. Hayooo... Mau beli yang mana? (2)

Tumpukan tenun yang dijual di Desa Sukarare. Hayooo… Mau beli yang mana? (2)

Nggak puas hanya dengan belajar menenun hingga dua kali di Desa Sukarara, akhirnya saya pun membawa pulang selembar taplak meja untuk Mama di rumah serta satu selendang kecil untuk kenang-kenangan. Lagi-lagi, berkunjung ke Desa Sukarara menyadarkan saya bahwa keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Lombok memiliki banyak sekali destinasi wisata alam yang begitu cantik, terutama pantai-pantainya. Nggak hanya wisata alam, ada banyak sekali destinasi wisata budaya yang bisa kamu kunjungi di Lombok. 🙂

Main ke Lombok, yuk! 😀

Postingan ini merupakan catatan perjalanan Social Media Trip and Gathering bersama Kemenpar yang berlangsung pada 8-23 November 2015. Ada 7 postingan yang bisa kamu baca:

  1. Tentang Kelagian dan Pak Sami
  2. Pertama Datang ke Semarang dan Menghitung Lawang
  3. Kue Lapis, Meteor, dan Matahari Terbit di Bukit Kingkong
  4. Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok -> Kamu sedang membaca postingan ini.
  5. Berjumpa dengan Komodo di Pulaunya
  6. Menemukan Rumah Baru di Kampung Cecer
  7. Menonton Pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu



You Might Also Like

7 Comments

  • Reply
    shabrina
    13 December 2015 at 4:15 pm

    wow bagus sekali sangat inspiratif

    • Reply
      admin
      13 December 2015 at 5:03 pm

      huahahahahaha komenmu, Shab. Terinsipirasi untuk belajar nenun dan menikah di Lombok, ya? 😛

  • Reply
    Enny Law
    17 December 2015 at 5:47 pm

    cantik2 yah hasil tenunannya

    • Reply
      admin
      17 December 2015 at 6:50 pm

      banget! pokoknya harus banget Mbak nyobain belajar nenun di sana. 🙂

  • Reply
    Timothy W Pawiro
    18 December 2015 at 1:20 am

    Wah dulu sempat ke sini … tapi tidak sampai belajar menenun sih … haha!

    Trus hasil tenunannya mana nih? :p

    • Reply
      admin
      19 December 2015 at 12:15 am

      Huahahahahaha kamu laki-laki jadi nggak wajib belajar menenun, Kak. Hihi…
      Ya ampun, sebulan cuma dapet 15cm tenun..jadi kebayang dong aku belajar 15 menit dapet berapa milimeter doang? :”)

  • Reply
    The journey magazine
    16 February 2016 at 8:21 am

    Dear Miss Josefine Yaputri,

    Salam hangat dari the journey magazine,

    Perkenalkan kami dari the journey magazine, majalah informasi dua bulanan pariwisata Indonesia berbahasa inggris yang berpusat di Bali dengan titik penyebaran yang luas kami memastikan wisatawan mendapat informasi yang tepat tentang indonesia.

    Kami tertarik dengan artikel anda tentang Belajar Menenun di Desa Sukarara Lombok

    http://www.senjamoktika.com/belajar-menenun-di-desa-sukarara-lombok/

    Kami berencana untuk mengangkatnya di The Journey

    Kami telah mencoba menghubungi melalui Facebook, namu belum ada jawaban.

    Jika Mba berkenan dapat menghubungi kami di info@thejourneymagz.com

    Terima kasih,

    Edo
    The journey magazine

  • Leave a Reply