Setiap kali mendengar kata “fotografi”, saya selalu membayangkan foto-foto yang bagus. Foto-foto yang bisa membuat orang betah melihatnya dalam waktu yang lama. Foto-foto tersebut dibuat dengan kerja keras dan saya selalu merasa belajar fotografi pasti sangat sulit. Selama ini, foto-foto pun hanya menjadi pelengkap dari tulisan saya, terutama postingan-postingan di blog, terutama karena saya merasa belum mampu menghasilkan foto-foto yang bagus. Akan tetapi, lama-kelamaan saya merasa harus belajar tentang fotografi. Segala sesuatu yang menarik secara visual sepertinya memang lebih mudah mendapat perhatian. Seperti kata orang, “Dari mata turun ke hati.

Jadilah, pada 24 Oktober 2015, tepat seminggu yang lalu, saya memenuhi undangan Kak Badai, untuk mengikuti salah satu rangkaian acara “SMESCO Netizen Vaganza 2015”, yaitu kelas fotografi. Berbekal kamera prosumer yang saya miliki, saya mengikuti kelas fotografi yang membahas dua materi menarik, yaitu Still Life Photography bersama Mbak Raiyani Muharramah dan Basic Lighting Photography bersama Mas Ditto Birawa. Sedikit jiper karena saya sama sekali nggak mengerti apapun soal fotografi, sementara para peserta lain sudah sangat familiar dengan berbagai istilah fotografi, ternyata kelas tersebut nggak semenegangkan yang saya kira.

Kak Buyan jadi MC cantik untuk kelas fotografi. :*
Kak Buyan jadi MC cantik untuk kelas fotografi. :*

Kelas fotografi pun dimulai dengan cuap-cuap dari Kak Buyan kesayangan yang menjadi MC hari itu. Bibir merahnya cukup menarik perhatian. Setelah itu, Mbak Raiyani langsung memberikan materi tentang Still Life Photography. Still Life Photography sendiri dimaksudkan untuk ‘menghidupkan’ benda-benda mati yang kamu potret. Mulai dari piring, gelas, kursi, hingga makanan, semuanya bisa terlihat begitu hidup asal kamu tahu bagaimana cara mengambil gambar yang benar.

Mbak Raiyani mengajar kelas "Still Life Photography".
Mbak Raiyani mengajar kelas “Still Life Photography”.

Di kelas tersebut, Mbak Raiyani menjelaskan bagaimana sudut pengambilan gambar, pemilihan sudut foto, serta jenis benda menjadi salah tiga faktor yang bisa membuat benda-benda mati terlihat lebih hidup dalam foto. Selain itu, diperlukan peralatan berupa studio mini (begitu saya menyebutnya) agar pengambilan gambar bisa lebih maksimal. Jika membeli perlengkapan yang sudah jadi, kita harus merogoh kocek kurang lebih 3 juta rupiah. Akan tetapi, bila kita membuat studio mini itu sendiri, kita hanya perlu merogoh kocek kurang dari 500 ribu rupiah. Yang kita perlukan hanyalah besi, lembaran akrilik, serta lampu neon. Murah banget, kan?

Oh iya, Mbak Raiyani juga sempat menambahkan beberapa hal penting yang bisa kamu praktekkan saat memotret benda diam. Pertama, kamu bisa meminta bantuan orang lain saat memotret benda diam supaya hasilnya lebih maksimal. Kedua, fokus menjadi salah satu hal terpenting dalam memotret benda diam. Ketiga, usahakan untuk selalu menampilkan detil saat memotret benda diam. Terakhir, tentu saja, sering-seringlah berlatih! Well, practice does make perfect, right?

Praktek kelas "Basic Lighting Photography" bersama Mas Ditto.
Praktek kelas “Basic Lighting Photography” bersama Mas Ditto.

Setelahnya, giliran Mas Ditto membawakan materi tentang Basic Lighting Photography. Sempat melewatkan presentasi teorinya selama beberapa menit karena harus mengisi perut bersama Titi, akhirnya praktek Basic Lighting Photography menjadi fokus utama saya. Selama praktek, kami belajar bahwa pencahayaan sangatlah penting dalam fotografi, terutama ketika kita memotret benda diam.

Dengan studio mini yang sudah tersedia untuk praktek, semua peserta (termasuk saya), dengan antusias memotret benda-benda diam yang sudah tersedia untuk latihan dengan berbagai kamera yang kami bawa, mulai dari kamera D-SLR, pocket, prosumer, hingga kamera ponsel. Dari tiga benda yang tersedia untuk dipotret, yaitu tempat pulpen berbentuk perahu dari Kalimantan Tengah, vas bunga kulit telur dari Sulawesi Tengah, serta koteka dari Papua. Dan tentu saja, koteka menjadi ‘primadona’ di sesi praktek kelas fotografi hari itu. Hihihi…

Kak Buyan kok girang banget ya lihat koteka? Hmm...
Kak Buyan kok girang banget ya lihat koteka? Hmm…
Vas bunga dari kulit telur yang berasal dari Sulawesi Selatan, menjadi objek berlatih Basic Lighting Photography.
Vas bunga dari kulit telur yang berasal dari Sulawesi Selatan, menjadi objek berlatih Basic Lighting Photography.

Usai kelas, para peserta diperbolehkan bertanya mengenai materi kelas fotografi. Yang bikin mupeng tentu hadiahnya, terutama karena ada USB Flash Disk berbentuk kamera Nikon yang begitu imut! Sayangnya, saya nggak bisa membawa pulang kamera Nikon (bohongan) imut tersebut karena saya nggak tahu harus nanya apa. :”)

Hadiah untuk para penanya di kelas fotografi. Lucu banget ya USB Flash Disk kamera nikonnya. :D
Hadiah untuk para penanya di kelas fotografi. Lucu banget ya USB Flash Disk kamera nikonnya!

Setelah sesi tanya-jawab, saatnya berkeliling SMESCO untuk cuci mata dan memotret benda-benda diam yang ada di paviliun-paviliun provinsi karena ada lomba foto yang hadiahnya begitu menarik! Berhubung saat itu merupakan kunjungan pertama saya ke SMESCO, saya pun langsung melipir ke UKM Gallery, tepat dijualnya barang-barang kece dari seluruh Indonesia. Di UKM Gallery, kamu bisa menjumpai berbagai jenis pakaian, mulai dari batik, tenun, hingga kaus. Selain itu, ada juga berbagai sepatu dan aksesoris cantik. Saya sendiri akhirnya membawa pulang sepasang flat shoes. 😀 Nggak hanya itu, di pintu keluar UKM Gallery, kamu juga bisa menjumpai berbagai camilan serta makanan khas daerah. Jika kamu suka segala sesuatu yang pedas, kamu pasti girang banget karena ada sambal-sambal botol dari berbagai daerah yang dijual di sana.

Pertama kalinya SMESCO dan girang banget lihat barang-barang yang ada di sana!
Pertama kalinya ke UKM Gallery-nya SMESCO dan girang banget lihat barang-barang cantik yang dijual di sana!
Banyak aksesoris cantik yang begitu menarik perhatian.
Banyak aksesoris cantik yang begitu menarik perhatian di UKM Gallery.
Titi dengan semangat memotret anting-antik cantik yang dijual.
Titi dengan semangat memotret anting-antik cantik yang dijual di UKM Gallery.
Nggak hanya pakaian, sepatu, dan aksesoris, di SMESCO juga dijual berbagai camilan khas daerah.
Nggak hanya pakaian, sepatu, dan aksesoris, di UKM Gallery juga dijual berbagai camilan khas daerah.

Setelah mampir ke UKM Gallery, saatnya memotret benda-benda diam yang ada di paviliun-paviliun provinsi. Tujuan pertama adalah lantai 12, kemudian melipir ke lantai 15. Sebagai pengunjung baru SMESCO, saya cukup takjub melihat paviliun-paviliun provinsi yang berbaris rapi dan komplet. Berbagai atribut khas provinsi tersedia di sana. Nggak hanya sekadar dipajang, benda-benda yang ada di sana pun bisa kamu beli untuk dibawa pulang!

Salah satu pajangan berupa patung orang menombak dari Maluku.
Salah satu pajangan berupa patung orang menombak dari Maluku.
Lorong di lantai 12. Seru banget, ya? :D
Lorong di lantai 12. Seru banget, ya? 😀
DSCF2363
Paviliun Betawi. Lucu banget, ya? ^^
DSCF2361
Kain-kain cantik di Paviliun Betawi.

Mampir ke SMESCO, khususnya ke UKM Gallery dan Paviliun Provinsi, akhirnya membuat saya semakin sadar bahwa Indonesia punya banyak hal yang bisa dibagi dengan dunia. Jika kamu selama ini nggak terlalu paham akan keragaman Indonesia, mampirlah ke SMESCO dan lihat langsung apa-apa saja yang dimiliki Indonesia. Jangan lupa untuk mendekap dompetmu juga ya, karena barang-barang di sana begitu menggoda untuk dibawa pulang. 😀 Dan tentunya, 24 Oktober 2015 tentu nggak akan menjadi kunjungan terakhir saya ke SMESCO.

‘Till then, SMESCO!

UKM Gallery dan Paviliun Provinsi (buka setiap hari dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam)

SME Tower
Jl. Jend Gatot Subroto kav 94, Jakarta Selatan, 12780
phone: +62 21 2753 5454
email: info@smescoindonesia.com
web: smescoindonesia.com

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.