Bagi saya, makan adalah salah satu kegiatan yang terpenting saat bepergian. Selain untuk menjaga stamina agar selama perjalanan tubuh bisa fit terus, makan adalah salah satu cara untuk mengenal suatu daerah saat bepergian. Terlebih saat bepergian keliling Indonesia, masing-masing masyarakatnya memiliki preferensi rasa yang paling pas di lidah mereka. Di Jogja, kamu akan menjumpai Gudeg yang manis. Sementara di Manado, hampir semua masakannya bercita rasa pedas. Akan tetapi, kalau kamu merasa sudah cukup mengenal Gudeg karena sudah pernah makan Gudeg yang dijual di Jakarta, begitu pula dengan masakan Manado yang dijual di Jakarta, kamu salah besar. Menurut saya, cara terbaik untuk mengenal makanan Indonesia adalah dengan mencicipi langsung di daerah asalnya.

Dan dari beberapa perjalanan yang telah saya lakukan, inilah daftar 10 makanan Indonesia yang wajib kamu cicipi di daerah asalnya versi saya:

1. Nasi Campur dari Singkawang, Kalimantan Barat

Meskipun namanya Nasi Campur, sebenarnya isinya nggak terlalu campur-campur. Oh iya, buat kamu yang nggak bisa atau nggak boleh makan daging babi, sayangnya Nasi Campur ini bahan utamanya adalah daging babi. Selain daging babi, di dalam Nasi Campur ini ada telur kecap dan irisan timun. Buat saya yang jarang makan daging babi di Jakarta, Nasi Campur di Singkawang ini enak sekali! Daging babi panggangnya berbeda dari yang lain, sangat garing! Ditambah lagi, daging merahnya manis banget! Nah, di Singkawang, kebanyakan menu Nasi Campur bisa kamu jumpai di rumah makan tua yang ada di pinggir jalan.

Nasi Campur dari Singkawang
Nasi Campur dari Singkawang

2. Nasi Kari dari Pontianak, Kalimantan Barat

Nasi Kari dari Pontianak ini berbeda sekali dengan Nasi Kare dari Jepang yang biasanya terdiri dari nasi putih yang di atasnya ditaburi dengan kare Jepang yang isinya potongan daging, wortel, dan kentang. Dalam menu Nasi Kari dari Pontianak, kamu akan menjumpai nasi (yaiyalah), kari ayam kentang, tumis kacang panjang, ayam goreng, udang asam manis, dan telur semur. Terkadang, menu Nasi Kari ini juga dilengkapi dengan terong asam yang dimasak santan dan acar timun yang menyegarkan lidah. Berhubung yang menjual Nasi Kari ini kebanyakan adalah orang Tionghoa, kadang kamu perlu tanya apakah Nasi Kari tersebut mengandung daging babi atau nggak. Terutama, untuk kamu yang nggak bisa atau nggak boleh makan daging babi. Yang jelas, buat saya, Nasi Kari ini enaaak banget! Dan saat saya berkunjung ke Pontianak, nggak cukup makan Nasi Kari cuma sekali!

Nasi Kari dari Pontianak
Nasi Kari dari Pontianak
Nasi Kari dari Pontianak
Nasi Kari dari Pontianak

3. Martabak Kari dari Palembang, Sumatera Selatan

Setelah ngomongin Nasi Kari, saatnya ngomongin Martabak Kari. MAKANAN INI ADALAH MAKANAN FAVORIT SAYA! (maap nggak santai) Buat saya, Martabak Kari adalah salah satu anugerah terbesar yang pernah hadir dalam hidup saya. Nggak pernah sekalipun saya menolak jika ditawari makan ini, terutama oleh saudara-saudari dari keluarga Mama yang mau main ke Jakarta dari Palembang. Isi dari Martabak Kari ini sendiri adalah telur dan daging yang dilapisi oleh kulit martabak, lalu digoreng kering. Setelah itu, martabak yang sudah digoreng dan dipotong-potong kemudian disajikan dengan kuah kari yang biasanya berisi kentang dan potongan daging. Supaya lebih nikmat, makan Martabak Kari ini sebaiknya ditemani dengan irisan cabai yang bentuk kuahnya seperti kecap asin, tapi rasanya asam. Martabak Kari yang terkenal di Palembang adalah Martabak Har, tapi kamu juga bisa menemukan Martabak Kari di banyak tempat di Palembang. WAJIB COBA!

Martabak Kari dari Palembang
Martabak Kari dari Palembang

4. Nasi Minyak dari Palembang, Sumatera Selatan

Nah, setelah kamu makan Martabak Kari di Palembang, kamu juga harus mencoba Nasi Minyak! Nasi Minyak ini agak mirip dengan Nasi Kebuli, tapi bedanya, Nasi Minyak dimasak dengan minyak samin dan susu sehingga menjadi lebih gurih. Biasanya, Nasi Minyak disajikan bareng dengan sambal nanas serta acar mentimun dan wortel. Selain itu, terkadang dimakan bersama gulai ayam atau rendang. Tiga tahun lalu, Nasi Minyak yang saya makan di Palembang disajikan bareng dengan Sate Pentol berisi daging ikan tenggiri yang agak mirip dengan Sate Lilit di Bali.

Nasi Minyak dari Palembang
Nasi Minyak dari Palembang

5. Bakso Ikan dari Pontianak, Kalimantan Barat

Sebenarnya, saya bukan orang yang suka sekali makan bakso, apalagi bakso ikan. Akan tetapi, menu Bakso Ikan adalah salah satu menu wajib yang patut kamu coba di Pontianak! Biasanya kan, Bakso Ikan lebih sering disajikan sebagai menu prasmanan kondangan di Jakarta, tapi kalau di Pontianak, ada banyak tempat yang menjual Bakso Ikan. Dalam semangkuk menu Bakso Ikan, biasanya ada irisan sayur, bakso ikan rebus, bakso ikan goreng, dan telur yang tengahnya biasa diisi dengan daging ikan. Yang membuat Bakso Ikan ini lebih nikmat lagi adalah minyak bawang putih yang membuat kuah bakso menjadi lebih harum dan menggugah selera.

Bakso Ikan dari Pontianak
Bakso Ikan dari Pontianak

6. Nyuknyang dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Saat bepergian ke Tana Toraja pada Agustus 2014, saya menobatkan Nyuknyang atau bakso (khas Sulawesi Selatan) sebagai salah satu makanan favorit. Sayangnya, lagi-lagi makanan yang saya rekomendasikan ini mengandung daging babi alias non-halal.

Sebelum saya melakukan perjalanan ke Tana Toraja, sejujurnya saya belum pernah makan bakso babi yang seenak ini. Saya ingat betul bagaimana saya dan teman-teman membagi satu porsi bertiga saat baru masuk rumah makan, tapi di tengah-tengah makan, kami memutuskan untuk makan satu mangkok lagi masing-masing karena Nyuknyang ini terlalu enak! Dalam semangkuk kuah Nyuknyang, kamu akan menjumpai nyuknyang rebus dan pangsit babi, yang biasanya disajikan terpisah dengan pangsit goreng dan nyuknyang goreng di mangkuk lain. Agar rasanya lebih segar, tambahkanlah jeruk nipis sebanyak mungkin. Waktu itu, sih, saya makan dengan lima potong jeruk nipis. Nyum!

Nyuknyang Babi dari Tana Toraja
Nyuknyang Babi dari Tana Toraja

7. Kapurung dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan

Selain Nyuknyang, di Tana Toraja, kamu juga wajib makan Kapurung! Banyak orang yang bilang kalau Kapurung ini mirip dengan Tinutuan atau Bubur Manado, tapi menurut saya, tampilannya justru lebih mirip dengan Sup Asparagus. Kapurung sendiri berisi potongan jagung, suwiran ikan cakalang, dan serta kangkung di dalam kuah yang kental. Supaya rasanya lebih segar, lagi-lagi sebaiknya ditambah dengan perasan jeruk nipis. Saya jamin, lidah kamu pasti langsung bergoyang!

Kapurung dari Tana Toraja
Kapurung dari Tana Toraja

8. Tipat Tahu dari Bali

Kebetulan, Tipat Tahu pertama yang saya makan di Bali berasal dari sebuah gerobak motor di Ubud. Sekilas, tampilannya memang mirip dengan Ketoprak. Bedanya, Tipat Tahu ini nggak ada bihunnya. Selain itu, Tipat Tahu disajikan dengan irisan cabai rawit dan saus kacang yang jauh lebih kental dari saus kacang Ketoprak. Harga Tipat Tahu yang waktu itu saya makan juga murah, hanya 7 ribu rupiah! Sudah murah, enak pula!

Tipat Tahu dari Bali
Tipat Tahu dari Bali

9. Sate Klathak dari Jogja

Jujur, saya nggak begitu doyan dengan daging kambing, tapi Sate Klathak ini benar-benar memanjakan lidah saya. Hanya ada dua tusuk untuk setiap porsinya dan disajikan bersama dengan kuah gulai, Sate Klathak ini awalnya membuat saya penasaran. Apalagi, tusuk yang digunakan dulunya adalah jari-jari sepeda yang terbuat dari besi, sehingga daging sate bisa matang dengan sempurna. Dan benar saja, waktu saya mencicipi Sate Klathak, saya jadi mulai doyan daging kambing! Tapi hati-hati, kamu mesti selalu ingat bahwa daging kambing ini kadar kolesterolnya sangat tinggi. Oh iya, Sate Klathak yang saya makan di bawah ini adalah Sate Klathak Pak Pong.

Sate Klathak dari Jogja
Sate Klathak dari Jogja

10. Ayam Geprek dari Jogja

Sekilas, mungkin bentuk Ayam Geprek ini kurang menarik karena terlihat berantakan. Tapi buat saya, Ayam Geprek termasuk salah satu menu wajib untuk mengisi perut saat berkunjung ke Jogja. Kebetulan, Ayam Geprek yang pernah saya makan adalah Ayam Geprek dari Tenda Biru Bu Made. Yang unik dari Ayam Geprek ini adalah ayam yang disajikan merupakan ayam goreng tepung yang ditumbuk bersama dengan cabainya. Kamu pun bisa memilih tingkat kepedasan Ayam Geprek dengan memilih jumlah cabai yang ingin kamu makan. Ayam Geprek ini begitu gurih dan pedas. Dan buat kamu yang tenggorokannya agak sensitif, sepertinya perlu agak berhati-hati.

Ayam Geprek dari Jogja
Ayam Geprek dari Jogja

Akhirnya, sudah 10 makanan saya bahas di tulisan ini. Sebenarnya, masih ada banyak lagi makanan Indonesia yang wajib kamu cicipi di daerah asalnya, tapi sejauh ini, segitu dulu, ya. Semoga tulisan saya nggak bikin kamu kelaparan, tapi malah bikin kamu tertarik untuk wisata kuliner ke Palembang, Jogja, Bali, Tana Toraja, Pontianak, dan Singkawang! Selamat makan-makan!

Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog 

29 comments

    1. Wahahaha masa, sih? *tutup muka* Padahal ada yang fotonya kuambil dari tiga tahun lalu ya, berarti dulu aku ke-masadepan-an, ya. *maksa* Mumpung di Palembang, jangan lupa makan Nasi Minyak sama Martabak Kari-nya, Kak! :*

    1. Hahahahaha lain kali aku aja makan, Mz. Tapi aku nggak kasih tau itu babi… Biar dosanya aku yg nanggung. #eh
      Btw elus-elus aja terus dada Mz Bolang kayaknya dia bakalan keenakan. 🙊

  1. wewwwww harus kuat… haruss kuaaat… harus kuat baca sampe akhir nih..
    itu nasi campur dari singkawang menggoda hehehe
    (tobat, abmil wudhu)
    selamat yak dah menang

    1. Ngahahahahha 🙈 yg agak haram pasti nikmat..yg haram sih pasti nikmat sekaleeee…kapan-kapan aku ajak makan deh tapi aku gak bilang itu daging apa. #eh

  2. Ayam gepreknya yang di belakang kampus FKH UGM, bukan? Saya pernah coba di sana karna gatau mau makan dimana waktu daftar di UGM, gataunya enak banget dan masuk list salah satu makanan harus dicoba ya

    1. Hai, Nia. Maaf ya, aku belum balas-balas kartu posmu lagi. Seingatku sih ini bukan yang di belakang UGM. “Ayam Geprek Bu Made” kalo nggak salah. Makanannya enak banget, sih. Meskipun bentuknya kurang menarik. Hihi :))

  3. nasi minyak di palembang sekarang agak susah ditemuin di warung-warung biasa. Paling gampang dapetnya di acara hajatan, soalnya biasa dijadiin menu wajib. Dan nasi minyak terbaik biasanya udah enak banget dimakan meski tanpa lauk 🙂

    1. setuju! nasi minyak polos aja udah enak banget, ya. dan bener sih, nyari nasi minyak di warung biasa agak susah. kalo ke Palembang, cari hajatan aja biar bisa dapet nasi minyak gratis. #eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.